TELUK ALASKA~

TELUK ALASKA~
episode 22


__ADS_3

Ditengah embun yang menyelimuti pagi hari yang gelap, tangan mungilnya tengah memasukan segala sesuatu yang ia butuhkan saat camping.


Saat ini memang kondisinya masih belum stabil, tapi apa boleh buat, Ana sangat ingin untuk mengikuti camping dan memiliki buku kenangan bersama teman-temannya.


Meskipun ia tahu, kebanyakan kenangan yang tersimpan di masa SMA hanyalah kenangan pahit saja.


Ditengah persiapannya, Ana menatap sebuah kantong yang berisi baju hangat yang diberikan Alister.


Ana menatap jaket pink yang biasa dia pakai di pantulan cermin, rambutnya di kuncir seperti yang ada di buku peraturan.


Ana tersenyum kecil sambil melihat cermin tersebut.


***


"Semuanya udah siap?" tanya Vano Ketua Murid XII ips 3.


Mata Alister langsung mencari-cari Ana. Dan di tiap sudut manapun, Alister tidak berhasil menemukan Ana.


Apa dia nggak ikut? Batin Alister.


Tapi pemandangan mengejutkan datang, Ana datang bersama Bulan dan...Iqbal.


Sial, kenapa harus bareng anak itu lagi?


Tapi rasa kesalnya mereda saat melihat Ana memakai baju hangat berwarna hitam pemberiannya.


Baju itu sangat pas sekali untuknya, menutupi leher agar membuatnya tetap hangat, dan rambut terurai penuh, membuatnya sangat cantik, berbeda seperti biasanya.


Dia terlihat tersenyum pada Bulan yang tengah berbincang padanya, ini pemandangan yang sangat jarang sekali terlihat.


"Lihat deh, anak-anak pasti pada ngomongin kalo kamu cantik," ucap Bulan sambil menatap Ana yang tengah tersenyum manis.


"Jangan berlebihan."


Bulan tertawa, dia sangat tahu dan sadar ada mata yang menatap Ana dengan tatapan suka, dan ada yang menatapnya dengan tatapan kesal.


"Lo cantik Ana, lo harus percaya sama gue." Iqbal tersenyum sambil berdiri di samping Ana.


Ana kemudian merunduk, tapi tiba-tiba dagunya diangkat oleh Iqbal.


"Lo udah janji kan sama kita nggak bakal ikutin buku itu lagi?" tanya Iqbal dengan serius.


Ana menelan salivanya lalu mengangguk pelan, perlahan dia menatap Iqbal dengan berani lalu tersenyum manis.


Langsung saja Bulan besorak gembira melihatnya, Bulan langsung menatap Tasya dan Alana dengan senyuman meremehkan.

__ADS_1


"Sial, kenapa dia jadi kek gini?" tanya Tasya pada Alana.


"Iqbal gue juga direbut!" bentak Alana kesal.


Sementara Alister, dia merasa hatinya sedikit terisris saat melihat Ana tersenyum pada Iqbal. Menyebalkan memang melihatnya tersenyum pada cowok lain selain dirinya.


"Semuanya udah siapkan? Kita berangkat sekarang."


***


Setelah menaiki bus sampai satu jam lebih, mereka turun di lereng bukit.


Semua peraturan dan susunan kegiatan yang akan dilakukan mulai di umumkan oleh tiap wali kelas.


"Jangan jauh-jauh dari aku," bisik Bulan.


"Oke," ucap Ana sambil melihat ke sekeliling.


Matanya tertuju pada Tasya dan Alana yang menatap Ana dengan sadis, tapi tiba-tiba Bulan memegang tangan Ana sangat kuat.


"Liat aku aja," ucap Bulan sambil menarik dagu Ana agar menatap matanya yang melotot.


Mereka kembali tertawa, dan pemandangan itu membuat Tasya fan Alana semakin kesal.


"Bulan..."


"Waktu itu Alister pernah suruh aku ngomong pake gue-elo," ucap Ana sambil berdiri.


Bulan pun demikian, dia berdiri dan berjalan menuju ke tempat berkemah.


"Kalo kamu nyaman ya pake aja, nggak apa-apa kok, yang penting kamu nyaman."


"Gimana kalo kamu duluan yang bilang gue-elo sama aku."


Bulan mengernyit sambil tersenyum kecil, "Yaudah. Sekarang gue mau tanya, kenapa Alister tiba-tiba minta lo buat ngomong kek gitu?"


Ana melotot, tidak mungkin kan kalau dia cerita tentang skandalnya?


"Gu-gue... Nggak tahu," ucap Ana dengan kaku.


Mereka pun kembali tertawa karena mendengar Ana yang sangat kaku menyebutkan kata 'gue' dan itu sngat lucu untuk di dengar.


"Nih pakek lipbalm, nanti bibirnya pecah-pecah loh, dingin bnget soalnya." Bulan memberikan lipbalmnya pada Ana.


"Oh nggak usah, udah bawa kok."

__ADS_1


Mereka terus berbincang-bincang tanpa sadar ada seseorang yang tengah tersenyum kecil di belakang mereka.


Ya, siapa lagi kalau bukan Alister.


"Vano, masih jauh?" tanya Alister di belakang mereka.


"Lumayan."


Sontak membuat Ana terkejut, ternyata di belakang mereka kini ada Alister, Iqbal dan Andra.


Mata mereka kini bertemu, Mata Ana yang indah kini beradu dengan Alister yang tengah berjalan tepat dibelakangnya.


"Iqbal, aku kira kamu sendirian."


"Gue kira, bukan aku kira." Alister membalasnya dengan tiba-tiba dan itu membuat pipi Ana memerah.


Selama perjalanan Ana kembali terdiam kaku, dia bingung hatus berbicara apa pada Alister.


Gimana kemarin dimarahin sama Mama aku? Ucap Ana dalam hati.


Bodoh! Tentu saja dimarahi.


"Eh, Bal. Tuh ada bunga mawar merah kesukaan Ana."


Mereka langsung menengok pada bunga mawar tersebut, sangat indah dan cantik. Ana tersenyum melihat bunga tersebut.


"Apaan sih bunga jelek kek gitu." Alister langsung memutar bola matanya.


"Heh, lo harus tahu ya. Cinta pertamanya Ana dulu kasih bunga mawar, wajar aja kalo dia suka!" balas Bulan.


"Najis, selera cowoknya rendahan!" balas Alister.


Tiba-tiba saja Ana tersenyum kecil, sungguh kali ini dia tidak bisa tahan lagi untuk tidak tersenyum.


"Seenggaknya lo harus hargain dong!"


"Cowok apaan masih kecil kasih-kasih bunga, pasti cowok gatel!" Alister terlihat kesal, tangannya terkepal penuh. Tapi kenapa Ana malah terkekeh melihatnya seperti ini?


Bulan cemberut, dia tidak mau lagi meladeni cowok sialan itu. Bibirnya asbun dan tingkahnya sok oke.


Bulan berbisik pada Ana, "Pengen gue sentil ginjalnya."


Mereka pun kembali tertawa, dan itu semua membuat Tasya dan Alana semakin panas, apalagi mendengar mereka tertawa disepanjang jalan itu sanggup mereka berdua naik darah.


"So cantik!" ucap Tasya.

__ADS_1


"Liatin aja, apa yang bakal kita lakuin di perkemahan nanti."


Love you readers...


__ADS_2