
"Alister"
Tok...tok..tok...
Ketukannya semakin kencang seolah pertanda kalau ia ingin Ana membuka jendelanya.
Dengan gemetar tangannya membuka jendela tersebut, dan... Benar saja, Ana mendapatkan Alister di sana.
"Alister, kamu ngapain ke sini malem-malem?"
Alister terlihat tersengal-sengal, napasnya begitu berat. Terlihat peluh keluar membasahi pipinya.
"Boleh masuk?" tanya Alister.
"Ma-masuk apanya?" tanya Ana ketakutan.
"Masuk guenya lah, masa gue diem di jendela kek maling!"
Ana terdiam sejenak, seorang cowok mau masuk ke kamarnya? Jantungnya berdebar-debar tak karuan.
Ana lalu mundur beberapa langkah membuat Alister menghembuskan napas kesal seolah mengerti apa yang ditakutkan oleh Ana.
Tiba-tiba Alister mengulurkan jari kelingkingnya ke arah Ana lalu berkata.
"Gue janji nggak bakal ngapa-ngapain."
Mata Alister berubah menjadi sayu, jari kelingkingnya terus terulur dengan wajah yang terkesan serius. Ana menelan ludahnya, berusaha memberanikan diri lalu berjalan maju mendekati Alister.
Tangannya terangkat lalu menautkan jari kelingkingnya di kelingking Alister, tanda kalau Ana menerima janjinya.
"Oke," balas Ana dengan ragu.
Alister tersenyum lalu naik ke jendela tersebut lalu melompat melewati meja tempat Ana menulis.
Brakkk...
Suara kaki Alister begitu nyaring di dalam kamar tersebut, membuat Ana takut lalu memeriksa pintu kamarnya.
Aman, ternyata sudah di kunci.
"Kamu ngapain ke sini?" tanya Ana takut.
Kali ini bukan takut oleh Alister, Ana lebih takut ketahuan Diana kalau dia mengizinkan Alister untuk masuk ke kamarnya.
"Ajarin gue matematika buruan!"
"Kenapa enggak lewat pintu? Kenapa harus manjat pohon sampe masuk lewat jendela kamar?" ucap Ana panjang lebar, benar, ia sangat takut jika Diana datang kemari.
Maka dari itu, Ana sangat harus menginterogasi Alister agar mendapatkan jawaban yang meyakinkan.
"Kalo gue lewat pintu yang ada gue diusir sama nyokap lo!"
__ADS_1
Alister menarik kursi yang selalu di pakai Ana untuk menulis, dia langsung duduk dengan rapi dan membuka buku matematikanya.
"Jangan banyak tanya, buruan. Ajarin gue matematika!"
Ana menyilangkan kedua tangannya, sepertinya sudah cukup Ana memperlakukan Alister dengan baik, sekali lagi ia selalu tekankan dalam hatinya. Jangan terlalu berharap.
"Kamu bisa enggak sopan sedikit kalo minta tolong!"
"Eh, ini gue barusan udah minta tolong!"
Ana masih menyilangkan kedua tangannya dan tidak berkata sepatah katapun.
Melihat reaksi Ana seperti itu, Alister mengembuskan napas pasrah.
"Oke. Oke. Ana... Gue mau minta tolong, AJARIN GUE MATEMATIKA!" ucap Alister tiba-tiba berubah dengan nada tinggi membuat Ana kesal.
"Keluar!"
What?
Alister kaget saat Ana mengusirnya dengan lantang seperti itu, persis Diana yang sangat sadis ketika mengusirnya.
"Aku bilang keluar!"
"Ana, denger. Oke gue minta maaf, gue kali ini beneran serius, ajarin gue matematika. Gue enggak mau dihukum terus-terusan. Plisssss..."
Alister memohon, kali ini tidak ada nada tinggi. Malah terlihat seperti orang yang benar-benar memohon.
"Oke," balas Ana sambil tersenyum.
Senyumannya itu...
"Mau belajar matematika atau ngelamun?" tanya Ana.
"Iya. Iya."
