TELUK ALASKA~

TELUK ALASKA~
episode 3


__ADS_3

Happy reading...


Setelah upacara, seluruh siswa berhamburan ke segala arah. Ada yang menuju blok IPA, blok IPS, ataupun ke kantin untuk sekedar membeli minuman.


Ana pergi menuju kelasnya bersama Bulan, entah bagaimana Bulan mau menjadi temannya. Seperti hujan yang membasahi gurun, sangat tidak mungkin.


"Bulan..." panggil Ana pelan.


"Hmmm?"


"Ko kamu ga ngomong gue elo sih sama aku?" tanya Ana polos membuat Bulan tertawa kecil.


"Aku sih kadang pake gue elo ke siapa aja, tapi... ke kamu ko beda ya, aku juga gak tau kenapa."


Ana mengangguk tanda mengerti, kemudian saat mereka sudah sampai di pintu kelasnya, ia mengernyitkan keningnya pada bangkunya yang berada di paling depan.


Banyak sekali tipe-x yang ada di mejanya, padahal sudah jelas kalau peraturan di sekolah melarang semua murid untuk tidak mencorat-coret fasilitas sekolah.


Mereka menatap meja tersebut, di sana bertulis.


Ana ❤ Alister


Aku cinta mati sama Alister.


Alister segalanya buat aku tapi Alister nolak aku beberapa kali.


Bangsat!!!


Ana melotot melihat tulisan itu, cewek itu berani bersumpah kalau ia tidak pernah menulis hal tersebut.


Apalagi menulis kalau ia mencintai Alister dan berkata kasar seperti itu. Dan ia berani bertaruh kalau mejanya tadi pagi masih bersih tak bernoda sama sekali.


Ada apa ini?


Biasanya ia bisa bersabar dan sedikit melawan pada Genk Alister. Tapi kali ini, ia sudah tidak bisa menahan gejolak amarah yang ada di hatinya.


"Wow, liat tuh. Ternyata Ana suka sama Alister!" teriak Tasya di balik pintu dengan tawa yang dahsyat.


"Diem-diem suka juga dia, dasar cewek genit!" Balas Alana.


Mereka berdua terus tertawa dengan lantang membuat semua orang menoleh ke arah Ana.


"Huuuuuu, kacian yang ditolak mulu sama Alister. Lagian lo harus tahu ya, tipe cewek Alister tuh bukan kaya Lo!" ucap Tasya.


"Ga nyadar diri lo, gak punya kaca ya?!"


Semburat senyuman terpancar dari bibirnya, ia ingin marah tapi mungkin hanya membuang-buang waktu saja. Dan pada akhirnya selalu seperti ini.


Ia terus tersenyum dan tersenyum lagi.


Ia selalu ingat apa yang dikatakan oleh Mamanya.


Jangan membalas api dengan api, kamu harus membalasnya dengan air, agar api itu kalah. Karena kalau kamu membalasnya dengan api lagi, maka api itu akan semakin besar.


Hembusan napas keluar dari bibirnya, menahan setiap emosi yang bergejolak dan menutupinya dengan senyuman.

__ADS_1


"Ana, jangan diem aja dong!" ucap Bulan tidak mau kalah.


"Santai aja ko, lagian kalo Bu guru nanyain juga gak mungkin percaya."


"Maksudnya?"


"Kalo aku ditolak sama Alister, ga mungkin juga kan ngaku apalagi sampe nulis di meja. Malu-maluin aja," balas Ana dengan santai membuat Bulan tersenyum puas.


"Bagus! Untung aja aku sebangku sama kamu. Kita liat siapa yang menang oke?"


Bulan mengedipkan satu matanya ke arah Ana, membuat Ana tertawa kecil. Benarkah Ana tertawa? Biasanya ia hanya tersenyum tanpa memperlihatkan gigi putihnya tapi kali ini ia tertawa.


Semua orang tercengang termasuk Tasya dan Alana, dengan wajah masam, mereka langsung duduk di bangku mereka.


Bu Ai pun masuk, ia adalah wali kelas dari 12 IPS 3. Dan ia langsung tersenyum ke arah Bulan karena tahu ia adalah murid baru di kelas.


Selang beberapa detik Alister dan dua temannya lagi masuk ke kelas, mereka langsung duduk di samping Tasya dan Alana.


"Ada murid baru ya, ayo kedepan kita perkenalan dulu," ucap Bu Ai.


Bulan dengan percaya diri maju ke depan, ia tersenyum ke semua orang lalu berkata.


"Aku, Bulan Alexa. Panggil aja aku Bulan. Aku dulu sekolah di Jakarta Utara. Alasan aku pindah ke Bandung karena pekerjaan Ayah dipindahkan ke sini sebagai kepala sekolah baru di SMA ini."


