
...Happy Reading...
.........
........
.......
Jocelyn tersenyum dan menyapa setiap pelanggan yang ia temui. Sikapnya yang periang membuatnya mudah disukai oleh rekan di tempatnya kerja.
Ia juga tidak pernah mengeluhkan pekerjaan yang ia lakukan, bahkan masih membantu karyawan lain apabila ada yang kesusahan.
Seperti yang baru saja ia lakukan, rekan kerja yang seharusnya bekerja pada shift ini harus ke rumah sakit untuk menemani adiknya yang sedang sakit.
Dan sekarang Jocelyn menggantikan shift kerja temannya itu, namun untuk beberapa alasan, ia tidak merasa terbebani sama sekali.
Pintu terbuka, membunyikan bel yang berada di atas pinty untuk yang kesekian kalinya, pertanda bahwa seorang pelanggan telah datang ke cafe itu.
Jocelyn kembali memasang wajah ramahnya untuk menyapa pelanggan dan memberikan mereka pelayanan terbaik, kedua sudut bibirnya ia tarik hingga membentuk sebuah senyuman.
Tapi senyuman itu perlahan sirna, tergantikan dengan wajah terkejut. Benteng kokoh yang ia bangun lama terasa runtuh. Jocelyn bahkan tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Ternyata tebakanku benar,"
Satu kalimat itu saja sudah cukup untuk meruntuhkan seluruh benteng pertahanan yang telah ia bangun selama ini. Orang yang tak ingin ia temui lagi, malah datang menghampirinya.
Akal sehat Jocelyn seolah telah menghilang, ujung matanya perlahan dan tanpa aba mengeluarkan butiran murni. Ia ingin sekali berteriak di hadapan pria ini.
Namun hal ini tak bisa ia lakukan, wajah pelanggan lain yang menatapnya dengan tatapan bingung ia sadari. Jocelyn menahan tangisnya dan mencoba kembali bersikap profesional.
"May i take your order, Sir?" Awalan ramah Jocelyn berikan sebagai sapaan pada orang yang ia anggap pelanggan itu.
"Bisa bicara sebentar?" Jawaban yang keluar dari orang di hadapannya malah tidak sesuai dengan pertanyaan yang Jocelyn ajukan.
"Mohon maaf sebelumnya. Tapi saya sedang bekerja, jadi bisa saya ambil pesanan anda sekarang?"
Jocelyn menolak secara halus, ia mencoba untuk tetap fokus pada kegiatannya.
"Joe..." Suara dan panggilan yang sudah lama sekali tidak ia dengar. Membuat Jocelyn jadi sedikit rindu.
"Jika anda tidak memesan, mohon jangan mengganggu antriannya, ada banyak orang yang sedang menunggu gilirannya selagi anda membuang waktu saya dengan urusan pribadi anda."
Jocelyn kembali melempar kalimat penolakan, ia tidak siap untuk luluh lagi jika harus berbicara tentang masa lalu.
"Aku akan menunggumu selesai bekerja,"
Jocelyn menghembuskan nafasnya pelan, ia masih tidak percaya pria di depannya ini masih saja gigih.
"Can you just.......Leave....Jason"
"I'll wait for you outside" final Jason seperti tak ingin dibantah.
Jocelyn mengepalkan tangannya kesal, diantara semua orang, mengapa ia harus kembali bertemu dengan orang yang ia terus hindari.
__ADS_1
Deep breath joe.. Deep breath. You're working right now - Jocelyn
Setelah menenangkan dirinya sendiri, Jocelyn akhirnya melanjutkan pekerjaannya dan tak memikirkan Jason sama sekali.
Waktu berlalu, jam menunjukkan pukul 6 malam, Jocelyn telah selesai bekerja. Ia mengganti seragam miliknya dengan pakaian santai.
Jocelyn keluar dari tempat ia bekerja dan mendapati Jason yang masih setia menungguinya. Tadinya Jocelyn akan pergi begitu saja, tapi entah mengapa ia malah menghampiri Jason.
"A jeans and hoodie, this's always you. Never change"
Jason membuka pembicaraan dengan mengomentari style Jocelyn, hal yang pertama kali membuatnya jatuh hati pada wanita itu. Simple!
"People changes, but i guess i don't!"
Kalimat sinis Jocelyn terdengar cukup menyakitkan untuk Jason, namun ia tak mengomentari perihal ini lebih lanjut. Jason tidak ingin menambah keruh suasana.
Jocelyn sudah mau menemui dan berbicara dengannya saja, sudah lebih dari cukup bagi Jason.
Apalagi, jika mengingat perbuatannya yang menyakiti Jocelyn selama ini, rasanya untuk menemuinta saja sudah seperti membuka luka lama bagi Jocelyn.
"So tell me, apa yang ingin kau bicarakan sampai harus menungguku seperti ini,"
Jocelyn berbicara secara to the point. Sikap yang biasa ia perlihatkan ketika sedang marah.
