Taste Of Blood

Taste Of Blood
13


__ADS_3

...Happy Reading...


.........


........


.......


Jam menunjukkan pukul 10 malam, sudah dua jam berlalu sejak kejadian yang membuatnya bertemu dengan pria ini terjadi.


Jocelyn tak tahu harus mengatakan apa dan keduanya hanya diam dalam keadaan yang canggung. Suasana bahkan terasa sangat membosankan.


"Jadi?, kau selamanya tidak akan memberitahuku apa yang terjadi padamu?"


Jocelyn mencoba mencari topik pembicaraan agar suasananya mencair, namun pada akhirnya ia malah membahas kembali masalah sebelumnya.


"Sepertinya ucapanku benar, tentang kau adalah orang yang tidak akan mendengarkan perkataanku dengan baik,"


Pria itu tersenyum sinis, dan suasana kembali menjadi canggung. Jocelyn memutar bola matanya malas, lalu kembali membuka topik pembicaraan yang lain.


"Orangmu, tampaknya butuh waktu lebih lama dari perkiraan untuk sampai disini,"


Jocelyn mencoba mengalihkan pembicaraan dengan mengatakan hal lainnya, ini juga sekaligus menyindir orang yang disuruh menjemput pria itu.


"Tidak butuh waktu lama, hanya saja aku yang menyuruh mereka untuk tidak terlalu cepat menjemputku,"


"Aku ingin menghabiskan waktu disini sedikit lebih lama lagi denganmu. Aku juga sedikit berpikir, why don't we hook-up for a moment? "


Pria itu berujar dengan santai, membuat Jocelyn menatapnya dengan tatapan kesal. Apa pria ini berpikir, Jocelyn akan hook-up dengan siapa saja yang ia temui?


"Hell no!, i have my own reason tho, for not hooking up with you!" Jocelyn menjawab dengan kesal.


Pria itu tertarik, bibirnya menampilkan smirk khas kepunyaan pria itu.


"Spill the tea," Pria itu berujar seraya menatap Jocelyn lama.


"First of all, we just met. Kedua, aku tidak tertarik dengan orang yang sedang terluka. Ketiga, i'm not gonna hook - up with a man that i don't trust. Dan terakhir, you not even that hot bro,"


Jocelyn menjawab dengan wajah meremehkan. Memperhatikan setiap inchi dari wajah sang pria hingga membuat sang pria tersenyum simpul.


"well, aku tertarik! and soon, i'll show you how hot i am!"

__ADS_1


Pria itu menjawab sekenanya dan suasana kembali menjadi canggung. Jocelyn kembali tak habis pikir dengan pria ini.


Sesaat kemudian terdengar suara bel yang dibunyikan, Jocelyn dengan sigap bangun dan membukakan pintu apartemennya begitu ia melihat orang yang mendatanginya.


"Kurasa orang jemputanmu sudah datang, Pria berpakaian jas itu orang - orangmu kan?" Tanyanya pada pria itu yang langsung dianggukinya.


Begitu selesai membukakan pintu, Jocelyn langsung membantu memapah pria itu untuk berjalan keluar menemui pria berjas yang sedang menunggunya di luar.


Setelah menyerahkan pria itu pada bawahannya, Jocelyn hendak menutup pintunya namun pria itu menahannya dengan tangan kekarnya.


"Apa ada yang tertinggal?" 


Semua pria ber jas itu memasang raut wajah terkejut, mereka masih tidak percaya wanita itu berani berbicara dengan santai pada pria itu.


"Aku belum tau namamu, kita belum berkenalan secara resmi,"


"Apa itu harus?"


"Kalau kau menolak, tidak masalah,"


"Yah, lagipula, it's not a big deal. Aku joe. Jocelyn Richards"


"Shawn. Shawn Adams"


Jocelyn tersenyum lalu menutup pintu apartemennya meninggalkan shawn dengan bawahannya yang masih memapahnya.


"Kau tau apa yang harus dilakukan bukan?. Aku ingin tahu semuanya tentang perempuan itu" ujarnya tak bisa dibantah.


