TELUK ALASKA~

TELUK ALASKA~
episode 15


__ADS_3

"Sebutin satu alesan kenapa aku harus ngabulin permintaan kamu?!" tanya Ana dengan wajah yang serius.


Sementara Alister malah menaikkan Alis kanannya, dan menatap Ana dengan senyuman pertanda bahaya, wajahnya begitu mengintimidasi. Seringaian kecil mulai muncul lalu ia mendekat pada Ana sambil berbisik.


"Kalo lo gak ngabulin permintaan gue. Siap-siap aja, satu sekolah tahu tentang skandal yang udah kita lakuin."


Ana memasang wajah seakan ingin menikam cowok itu sekarang juga, marah, malu semuanya bersatu di dalam tubuhnya. Benar, cowok itu sangat menyebalkan dan memiliki aura negatif disetiap keberadaannya.


Wajahnya kini memerah, bingung apa yang harus ia lakukan, antara mengabulkan permintaan Alister atau satu sekolah tahu tentang....


Nooo!!!


"Deal?" ucap Alister seraya menatap Ana dengan senyuman serta alis yang diangkat penuh semangat.


"Kamu pikir-"


Alister kembali membuat Ana terkejut, dia menutup bibir Ana dengan telunjuknya. Seketika Ana berhenti, bukan hanya berhenti berbicara tapi berhenti bernapas juga.


"LO pikir, bukan KAMU pikir!" ucap Alister penuh kemenangan.


"Kalo gue denger lo ngomong 'aku-kmu' lagi di sekolah, liat apa yang bakal gue lakuin!"


Ana mendengus, dia memutar bola matanya lalu memeluk tasnya yang basah. Sesekali dia menatap tangannya yang menkerut, dingin rasanya menelusup kesetiap inchi tubuhnya.


"Mau pulang," ucap Ana pelan.


Alister menatap ke arah manatanya tertuju, dan saat ini dia tahu Ana sedang kedingininan.


"Nih pake." Alister memberikan sebuah syal kepada Ana dengan senyuman, Ana merasakan itu, bagaimana tatapan matanya yang tulus membuatnya tidak pikir panjang lagi untuk mengambilnya.


"Makasih," ucap Ana membalas senyuman Alister.


"Pake aja, itu syal awalnya buat nyokap gue. Tapi gue nggak berani ngasih, jadi syal itu bulukan deh di mobil."


Ana memakai syal merah yang tebal itu, begitu hangat. Dia tersenyum kecil, syal yang diberikan Alister mirip sekali dengan syal pengantin Goblin yang cantik.


"Kenapa?" tanya Alister sambil menjalankan mobilnya.


"Syalnya enak, anget."


Alister kembali tersenyum, dia menatap jalan yaang basah, hujan sudah mulai surut. Tak terasa, hanya dengan menjemput Ana ke makam Ayahnya lalu bercanda di dalam mobil bisa menghabiskan waktu tiga jam, waktu memang cepat beralalu.


Setelah 10 menit kemudian, mereka bisa melihat sebuah rumah putih tua dengan halaman hijau yang membentang.


Rumah siapa lagi kalau bukan rumah Ana. Alister berhenti tidak di depan rumahnya, melainkan tempat yang tertutup oleh pohon sebelum rumahnya.

__ADS_1


"Makasih udah nganterin sampe rumah."


Alister mengangguk, lalu menunjuk rumah Ana dengan dagunya.


"Masuk cepet, nanti nyokap lo khawatir. Nanti malem gue ke rumah lo."


"Ke tempat rahasia ya?" tanya Ana dengan sedikit tawa, begitupun Alister.


"Oke."


Ana langsung keluar dari mobil, untunglah hujan sudah reda, ia berlari kecil memasuki rumahnya.


***


Seaampainya di rumah, Alister langsung membasahi tubuhnya dengan shower hangat, membuat tubuhnya sedikit rileks. Mungkin ini bisa menghentikannya untuk memikirkan cewek polos yang mudah ditipu tersebut.


Tapi... Dia kembali terbayang, kenapa bisa menyakiti cewek yang tidak pernah mengusik kehidupannya sama sekali.


Terutama kejadian tadi siang sepulang sekolah, saat Iqbal mengembalikan mobilnya.


"Gue disuruh nganterin mobil lo sama Tasya." Iqbal melempar kunci itu secara kasar.


Alister melotot, tatapan bringas mulai keluar darinya. Tentu saja, tidak ada hujan ataupun angin tiba-tiba Iqbal kasar kepadanya, membuatnya kesal.


"Lo bisa nggak jangan ganggu Ana lagi?" ucap Iqbal dengan serius.


Alister mengerutkan keningnya bingung, bukankah selama ini Iqbal baik-baik saja jika ada yang mem-bully Ana? Kenapa baru bertindak sekarang?


"Dari dulu ke mana aja, bro!" ucap Alister seolah tidak peduli.


"Dari dulu? Dari dulu lo bilang? Denger ya, lo pindah ke sini baru 2 tahun, sementara gue sama Ana di sini dari dulu."


Iqbal menahan napasnya yang menggebu, ini adalah kesempatannya untuk berbicara selama tidak ada Tasya dan Alana yang mengganggu.


"Lo nggak tahu apa-apa, bro!" ucap Iqbal dengan pelan, perlahan ia menarik napas lalu kembali berkata dengan lantang.


"LO NGGAK TAHU APA AJA YANG UDAH GUE LAKUIN BUAT DIA, LO NGGAK TAHU HUBUNGAN GUE SAMA ANA KEK GIMANA, SEMUANYA NGGAK ADA YANG LO TAU!"


Cukup, itu semua membuat Alister kaget sekaligus lemas. Dia memang membenci Ana, bahkan jijik. Mengganggu Ana adalah hobinya tersendiri saat masuk SMA.


Tapi... Saat mendengar kata 'hubungan' yang keluar dari mulut Iqbal, itu cukup membuatnya terganggu. Rasanya, ada yang mengganjal dan tidak dapat ungkapkan.


Lamunan beberapa jam lalu membuatnya tersadar kalau malam ini Alister ingin bertemu dengan Ana, dia ingin mengajak Ana ke tempat rahasianya dan bertanya tentang Iqbal.


Terlalu banyak pertanyaan, membuatnya mati penasaran. Dan ia harus tahu saat ini juga.

__ADS_1


Alister beranjak dari kamar mandi lalu membuka ponselnya yang penuh dengan chat dan panggilan tak terjawab dari Tasya


Tasya:


Lo di mana? Kita kumpul jam 10 di cafe.


Tasya:


Lo jadi datang kan?


Tasya:


Pokoknya harus ikut!


Tasya:


P


P


P


P


P


P


P


P


Tidak ada satupun pesan Tasya yang dianggap olehnya, Alister menghela napas lalu bergegas untuk ke tempat Ana.


Saat ia menuruni tangga, telihat pemandangan yang tak asing untuk Alister. Ayahnya sibuk dengan laptop, begitupun dengan Ibunya yang sibuk dengan berkas-berkas yang sedang ia periksa. Padahal posisi mereka sedang berada di meja makan, mengesankan, itu semua membuat Alister tidak tertarik lagi.


"Alister, ayo makan." suara wanita paruh baya itu tidak mengurungkan niatnya untuk keluar.


"Bi...udah makan?" tanya Alister pada Bi Asih, pembantu kesayangannya yang sedang membawakan minum untuk orangtuanya.


"Belum, nanti saja Bibi mah gampang."


"Nanti Alister bawain makanan ya buat Bibi, tapi kalo kemaleman Bibi makan aja duluan."


love you readerss...

__ADS_1


__ADS_2