TELUK ALASKA~

TELUK ALASKA~
episode 2


__ADS_3

Ana berjalan lurus melewati gerbang sekolahnya. Cewek itu memasukkan tangannya pada jaket rajut pink miliknya, rambutnya yang ikal di ikat agar terlihat rapi.


Seperti biasa, Ana selalu datang paling pagi sampai belum ada siapa-siapa di sekolahnya.


Tapi sepertinya tidak untuk hari ini, ia mendapatkan seorang cewek berambut lurus sebahu tengah duduk di samping bangkunya.


Ana tersenyum canggung, ia sama sekali tidak mengenal cewek itu.


"Hai," ucapnya sambil tersenyum manis.


"Hai," balas Ana dengan jantung yang berdebar-debar.


Baru kali ini ada yang mau menyapanya, semenjak ia menjadi bahan bully-an Genk Alister, semua cowok dan cewek tidak ada yang mau menyapanya lagi. Menyedihkan.


"Ka-kamu... Murid baru ya?" tanya Ana dengan gemetar.


"Hehe iya, kenalin aku Bulan." Cewek itu tanpa ragu memberikan tangannya pada Ana.


Deg


"Bulan?"


Ana terpikir sesuatu akan nama itu, nama yang selalu ia tunggu tiap malam di balik jendela. Namanya seperti Bulan yang selalu menyapanya dan menjadi teman cewek itu satu-satunya.


"Iya, Bulan. Kenapa? Kok kaya heran gitu."


"Ah gak papa, kenalin aku Anastasia." Mereka bersalaman, senyuman cerah terpancar di wajah mereka.


"Tadi aku abis dari ruang tata usaha, terus malah langsung dianterin ke sini. Wali kelas aku katanya belum datang."


Sungguh, Ana sangat canggung untuk memulai obrolan terlebih dahulu. Tapi sepertinya murid baru bernama Bulan ini sangat ramah dan... cerewet. Untunglah, membuatnya sedikit merasa lega.


Ana hanya mengangguk kecil mendengarnya, tiba-tiba Bulan berkata lagi.


"Ikut organisasi?"


"Nggak," jawab Ana sambil tersenyum malu.


"Oh kalo gitu, ikut estrakurikuler apa?" tanya Bulan.


Ana menggelengkan kepalanya tanda kalau ia tidak ikut organisasi apapun. Karena kebiasaannya sejak dulu adalah sehabis bel pulang, ia langsung pergi ke rumahnya.


Tidak mau keluar sama sekali.


"Kalo aku dulu ikut ekstrakulikuler teater, organisasi juga ikut. Malah aku jadi ketua OSIS ya di sana."


Ana berpikir sejenak, sepertinya ia tidak bertanya apapun tentang Bulan. Ia dengan santai menceritakan apapun tentang dirinya pada Ana.


Sementara Ana? Tentu saja ia hanya diam mendengarkan dengan baik.


"Eh, aku suka loh sama kamu. Kayanya kamu tuh diem-diem gimana gitu," ucap Bulan dengan sumbringah karena bahagia memiliki teman sebangku seperti Ana.


"Oh gitu ya, ehem... Kamu mendingan duduk di bangku samping deh," ucap Ana sedikit kaku.

__ADS_1


Bukan apa-apa, ia tidak bermaksud untuk mengusir Bulan. Tapi ia tidak mau Bulan menjadi sasaran Genk Alister.


"Kenapa? Di sini udah ada yang ngisi ya?" tanya Bulan tidak enak.


"Bukan-bukan, cuma..."


Belum sempat Ana mengatakan semuanya, ternyata murid-murid yang tadi nongkrong di koridor mulai masuk ke dalam kelas.


Mereka kaget melihat Ana sedang mengobrol, mereka pun saling berbisik.


"Ih kasihan ya kalo dia duduk bareng si Ana."


"Bener banget, gimana kalo dia jadi korban?"


"Nah itu dia, mending lo kasih tau dia deh."


"Ogah banget, gimana pas gue ngobrol sama mereka tiba-tiba Genk Alister datang."


Mereka berbisik tapi sangat jelas terdengar oleh Ana, cewek itu hanya bisa merunduk diam dan tak berkutik.


Lebih tepatnya, Ana hanya mengabaikan mereka. Ia tidak peduli dengan apapun yang dikatakan mereka.


"Em... Anastasia, aku-" ucap Bulan terpotong.


"Ana, panggil aku Ana."


