
Ana menangis, tetesan air mata mulai turun membasahi pipinya. Ia tidak bisa menahan air matanya lagi.
"Pake nangis lagi!"
Tiba-tiba cowok tampan dengan baju acak-acakan itu menghampiri mereka lalu berkata.
"Tasya. Alana. Berenti! Biar gue yang urus bocah ini, mending kalian pulang aja!" ucap Alister.
Ana mendongak sambil menatap pilu kepada Alister, akankah cowok itu menyakitinya lebih dari ini? Sepertinya ia harus menguatkan mental kuat-kuat.
Terlebih saat melihat Tasya dan Alana tersenyum penuh kemenangan, seolah pertanda akan terjadi sesuatu yang lebih buruk kepadanya.
"Oke kita pulang, Rey."
Tapi sebelum pulang Tasya dan Alana saling menatap, seolah pertanda agar salah satu dari mereka berani berbicara kepada Rey, akhirnya Tasya memberanikan diri untuk berbicara.
"Rey, mo-mobil lo masih kita pinjem nggak papa kan?"
Rey menaikkan kedua alisnya bingung, jika mereka berdua bukan sahabatnya, ia malas sekali untuk meminjamkan mobilnya.
Tapi cowok itu terlalu pusing mendengar ocehan mereka, Alister tidak ingin ambil pusing. Entah dipakai untuk apa mobilnya yang jelas, apapun akan ia berikan untuk sahabatnya.
"Soalnya nanti malem gue-"
"Pake aja, nggak papa."
Tasya dan Alana tersenyum senang, mereka saling bersorak riang karena Rey mau meminjamkan mobilnya, lagi.
"Thanks, Rey."
"Selamat bersenang-senang sama si cewek cupu itu!" Mereka berdua tertawa gembira, entah memiliki dendam apa, tapi Dimata mereka Ana tidak pernah benar, apapun yang ia lakukan selalu salah.
"Kecentilan, dasar Ulet bulu!" ucap Bulan.
"Kalian pikir ini lucu apa, gue laporin sama bokap gue tau rasa tuh!" tambah Bulan kesal, ia gemas, ia ingin melaporkan ini semua, mulutnya sudah tak tahan.
Baru sehari ia masuk di sekolah ini sudah bagai neraka untuk Ana, bagaimana ia bisa sabar selama bertahun-tahun?
"Gue beresin kelas dulu," ucap Alister santai.
"Terus abis beresin kelas, lo mau bully dia lagi?" balas Bulan sambil memeluk Ana.
"Mendingan lo balik sana!"
"Gue nggak bakal ninggalin Ana!"
"Lo nggak tau siapa gue?" tanya Alister dengan memasang wajah penuh amarah, melihat wajahnya yang seperti itu, Bulan mundur beberapa langkah dari Alister agar sedikit menjauh dari cowok itu.
"Udah. Udah. Bulan, mending kamu pulang aja, nanti Papa kamu nanyain," lerai Ana agar tak terjadi perselisihan yang lebih rumit.
"Tapi..."
Ana tahu Bulan akan menolaknya, tapi dengan senyuman dan wajah yang penuh keberanian, Ana berhasil meyakinkan Bulan agar meninggalkannya di kelas ini.
"Plis, aku minta kamu nggak nolak permintaan aku."
__ADS_1
"Oke, aku pulang. Tapi kalo dia macem-macem bilang sama aku ya."
Ana mengangguk, dengan langkah yang berat Bulan meninggalkan mereka berdua di kelas, sebelum ia pergi ia menatap Alister tajam.
"Awas lo!" ucap Bulan pada Alister.
Bulan pun pergi, sementara Alister mengabaikan kepergiannya. Cowok itu beralih menatap Ana yang tengah berdiri di hadapannya.
"Em-gue mau," ucap Alister terbata-bata.
"Gue mau..."
Ana menunggu ucapan Alister, tapi nyata nihil. Alister terus mengacak-ngacak rambutnya seperti orang yang sedang gugup.
"Gue mau..."
"Minta tolong buat bersihin kelas?" potong Ana.
Ana bingung melihat sikap cowok itu yang tiba-tiba gelagapan tanpa sebab. Sebaliknya, Alister bingung kenapa Ana tidak pernah marah padanya, padahal ia sangat sering menyakiti Ana.