"Aku..., hanya ingin melihatmu,"
"Should i be suprised?. Apa aku harus mendengar apa yang ingin kau katakan?. Setelah lebih dari tiga tahun kau pergi tanpa memberitahuku apapun,"
Jocelyn tertawa ketus begitu mendengar alasan yang dikemukakan oleh Jason menunggunya.
Jason berkata dengan tenang dan hal ini semakin membuat Jocelyn menjadi kesal.
"Don't be silly, itu tidak akan pernah terjadi atas alasan apapun itu,"
"Dan jika pun kau punya alasan tersendiri, ini tidak seperti aku juga akan menyita waktuku sendiri untuk mendengarmu,"
Jocelyn kembali menambahkan statementnya dan pada akhirnya Jason tidak memberikan bantahan apapun.
Jason menghela nafasnya pelan, ia juga tidak tahu harus berkata apa lagi jika Jocelyn belum mau mendengarnya.
"Kalau begitu, aku akan mengantarmu pulang. Aku harap kau tidak menolaknya, setidaknya hanya ini yang bisa kulakukan untuk memperlihatkan niat baikku,"
Jason menawarkan niat baiknya dengan menawarkan untuk mengantar Jocelyn pulang, tapi tampaknya Jocelyn tidak percaya.
"It won't be necessary, i can go on my own,"
Jocelyn menolak niat baik Jason dengan pandangan malas, ia sudah tidak ingin terikat lagi dengan pria ini untuk yang kesekian kalinya.
"Can i have a hug? I've been missing it,"
"........"
Permintaan random Jason, membuat Jocelyn terkejut serta bingung harus bereaksi seperti apa. Tangannya sudah dibentang siap menunggu sang masa lalu datang.
__ADS_1
Dengan menghembuskan nafas dalam, Jocelyn masuk ke dalam pelukan Jason. Menikmati kehangatan yang sudah lama ia rindukan.
Dapat Jocelyn dengar, detak jantung Jason yang kian mengeras seiring dengan pelukan yang perlahan Jason eratkan pada tubuh Jocelyn.
"I really miss you," Bisik Jason pelan secepat ciuman yang juga ikut melayang pada pucuk kepala Jocelyn. Namun tak ada balasan.
Jason kembali terdiam dan mencoba memahami keputusan yang diambil oleh Jocelyn dengan
tidak mempertanyakan rindunya lebih lanjut.
"Ah, sebelum aku pergi, let me warn you!. Nanti saat kau sampai di rumah jangan minum wine atau alkohol,"
"......"
"Perbanyak minum air hangat lalu langsung tidur. Jika tidak, besok kau akan bangun dalam keadaan flu. Apalagi malam ini cukup dingin,"
Ucapan spontan Jocelyn cukup untuk membuatnya tersenyum, ia tidak tahu jika wanita itu masih mengingat semua hal tentang dirinya dengan baik.
"Kau masih ingat?"
"Aku terbiasa!"
Setelah mengucapkan kalimat itu, Jocelyn bergegas melepas pelukan mereka lalu pergi dari hadapan Jason dan meninggalkan Jason yang menatapnya dengan tatapan nanar.
Seandainya saja aku sedikit lebih cepat menemuimu, aku pasti bisa menjelaskan dengan baik alasanku melakukan semua ini- Jason
Jason mengambil ponselnya dan menekan serentetan angka sebelum akhirnya tersambung ke sebuah panggilan.
Ia berbicara dengan seseorang yang terhubung di seberang panggilan dengan nada datar dan pandangan tak minat.
[OTP]
[UNKNOWN]
"Apa kau mau mengajakku minum malam ini?, aku sudah siap dan akan menunggumu disini. Jadi cepat datang!"
^^^[Jason]^^^
^^^"Aku tidak akan datang, sebaiknya kau mengajak pria lain untuk menemanimu. Aku sedang tidak mood sekarang,"^^^
[UNKNOWN]
"Apa yang membuatmu berubah pikiran secepat itu, aku bisa membantumu untuk mendapat moodmu kembali. Juga tadi siang, kau masih menggodaku,"
^^^[Jason]^^^
^^^"Sepertinya kau salah paham, aku jelas tidak menggodamu sama sekali. Bukannya kau yang merangkak ke pangkuanku atas kemauanmu sendiri?"^^^
^^^"Selain itu, seseorang juga sudah menyuruhku untuk beristirahat dan kau hanya bisa tahu sekedar itu saja. Jadi jangan menggangguku lagi."^^^
[END CALL]
Jason mematikan panggilan telepon miliknya dan langsung kembali ke mansion.
__ADS_1
Sebelum ia benar benar meninggalkan lokasi pertemuan ia dan Jocelyn, Jason sudah terlebih dahulu menghubungi salah seorang dari bawahannya dan menyuruh untuk memantau Jocelyn pulang dengan selamat.