Ana kembali tersenyum seolah tak terjadi apapun, hatinya benar-benar sudah kuat menghadapi segala ucapan mereka.


"Jadi gimana, aku boleh duduk di sini?"


"Mendingan pindah aja ya," balas Ana dengan tatapan memelas.


Bulan terdiam, ia yakin ada sesuatu yang disembunyikan oleh Ana. Terlihat dari cara bicaranya yang sangat gugup, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Brakkk


Pintu terbuka dengan kencang, mungkin Ana dan murid lainnya sudah biasa dengan suara pintu itu. Berbeda dengan Bulan yang sangat kaget.


2 orang yang cewek dan 3 orang cowok masuk ke kelas. Semua murid diam saat melihat kedatangan mereka.


Siapa lagi kalau bukan Alister dan teman-temannya.


Mereka langsung menyimpan tas mereka di bangku paling belakang di pojok kiri. Sementara Alister, ia terdiam di samping Ana, di bangku paling depan dengan tatapan kesal.


"Lo siapa berani duduk di situ?" tanya Alister.


Kancing atasnya terbuka 2, bajunya dikeluarkan, dan juga wajah yang berantakan membuat Bulan tidak takut sama sekali.


"Gue temennya, Ana. Gue murid baru di sini. Kenapa?" tanya Bulan sedikit menantang.


"Woah, murid baru udah berani," balas Tasya sambil bertepuk tangan.


Teman-teman Alister mulai menatap Bulan tidak suka, cewek itu membuat mereka kesal.

__ADS_1


"Udah. Udah. Bulan, plis pindah tempat duduknya ya..." ucap Ana memohon.


"Tapi..."


"Bulan plis..."


Ana terus memohon pada Bulan, sementara Genk Alister hanya tertawa melihatnya. Mereka tidak suka ada seorangpun yang dekat dengan Ana.


Terutama Tasya dan Alana, mereka berdua sangat tidak menyukai jika ada siapapun yang dekat dengan Ana. Mereka melandih mereka berdua lah cewek paling cantik di sekolah, bukan Anastasia Mysha.


"Kerjain pr gue, buruan!" ucap Alister sambil memberikan bukunya.


"Ini waktunya buat upacara, bukan buat ngerjain pr!" ucap Bulan tiba-tiba membuat seisi ruangan kaget.


Sudah cukup, kesabaran Alister habis. Anak baru ini benar-benar membuatnya kehilangan kesabaran. Alister langsung menatapnya tajam dan menggebrakkan mejanya.


"Lo murid baru, berani lo ngelawan sama gue? Lo gak tau gue siapa?" bentak Alister.


Genk Alister tersenyum, itulah yang mereka harapkan dari tadi, melihat Alister marah kepada cewek sok berani itu.


"Bukan urusannya gue lo siapa," ucap Bulan.


Ia memegang tangan Ana lalu tersenyum manis.


"Buka jaketnya, kita ke lapang sekarang."


Ana langsung membuka jaketnya dan membawa topi di dalam tasnya. Baru kali ini ada yang mau membelanya di depan kelas.


Wajahnya terus memasang wajah kaget, jantungnya terus berdebar tak karuan.


"Eh lo songong banget jadi murid baru, cantik nggak, pinter nggak, mulut doang yang pinter, najis!" bentak Alana yang tidak terima Alister direndahkan seperti itu.


Bukan cuma Ana yang kaget, semua murid yang ada di kelas sama kagetnya dengan dia.


Bulan, siapakah dia sebenarnya?


"Jijik bet gue liatnya, Al," balas Tasya sambil melipat kedua tangannya dengan sombong.


"Ayo kita ke lapang," ajak Bulan pada Ana sekali lagi.


Ana mengangguk, ia langsung mengikuti Bulan lalu keluar kelas.


"Huuuuuu..." Genk Alister menyoraki kepergian dua cewek itu.


Sementara Alister mengeratkan tangannya, kesal. Tidak boleh ada yang membela Ana.


Saat itu, ketua OSIS yang sok jago itu membela Ana mati-matian, dan pada akhirnya Alister menghajarnya sampai babak belur.


Haruskah ia melakukannya pada murid baru itu?


Sepertinya tidak.


Kedua teman ceweknya lah yang akan semangat melakukan hal itu. Tasya dan Alana. Ia yakin baik Bulan maupun Ana tidak ada yang akan selamat dari mereka.

__ADS_1


Tunggu saja pulang sekolah nanti.


Love you readers...


__ADS_2