Taste Of Blood

Taste Of Blood
5


__ADS_3

Seorang perempuan datang dari arah


tangga dengan langkah yang tertatih-tatih. Ujung tumitnya agak menghitam karena terlalu lama berjalan dengan menggunakan heels.


Kakinya benar-benar terasa sangat sakit. Dan kini ia berdiri tepat di depan pintu rumahnya. Mengetuk pintunya secara perlahan namun tak kunjung ada jawaban.


Ketukan itu kian ia kencangkan detik demi detik. Belnya bahkan ia bunyikan namun tak kunjung ia dapati jawaban dari perjuangannya.


Ia menatap pintu rumah dengan wajah kesal.


Apakah rumah ini sudah terbengkalai?


Apakah orang yang tinggal disini sudah tak bernafas lagi?


Pikiran-pikiran aneh terus menggerogoti pikirannya. Ia mengetuk pintu itu kembali, kali ini lebih keras.


Kian lama kian keras hingga cukup untuk membuat tubuh kehilangan kendali dan menjadi emosi.


Hingga akhirnya, ia menyadari ada sebuah pupil yang menatapnya balik dari dalam dan terbesitlah ide ini.


"I see you" ujarnya pelan.


"I hear you" sambungnya kembali.


Perlahan pintu rumah terbuka dengan sedikit lebar menampilkan seorang lelaki dan perempuan yang menatapnya tak percaya.


Perempuan itu tersenyum kikuk dan menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, ia mencoba tersenyum selebar mungkin.


"So, no hugs?" Tanyanya kemudian.


Perempuan yang berada di depannya itu adalah Eliana Elliot kakak dari Marco Elliot yang berarti ia adalah sepupu dari Jocelyn itu sendiri.

__ADS_1


Jocelyn yang tadinya merasa kaku seketika itu juga tak bisa untuk berkata-kata hingga membuatnya pingsan.


"You f***ing scared me to death" ujar Jocelyn sebelum akhirnya ia tidak sadarkan diri.


...****************...


Dua minggu telah berlalu semenjak kedatangan Jocelyn dan keluarga Richards ke manhattan untuk berlibur bersama dengan keluarga Elliot.


Sebenarnya selama periode waktu itulah, Jocelyn merasa selalu dibuntuti kemanapun ia pergi.


Ia berencana melaporkan hal ini ke keluarga atau bahkan ke polisi, namun perasaannya mengatakan tak akan ada hal baik yang akan terjadi jika ia melapor.


Sore nanti, ia dan keluarganya berencana untuk kembali ke brooklyn, yah mengingat tak lama lagi ia juga harus kembali ke kampus.


Namun semuanya terjadi begitu cepat, pagi tadi Marco putra paman ditemukan bunuh diri di sebuah apartemen yang berada tak jauh dari condo ini.


Marco ditemukan bunuh diri dengan menggantung dirinya sendiri dan menembaki kepalanya dengan pistol yang sudah dilengkapi peredam suara.


Namun, ketika kepolisian memeriksa ponselnya tak ada barang bukti yang bisa ditemukan. Dan ini adalah hal aneh yang bisa mengancam nyawa siapa saja.


Pembunuh ini bisa menghilangkan semua jejaknya dan bahkan membuat polisi berpikir bahwa semua ini murni bunuh diri dan bukannya pembunuhan.


Seluruh anggota keluarga ikut bersedih atas kejadian ini, termasuk Jocelyn. Ia masih tak percaya Marco akan pergi meninggalkan semuanya secepat itu.


Setelah pemakaman selesai, Jocelyn dan keluarga Richards kembali ke brooklyn. Sebenarnya, Thomas tidak ingin meninggalkan adiknya yang tengah berduka karena kehilangan putranya.


Tapi tiba-tiba saja, pihak kampus menghubungi Thomas dan menyuruhnya untuk kembali ke kampus sesegera mungkin.


Dan pada akhirnya keluarga Richards benar-benar pergi meninggalkan manhattan. Meninggalkan misteri kematian Marco yang terus menimbulkan tanda tanya terutama di benak Jocelyn.


"Aku harus menemukan pembunuhnya"  Jocelyn berujar dalam hati dengan niat dan tekad yang kuat.

__ADS_1


Ia yakin ini bukan sepenuhnya kematian yang diinginkan oleh Marco. Ada banyak bukti yang mengarahkan kasus ini ke pembunuhan berencana.


Namun sepertinya, pihak kepolisian lebih memilih untuk menutup mata mereka dan itu semakin membuat Jocelyn yakin bahwa ini sepenuhnya terencana.


Jocelyn menghembuskan nafas perlahan seraya membolak-balik lembaran buku yang sedang dibacanya. Hari ini ia sudah mulai beraktifitas kembali di kampus.


Terhitung hari ini, tepatnya sudah 4 hari semenjak kejadian mengenaskan terjadi di keluarga Elliot dan juga pihak kepolisian sudah menutup kasusnya.


Kantor kepolisian setempat sudah menetapkan bahwa ini adalah kasus bunuh diri dengan penyebab korban sering mengalami pembullyan di tempat kerja.


Korban sudah tidak bisa mentoleransi perbuatan bullying yang dialaminya sehingga korban akhirnya mengalami depresi dan menyebabkan halusinasi.


Empat orang pegawai kantor di tempat Marco bekerja yang terdakwa sebagai pelaku pembullyan kini juga sudah memberi kesaksian dan mengakui perbuatannya.


Setidaknya begitulah penjelasan yang diberikan oleh pihak kepolisian kepada keluarga Elliot sebelum akhirnya berujung menutup kasus tersebut karena dianggap telah selesai.


Dan sekarang, disinilah Jocelyn berada, mencoba meneliti setiap kemungkinan yang mungkin saja polisi lewatkan selama proses investigasi.


Namun dengan hanya bermodalkan kertas dan pulpen saja tak akan membuahkan hasil, setidaknya begitulah yang dipikirkan oleh Jocelyn.


Ia berencana untuk kembali ke manhattan dan akan menyewa sebuah apartemen untuk ditinggali selama ia berada disana.


Ia juga akan mencari pekerjaan dan mencoba menetap disana seraya memecahkan kasus pembunuhan ini.


Tentu saja dibalik ide cemerlangnya ini ia harus menyelesaikan satu permasalahan besar lagi.


Permasalahan yang akan menjadi kendala untuk semua rencananya bila tidak ia selesaikan.


Karena sudah menjadi mahasiswi tingkat akhir ia harus bisa wisuda dalam tahun ini jika ingin tinggal di manhattan.


Dan wisuda terakhir pada tahun ini akan dilaksanakan dalam kurun waktu dua bulan kedepan.

__ADS_1


Dan dalam kurun waktu itulah ia harus menyelesaikan semuanya untuk mulai bisa menginvestigasi semuanya.


__ADS_2