
Happy reading...
"Iqbal?" ucap Ana tegang.
Alister rasanya tidak suka melihat ada seseorang yang terang-terangan memegang bahu Ana di depannya.
Tidak bisa menahan lagi, Alister langsung menarik tangan Ana agar lepas dari cengkraman Iqbal dan beralih di sisinya.
"Jangan pegang-pegang. Dia punya gue!" ucap Alister pada Iqbal dengan tatapan penuh kebencian.
Ana menatap mereka berdua penuh keheranan, ada apa ini? Apa mereka bedua bolos begitu saja dan meninggalkan pelajaran demi ke mall?
Tapi ada hal lain yang membuat jantungnya lebih berdegup kencang. Ya, ketika Alister mengatakan kalau Ana adalah miliknya.
Tidak, sekali lagi dia yakinkan dalam hatinya sendiri kalau dia tidak boleh terlalu berharap.
"Ana, pulang. Lo lagi sakit." Iqbal seolah tidak peduli lagi dengan Alister, dia hanya menatap Ana dengan sendu.
"Aku cuma ke mall, aku nggak papa ko."
Alister yang mendengar ucapan Iqbal pun berdecak kesal, menandakan kalau dirinya memang tidak suka jika ada seseorang yang mengatur Ana.
"Gue juga tau kalo dia sakit, nggak usah so care!" Alister sedikitpun tidak melepaskan Ana dari cengkramannya, entah apa yang terjadi pada dirinya, dia tidak peduli lagi tanggapan Iqbal padanya.
Sementara Iqbal hanya bisa mengembuskan napas, tatapannya masih sendu, tidak seperti biasanya. Kedua tangannya tersisip dalam saku celananya.
"Kalo ada apa-apa bilang gue, kalo dia macem-macem bilang gue," ucap Iqbal sambil tersenyum kecil pada Ana.
"Maaf," ucap Ana sambil merunduk.
"Nggak apa, lo bilang pergi ke mall sama Alister aja udah cukup," ucap Iqbal sambil berlalu begitu saja.
Ana langsung menggigit bibirnya bawahnya, menyebalkan, kenapa Iqbal harus memberitahu Alister?
Di sisi lain, Alister memicingkan matanya pada Ana sekaligus memasang wajah curiga. Bibirnya cemberut, seperti anak-anak yang sedang kesal.
"Jadi...lo yang bilang sama Iqbal?" tanya Alister dengan tatapan menyelidik.
Sementara Ana hanya merunduk kaku. Oke, kali ini dia salah, kepalanya semakin merunduk dan tak berani melihat Alister.
"Lo masih takut sama gue?"
Ana langsung menggelengkan kepalanya, sungguh, dia tidak takut pada Alister, yang mengganggu pikirannya hanyalah buku peraturan itu.
"Buku peraturannya," ucap Ana pelan seperti orang sedang berbisik, tapi apapun itu Alister dapat mendengarnya dengan jelas.
Dia hanya mengembuskan napasnya, tentu saja dia takut padanya, pada buku peraturan itu, Alister tentu saja sudah ambil adil dalam ketakutan Ana.
Jadi korban bullying, tidak ditemani, bukan hanya itu, Ana bahkan selalu menjadi korban dalam segalanya.
__ADS_1
Rasa bersalahnya semakin besar, selama tiga tahun dia sudah membuat Ana ketakutan seperti ini.
Alister membuka ponselnya lalu menmbuka line, dia langsung mengirim pesan pada Iqbal.
Alister:
Bal, gue janji nggak bakal macem-macem. Jadi pergi dari sini, jangan awasin gue terus.
Iqbal:
Sampe lo macem-macem, gue nggak bakal tinggal diem!
Mendapat ancaman dari Iqbal sedikitpun Alister tidak takut, dia tidak ingin menyakiti Ana bukan karena ancaman itu, tapi karena memang dia tidak ingin, ini benar-benar keluar dari hatinya.
Tiba-tiba saja Alister memegang tangan Ana, lebih tepatnya telapak tangannya. Ia merekatkan jarinya semakin dalam, membuat rasa hangat mulai terasa di tangan mereka.
"Alister?" tanya Ana kaget.
Tentu saja, eratan tangannya berbeda pada saat Iqbal berada di sini. Tadi Alister menggenggam tangannya dengan keras, tapi ini benar-benar terasa hangat dan lembut.
"Kita pura-pura pacaran, gue kesel banyak cewek yang liatin gue."
