
...Happy Reading...
.........
........
.......
Jocelyn mendudukkan pria itu di sofa untuk beristirahat setelah apa yang dialaminya tadi.
Ia bergegas ke dapur untuk menyiapkan makan malam dan syukurlah pria itu tidak mengalami masalah yang lebih lanjut.
selagi menyiapkan masakan untuk makan malam yang akan dinikmatinya bersama pria itu, Jocelyn kembali mengingat kejadian sesaat sebelumnya.
[FLASHBACK]
Setelah berjalan dengan langkah yang tergopoh-gopoh karena membawa beban di kanan dan kirinya, akhinya Jocelyn sampai ke depan pintu apartemen miliknya.
Ia menekan serangkaian kombinasi angka acak password miliknya lalu membantu pria itu untuk masuk ke dalam apartemen dan mendudukkan pria itu di sofa untuk sedikit merilekskan bahu pria itu.
Namun sepertinya pria itu tampak sangat kesakitan sekarang, bahkan selama perjalanan ia sama sekali tak bicara dan hal ini membuat Jocelyn menjadi sedikit panik.
Ia benar-benar tak mengetahui apa yang harus ia lakukan sekarang.
Melihat Jocelyn yang kebingungan, pria itu tersenyum lalu menyuruh Jocelyn untuk mengambil kotak P3K yang ada di apartemen milik Jocelyn.
Begitu memahami apa yang dikatakan pria itu, Jocelyn langsung mengambil kota P3K dan membawanya ke hadapan pria itu.
Pria itu dengan sigap langsung mencuci lukanya dengan alkohol seraya menahan rasa sakit dan tentu saja membuat Jocelyn merasa tak nyaman, ia langsung menutup matanya.
Melihat Jocelyn menutup mata kembali membuat pria itu tersenyum, ia tak habis pikir dengan wanita yang satu ini.
Tingkahnya sedikit berbeda dengan wanita-wanita yang pernah ia temui sebelumnya.
Setelah itu ia menjahit lukanya dengan tangan yang sedikit gemetar, ia sebenarnya sudah tak punya tenaga lagi, namun jahitannya harus diselesaikan untuk mencegah kehilangan darah lebih banyak lagi.
"Hey, bisa tolong ambilkan kain kasa itu, aku sudah tidak sanggup untuk menggerakkan tanganku,"
Ucapan pria itu membuat Jocelyn membuka kelopak matanya kembali, ia melihat jahitan yang sudah selesai dan keringat dingin yang mengalir di sekitar pelipis pria itu.
"Kau tidak terlihat sehat, apa kau yakin kita tidak perlu ke rumah sakit?"
Jocelyn berkata demikian sembari membantu pria itu untuk membalut lukanya dengan kasa, jarak di antara keduanya cukup dekat hingga bahkan Jocelyn bisa merasakan nafas pria itu di lehernya.
Dan itu sangat menggelitiknya!
"Apa kau sedang mengkhawatirkanku?"
Kalimat yang terlontar dari mulut pria itu cukup untuk membuat wajah Jocelyn memerah, reaksi tubuhnya terlalu jujur.
"Wajahmu memerah" Ujar pria itu kembali.
Jocelyn hanya diam tak merespond, pikirannya kalut. Ia ingin kabur sekarang tapi luka pria ini masih belum selesai dibalut.
"Jika aku jadi kau, daripada menggoda wanita asing aku akan lebih mengkhawatirkan lukaku,"
"Really? kenapa aku harus mengkhawatirkannya kalau sudah ada kau yang khawatir pada lukaku?, bukan begitu?"
Jocelyn hanya mengidikkan bahunya tak acuh seraya menyelesaikan balutan kain kasanya pada luka pria itu.
__ADS_1
Matanya beradu dengan pandangan pria itu. Kini ia bisa melihat wajah pria itu dengan jelas, warna bola matanya, rambutnya dan bahkan senyuman itu. Ia merasa tidak asing dengan semua itu.
"Apa kau tidak keberatan, jika aku menanyakan penyebab lukamu itu?"
Jocelyn bertanya dengan hati - hati. Ia tidak ingin terdengar lancang dengan mencampuri urusan pribadi milik orang lain.
"Jika aku bilang aku keberatan, apa kau akan memanggil polisi?"
Pria itu menatap Jocelyn dengan raut wajah datar hingga membuatnya sedikit tak nyaman.
"Well. Kau tidak perlu mengatakannya jika tidak ingin. Lagipula ini juga bukan urusanku dan aku juga tidak memaksamu untuk mengatakannya,"
Jocelyn memutar bola matanya kesal, sebenarnya ia sedikit tersinggung dengan ucapan pria itu.
"Really?, tapi sepertinya raut wajahmu malah berkata sebaliknya. Kau juga tidak terlihat seperti orang yang akan mendengarkan perkataan ku dengan baik"
Pria itu kini berbicara seolah - olah telah mengenal Jocelyn lama dengan mengomentari penampilannya.
"Haha, berkomentarlah sepuasmu. Tapi tolong jangan melewati batas dengan berbicara seperti kau mengenalku lebih baik dari orang lain"
Kini ucapan Jocelyn terdengar lebih kesal setelah ia mengeluarkan tawa yang dibuat - buat.
Pria itu menatapnya lama lalu tersenyum simpul. Atau lebih tepatnya pria itu tersenyum dengan niatan untuk mengejeknya.