...****************...


Pria itu sudah membunuh dua orang bawahannya sedari tadi malam, dan ini adalah pria ketiga yang sedang menjadi tempat pelampiasan amarahnya.


Amarahnya mereda ketika ia menembaki pria itu tanpa henti. Pria itu mengelap tangannya yang berlumuran darah dengan sapu tangan yang ia punya.


Pria ini adalah Jason Lewis, pikiran mengenai kematian sang kekasih masih sedikit menganggunya.


Sebenarnya ia tidak begitu peduli dengan hal itu, namun biar bagaimanapun wanita itu adalah orangnya dan ia tak bisa mengabaikan fakta itu begitu saja.


Setelah membersihkan badannya, Jason kembali ke kantor dan mulai kembali mengurus semua pekerjaan yang sempat tertunda.


Tetapi pikirannya tiba - tiba saja teralihkan dengan wajah yang tak sengaja dilihatnya kemarin. Ada perasaan tak asing dengan perempuan itu.

__ADS_1


Rasanya seperti sudah lama tak bertemu dan akhirnya mereka saling bertemu namun tak saling menyapa.


Pria itu terus terlarut dalam pikirannya sendiri, wanita yang dilihatnya itu jelas seperti seseorang. Dan entah kenapa hal ini terasa sangat mengganggu.


Padahal sudah tidak bertemu dan tak berkomunikasi sekian lama, tapi Jason masih tetap merindukan wanita itu.


Dan mungkin akan selamanya begitu.


Setelah menepis semua pikiran yang menganggunya jauh - jauh, ia akhirnya bisa kembali fokus pada hal yang sedang ia kerjakan.


Matahari sudah membumbung tinggi, pekerjaannya juga sudah selesai. Selain untuk menyelesaikan drug deals  nanti malam, tak ada lagi pekerjaan yang harus ia kerjakan sekarang.


Jason menatap arloji di tangannya lama, sudah waktunya makan siang. Tadinya ia berencana untuk makan siang dengan gadis yang baru ditemuinya.


Tetapi sepertinya ia ingin menghabiskan jam makan siangnya di cafe tempat wanita itu bekerja. Mungkin saja ia bisa bertemu dengannya kembali.


Sebenarnya mudah saja bagi Jason untuk menyuruh bawahannya mencarikan informasi mengenai wanita itu, namun ia tidak bisa mengambil resiko.


Ia tidak ingin kehilangan wanita itu untuk kedua kalinya, ia tidak ingin wanita itu membenci dirinya.


Dan tanpa sadar, ternyata kini ia telah berada di depan pintu cafe itu, hanya satu langkah sebelum ia akhirnya benar - benar memasuki cafe itu.


Tapi tiba - tiba saja keraguan datang menyapa, semua perasaan gelisah dan memori masa lalu kembali menghantui.


Ah, aku benci ini -Jason


Dengan segala keberanian yang ia punya, ia memasuki cafe itu, jika wanita itu adalah orang itu, dia akan mencoba memulainya dari awal kembali.


Jika ia gagal, setidaknya ia pernah mencoba. Karena biar bagaimanapun setiap langkah yang diambilnya butuh keberanian yang besar.


Seperti mengerti dengan perasaan gelisah yang ia alami, sebuah kata - kata terus terputar di dalam kepalanya, seolah sedang membantunya untuk tenang.


Setiap langkah yang diambil sangatlah berarti. Dan untuk mencapai setiap langkah itu dibutuhkan keberanian.


Yang menyebabkan kegagalan bukanlah ketidakmampuan, hanya saja kita yang terlalu takut untuk untuk mengambil langkah dan pada akhirnya yang kita lakukan hanyalah menghindarinya.


Dengan segenap keberanian yang ia punya, handle pintu itu ia buka dengan perasaan yang tidak karuan.


Begitu pintu terbuka, wajah penuh kenangan dengan segala memori terlihat jelas sedang menyapa pengunjung. Wajah yang selama ini selalu ia rindukan.


"Joe..."

__ADS_1


__ADS_2