Ana kemudian menerangkan satu persatu apa yang ditugaskan oleh Bu Ai. Dari langkah paling mudah terlebih dahulu.
Yang membuat Ana terkagum kaget, ternyata Alister jika serius memperhatikan sangat mudah mengerti dan mengingat caranya.
Dia bahkan sudah beberapa kali mengerjakan ulang soalnya dengan benar.
Entahlah, Ana merasa ada yang salah dengan Alister. Sepertinya cowok ini anak yang pintar, tapi kenapa dia jadi seperti ini? Berandalan dan terkenal dengan biang onar.
Tiba-tiba saja Alister mengangkat kertasnya dan berkata.
"Beres, benerkan?" tanya Alister pada Ana yang sedang melamun.
Alister langsung mengambil buku catatan Ana, dan ternyata hasilnya sama. Dia tersenyum kecil saat mendapatkan jawabannya benar.
"Kamu pinter, Alister. Aku tahu kamu sadar kemampuan kamu. Kenapa kamu jadi males kaya gini?" tanya Ana.
__ADS_1
"Kenapa sih ngomongnya enggak lo-gue? Kenapa harus aku-kamu?"
"Ibaratnya seorang cewek yang kamu suka. Banyak banget cewek di dunia ini yang cantik atau bahkan yang sempurna. Tapi kamu tetep milih satu cewek karena kamu nyaman sama cewek itu. Begitupun aku. Masih banyak bahasa aku-kamu, lo-gue, urang-maneh you and I dan lain-lain tapi aku lebih nyaman pake aku-kamu."
Alister tiba-tiba tertawa mendengar perkataan Ana, membuat Ana terdiam dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Ribet banget hidup lo."
"Ih aku serius tau!" Ana cemberut dan itu sangat lucu membuat Alister menatapnya sangat lekat.
Tiba-tiba senyuman Alister hilang, dia malah terus menatap Ana dan hanyut pada manik matanya yang cokelat.
"Kamu kenapa? Jangan liatin aku kaya gitu, serem."
Alister mengedipkan matanya beberapa kali lalu memalingkan pandangannya ke arah yang lain.
Dia melihat sekeliling ruangan kamar Ana yang berwarna pink, semuanya berwarna pink dari tembok, tempat tidur, selimut dan lain sebagainya.
Mungkin hanya lantai yang berwarna putih di sini.
Tiba-tiba matanya tertuju pada sebuah note kecil yang lusuh berwarna pink, Alister baru ingat, Ana terkadang selalu menulis di bis sekolah di note lusuh itu.
"Lo suka nulis apaan sih?" tanya Alister berusaha mengalihkan pembicaraannya.
Ana melotot kaget saat melihat note nya di bawa oleh Alister. Tidak, tidak ada seorangpun yang boleh membaca note nya.
Tangan Alister perlahan membuka note nya itu, tapi ternyata kurang gesit. Ana langsung merebutnya dengan sekuat tenaga.
"Mendingan kamu pulang aja, udah malem."
Ucapan Ana terasa begitu dingin, Alister dapat melihat Ana yang bergetar dan sangat ketakutan ketika note nya diambil.
"Pulang."
"Hei, lo kenapa?"
"Alister pulang!"
Alister menghela napas panjang, perlahan dia menganggukkan kepalanya dan keluar dari jendela kamarnya.
Ana dapat melihat kepergian Alister, dia turun menggunakan pohon besar yang ada di samping kamarnya lalu memakai sepatunya di bawah sana.
Dengan motornya yang berada jauh dari rumah Ana, cowok itu pergi begitu saja.
Saat melihat kepergian Alister Ana langsung menutup jendelanya dan mengunci notenya di dalam lemarinya.
Saat dia mau tidur, Ana menemukan sebuah kertas di atas meja yang melipat, seperti sebuah surat.
Ana membukanya, ternyata itu dari Alister kertas itu hanya bertuliskan.
'Thankyou, Ana.'
__ADS_1
Tetap saja, tubuhnya masih bergetar ketakutan saat Alister memegang note nya, mau diberikan kata-kata apapun Ana tetap takut. Ya, takut rahasianya terbongkar.
Love you readers...