Mereka semua menganga mendengarnya, pantas saja Bulan yang murid baru sama sekali tidak takut dengan Genk Alister, ternyata ia adalah anak dari kepala sekolah yang baru. Sial!


Ini sebuah ancaman baru bagi mereka, apalagi ia tiba-tiba saja dekat dengan Ana.


"Nah sekarang, kamu boleh pilih tempat duduk, Bulan. Cari tempat yang masih kosong."


Bu Ai tersenyum lalu mempersilakan cewek pemberani itu untuk duduk. Tapi sebelum duduk Bulan kembali berkata.


"Tapi Bu, bangku Ana kotor. Ada yang corat-coret bangkunya."


Bagai tersengat lebah, Tasya dan Alana merasa tersindir atas perkataan Bulan.


Bu Ai langsung melihat tulisan yang ada di meja tersebut, ia menghembuskan napas kasar lalu beralih menatap Alister dengan tajam.


"Alister Reygan, pulang sekolah bersihin kelas ini sendirian selama satu Minggu. Hapus juga tulisan ini dan tiap tugas yang ibu kasih kamu yang maju ke depan!" bentak Bu Ai.


Apa? Satu Minggu?


Kenapa cowok itu?


Alister sama sekali tidak melakukan apapun, bahkan ia juga tidak tahu apa yang ditulis di bangku Ana.


"Loh Bu, ko gitu sih!"


"Jangan ngebantah!"


Alister mengepalkan tangannya kesal, sepertinya kali ini ia harus pasrah dengan hukuman tersebut. Mungkin dengan hukuman membersihkan kelas sendirian itu bukan masalah, tapi tugas?


Bu Ai adalah guru matematika.


Ia masuk jurusan IPS karena ingin memusnahkan matematika dari dunia ini, tapi ternyata ia salah, masih saja ada celah matematika untuk terus menghantuinya hidupnya.

__ADS_1


Ia berdecak kesal seraya memicingkan matanya kepada guru menyebalkan itu.


"Siapa takut!" jawab Alister dengan santai.


***


Sepulang sekolah, ada perasaan yang mengganjal di hati Ana, terlebih terlihat dari ekspresi Alister kalau ia tidak melakukan hal itu.


Di balik semua tulisan itu, ia tahu kalau Tasya dan Alana yang menulisnya bukan Alister.


Bulan sudah pamit pulang bersama Ayahnya, entah dia menunggu di ruang kepala sekolah atau langsung pulang, ia tidak tahu. Yang pasti kini, ia sedang berada di gerbang.


Satu hal yang dilakukan Ana, cewek itu malah berbalik menuju kelasnya. Dan ia tahu resiko yang akan ia terima.


"Biar aku yang sapuin sama pel, kamu yang angkatin bangku," ucap Ana membuat Alister tersentak kaget.


"Ngapain lo di sini, sana pulang!" balas Alister.


Untuk apa Ana kemari? Sementara teman-temannya yang lain malah meninggalkannya. Menyebalkan sekali.


Kenapa harus Ana si kutu buku dengan segala keculunannya?


Jaket pink? Buku pink? Semua berwarna pink seperti bocah TK.


"Aku tau bukan kamu yang nulis," balas Ana.


"Terus lo mau pura-pura baik depan gue?"


"Enggak juga."


"Gue gak peduli, mendingan lo yang beresin ini semua dan gue pulang sekarang juga!" Alister berkata dengan keras, juga tatapan yang penuh dengan kebencian ia pancarkan kepada Ana.


Tapi bukannya takut Ana malah tersenyum dan menjawab.


"Oke," ucap Ana lalu mengangkat bangku satu-satu.


Alister terkejut, tapi persekian detik ia langsung menghilangkan ekspresi terkejutnya.


Tanpa ragu, cowok itu meninggalkan Ana begitu saja sendirian di kelas.


Kenapa cewek itu gak pernah marah? Tanya Alister dalam hatinya.


Kemudian, ia menjalankan mobilnya yang ia simpan di luar sekolah menuju tempat tongkrongan nya.


"Eh bro, cepet banget, udah beres lagi?" tanya Andra. Sementara Iqbal terus menatap bokong cewek yang ada di depannya.


"Si Ana yang beresin," balas Alister santai.


"Bagus, biar tau rasa tuh bocah!" ucap Tasya sambil berkacak pinggang.


Entah kenapa ada sedikit rasa tidak tega terbesit dalam benaknya, teman-temannya yang melakukan kesalahan, cewek itu yang lagi-lagi kena.


Alister terdiam, tidak biasanya ia seperti itu. Tidak, bagaimanapun karena cewek itu ia di hukum.


Anastasia Mysha.

__ADS_1


Love you readers...


__ADS_2