Ana masih tidak bisa berkata-kata, tubuhnya masih kaku atas perlakuan Alister yang tiba-tiba berubah.
Benarkah ini Alister?
Alister berjalan menuju ke jajaran outlet baju-baju yang sedang hits saat ini. Alister sadar baju-baju yang dipakai Ana sepertinya hanya sebatas kaos atau jaket, modelnya pun itu-itu saja, tidak seperti wanita lain.
Ana menggeleng, "Kata sahabat aku, baju pink cocok banget sama aku."
Alister menggelengkan kepalanya, "Lo cocok pake baju model apa aja, warna apa aja, nggak ada orang yang bisa batasin itu."
Alister langsung menunjuk pada patung wanita tersebut, di sana ada baju yang hangat untuk musim dingin berwarna hitam, sangat cocok untuk camping nanti.
"Udah aku nggak mau, kan tadi udah beli jaket."
"Satu lagi, please. Gue belum pernah liat lo pake baju item, itu warna kesukaan gue."
Yang Ana tahu, dia pasti tidak bisa menolak keinginannya, cowok itu pasti punya seribu satu cara agar Ana melakukan apa yang ia inginkan.
"Abis ini kita ke tempat rahasia," ucap Alister.
Ana mengangguk, terserah apa maunya, dia sudah tidak bisa mengelak lagi.
Alister membeli baju hangat tersebut, yang pasti sangat hangat sampai menutupi lehernya. Ana sedang sakit, saat camping nanti dia tidak boleh jatuh sakit lagi.
Saat Alister berada di kasir, Ana mengangkat wajahnya, tak sengaja matanya menatap Alister. Kemudian dia tersenyum kecil, senang rasanya Alister sudah berubah.
Tapi...apakah rasa senangnya ini akan bertahan lama? Tidak ada yang tahu.
__ADS_1
Hanya saja aku berharap bisa terus mengangkat wajahku dan melihatnya seperti ini, walaupun dia mengabaikanku. Ucap Ana dalam hati.
"Ayo," ucap Alister.
Ana mengerjapkan matanya beberaa kali, dia benar-benar tidak sopan sudah berani menatap Alister terlalu lama seperti itu.
Alister tersenyum sambil berjalan pelan. "Kenapa berenti? Padahal terusin aja liatinnya."
Deg!
Ana melotot kaget, rasanya dia ingin berteriak malu karena Alister menyadarinya, menyebalkan.
Ana kembali diam, dia tidak mau berbicara apa-apa lagi sampai di mobil Alister sekalipun.
Alister menjalankan mobilnya dengan bibir yang cemberut.
'Nyesel gue ngomong gitu' ucap Alister dalam hatinya.
"Oke sekarang kita pergi ke tempat rahasia gue."
Dan...tidak ada balasan, Ana masih terdiam, membuat Alsiter mengembuskan napas kesal.
Setelah lima belas menit kemudian dan melewati keheningan yang menyiksa, akhirnya mereka sampai di tempat itu.
Di sana hanyalah rumah tua kosong yang luas, penuh dengan bunga-bunga yang terawat dan danau hijau yang membentang indah.
Suasananya membuat Alister tenang, apalagi dengan semilir angin yang berhembus merdu, melantun begitu saja menyapa tubuhnya.
"Di sini tempat rahasianya," ucap Alister sambil menatap Ana.
Di sana Alister dapat melihat Ana yang tengah menatap bunga-bunga tersebut. Ya, bunga mawar merah yang indah.
"Lo suka bunga?" tanya Alister.
"Bunga mawar memang indah, tapi dibalik keindahannya ada duri yang tersembunyi," ucap Ana membuat Alister mengernyit bingung, tentu saja, kata-kata itu begitu baku tapi...memang benar kenyataannya seperti itu.
Jangan hanya melihat sesuatu dari keindahannya saja, kita juga harus tahu bagian terdalamnya yang bisa saja membuat kita sakit, atau bahkan hancur.
Alister menatap Ana, matanya yang indah dengan rambutnya yang terurai panjang, bibirnya tersenyum tulus membuat Alister tidak bisa mengalihkan perhatiannya.
Ana langsung memetik bunga itu, dan menciumnya sambil tersenyum kecil.
"Tapi aku suka bunga mawar, meskipun rasanya sakit."
Alister menghampiri Ana sambil mengerutkan keningnya dengan memasang wajah tanda tanya.
"Kenapa sakit?"
"Karena dulu aku pernah dikasih mawar sama cinta pertama aku."
__ADS_1
Love you readers....