Alister terdiam, sebenarnya ia ingin minta maaf karena sudah mendorong Ana sampai berdarah seperti itu. Cowok itu sadar kalau dia sangat jahat, tapi tidak sampai dengan fisik seperti itu, apa lagi sampai berdarah.
"Ya udah, ayo aku bantuin."
Saat Ana mau mengangkat bangku, Rey langsung menghentikannya.
"Tunggu!"
Ana menatap Rey bingung.
Jadi... Kali ini mereka mau bekerja sama? Dan ada anugerah apa sampai Alister mau membantunya.
Apa hanya karena kasihan? Ana dapat melihat dari mata Alister kalau ia melakukan itu hanya semata-mata karena kasihan kepadanya.
Tapi... Tidak apa, ini lebih baik dari pada sebelumnya.
Mereka pun selesai membereskan kelas, mereka membereskan kelas penuh dengan keheningan, tidak seperti biasanya. Alister cerewet tiba-tiba saja menghilang beberapa jam yang lalu.
Kini mereka sedang duduk di bus sekolah, Ana hanya menatap jalanan kota yang sangat ramai sementara Alister gugup setengah mati.
"Lo kenapa nggak pernah marah sama gue?" tanya Alister tiba-tiba.
"Kalau aku lawan kalian, kalian bakal semakin kasar sama aku. Kalo aku diem, kalian nanti bakal capek sendiri."
"Dan gue nggak pernah capek!"
"Terserah, tapi aku yakin ko suatu hari nanti kamu bakal berenti." Ana tersenyum dengan percaya diri. Keyakinan dalam hatinya sangat terpancar dari matanya sampai membuat Rey terdiam.
Tak lama, Rey kembali memalingkan matanya lalu berkata.
"Gue nggak bakal berenti!"
"Oke, nggak papa." Ana tersenyum, entah kenapa tiap senyuman yang terpancar dari bibirnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu.
Apakah ia hanya pura-pura tersenyum?
__ADS_1
***
Tengnong...
Bel rumah Ana berbunyi beberapa kali, yang memijit bel sangat tidak sabaran, ia memijit bel beberapa kali sampai membuat telinga Ana pusing.
Ana membuka pintu, ternyata di hadapannya ada Alister membuat Ana kaget.
"Ada apa?"
"Bisa keluar dulu sebentar." Alister menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia hanya sedikit bingung apa yang akan ia katakan pada Ana.
"Masuk aja," ucap Ana sambil melebarkan pintu rumahnya, pertanda kalau ia mengizinkan Alister untuk masuk ke rumahnya.
"Eh... Nggak. Nggak. Gue maunya di luar, bukan di dalem."
Ana mengerutkan keningnya bingung sampai ia menatap tajam Alister dengan tatapan mencurigakan.
"Mau ngapain?"
"Keluar aja dulu."
Ana keluar, Alister kemudian berjalan dan meminta Ana untuk mengikuti langkah kakinya.
"Dari mana kamu tau rumah aku?" tanya Ana bingung.
"Lo tadi kan turun dari bis depan rumah banget, ya udah gue samperin. Nggak kaya kemarin, ngapain coba ke hutan sendirian."
Ana terdiam, sekali lagi dalam hatinya ia berkata. Bukan urusan Alister untuk tahu kenapa ia pergi ke hutan tersebut.
Alister hanya orang lain.
Lebih tepatnya, orang yang selalu menyakitinya.
"Oh."
"Sini duduk," ucap Alister pada Ana sambil menunjuk ke sebuah kusri putih yang menghiasi taman tersebut.
"Ngapain?" tanya Ana.
"Nggak usah banyak tanya, bego!"
Ana menghela napas, ia hanya bisa mengikuti apa yang diucapkan oleh Alister. Ana pun duduk di kursi putih itu, sementara Alister jongkok lalu membersihkan luka yang ada di kaki Ana dengan air.
"Kamu ngapain?"
"Punya mata nggak? Ya obatin luka lo lah!"
Ana mendengus kesal, Alister terus berkata dengan nada tinggi. Mungkin itu kebiasaannya, tapi mengobati lukanya? Ini sama sekali bukan Alister!
Tangannya perlahan memberikan obat merah pada luka Ana dan membalutnya dengan perban.
"Gue..."
"Gue... mau mi-minta maaf, Ana."
__ADS_1
Love you readers...