"Bukannya aku memang sudah melewati batas, saat kau membawaku ke rumahmu?. Jadi apa lagi yang perlu aku khawatirkan?"
"Kau tidak bisa macam - macam denganku. Apa kau tahu aku ini sudah belajar bela diri dari kecil,"
"........"
"Taekwondo, judo, aku bahkan sedikit belajar kungfu..."
"Sorry..?"
Jocelyn mengernyitkan dahinya heran, pria ini bahkan tak merasa takut sedikitpun.
"Ya lalu kau akan bagaimana setelah memberitahuku semua bela diri yang telah kau pelajari?"
"Of course. I'll punch you in the face, kick your stomach and stab you with the knife in that wound to worse it!"
Jocelyn berkata dengan penuh percaya diri. Setidaknya jika pria itu berniatan buruk kepadanya ia punya sesuatu.
Ia memiliki setidaknya sedikit keuntungan, karena pria itu sedang terluka sekarang.
"You're going to be a murderer?. Itu sama sekali tidak cocok denganmu. Tapi aku tidak bisa menyimpulkannya terlalu dini,"
"........"
"Karena biasanya pyschopath punya wajah yang manis sepertimu,"
Jocelyn menelan salivanya sendiri. Padahal ia yang mengatakan akan melakukan hal itu kepada pria di hadapannya.
Tapi sekarang malah ia yang merasa tertekan. Kemungkinan pria itu adalah seorang psychopath, Jocelyn tak pernah memikirkannya.
"Hell no!. Aku melakukan itu untuk bela diri, jadi jangan memutar balikkan fakta seperti itu,"
"Really?, then what you gonna do if i did that to you?"
Ucapan pria itu sukses membuat bulu kuduknya meremang. Pria ini bukan lawan yang mudah.
__ADS_1
"Screw you!" Ujar Jocelyn kesal dengan tangan yang mengepal dan emosi yang tertahan.
Pertengkaran verbal diantara keduanya berakhir dengan kekalahan Jocelyn.
Ia sebenarnya merasa sedikit takut, namun kekesalannya lebih besar dari ketakutan yang ia rasakan kini, hingga membuatnya tak bisa berfikir dengan jernih.
Jocelyn bangkit dari tempat duduknya dan hendak bergegas menuju dapur, ia sudah menunda makan malamnya terlalu lama karena pria ini.
Namun baru saja ia bangkit, tangannya ditahan oleh pria itu.
"Oh c'mon, don't be mad. Semuanya hanya bercandaan. Apa kau sebegitu tersinggungnya dengan semua ini?"
Jocelyn kembali mengernyitkan dahinya heran, pria ini benar - benar sesuatu. Satu hal yang akhirnya Jocelyn tahu dari pria ini.
He sucks!
"Are you drunk or something?, kenapa kau malah terdengar seperti sedang membujuk pacarmu untuk tidak marah lagi?"
"Yes. I. Am."
Ucapannya sontak membuat Jocelyn terdiam.
This guy is pain in the ***!
"You gotta be kidding me. Aku benar - benar tidak ingin mendengar ocehanmu sekarang. Jadi tolong lepaskan tanganmu itu. SIR"
Pria itu memang melepaskan genggamannya pada Jocelyn, namun ia malah menggantinya dengan menarik Jocelyn tepat ke dalam pelukan.
Dan disinilah kini Jocelyn berada, di dalam dekapan pria asing yang baru saja ia tolong.
"Aku bisa menuntutmu jika kau tidak melepaskanku sekarang," Ancam Jocelyn pada pria itu.
"Aku menantikannya," Pria itu hanya menanggapinya dengan santai.
Karena ia sudah tidak bisa menahan tingkah keterlaluan pria itu lagi, Jocelyn dengan sengaja menekan luka di perut pria itu.
Pria itu mengerang kesakitan dan melepas dekapannya akan Jocelyn hingga membuat manik keduanya bertemu.
Ada perasaan tak asing, Jocelyn seperti pernah bertemu dengan pria itu sebelumnya.
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
Jocelyn mengutarakan isi pikirannya dan masih terus menatap bola mata itu, hingga pria itu memiringkan wajahnya dan tersenyum simpul
"Entahlah, kurasa begitu!"
[END FLASHBACK]
Setelah melewati kecanggungan yang terjadi di antara keduanya, Jocelyn menghidangkan makan malam yang dibuatnya di atas meja.
Ia memasak beberapa menu sederhana dan sebenarnya kurang yakin apakah akan cocok dengan lidah pria itu.
"Aku tidak memasak banyak dan bahkan sebenarnya tidak yakin apakah masakan ini akan cocok dengan seleramu. Kuharap kau tidak mengkritikku lagi dan menghargainya,"
Jocelyn berujar seadanya, ia tidak ingin berusaha begitu keras untuk menimbulkan kesan yang baik karena biar bagaimanapun mereka juga tidak akan bertemu lagi.
"Tidak masalah, lagipula aku juga menyukai hal baru. Dan juga aku sudah menghubungi orang untuk menjemputku, jadi aku tidak akan merepotkanmu lebih jauh lagi,"
Ucapan pria itu hanya diangguki oleh Jocelyn dan keduanya akhirnya larut dalam diam sembari menyantap makan malam milik masing-masing.
__ADS_1