
Happy reading...
"Berisikkk!! Iya. Iya. Tadi malem aku cuma pura-pura tidur, puas?"
Jika saja dia bukan cewek mungkin Alister sudah menghabisinya sampai semua giginya rontok. Tapi... Entah kenapa dengan melihat wajahnya yang semu merah karena malu itu membuat Alister campur aduk.
Ada rasa ingin marah karena Ana mengabaikannya tadi malam, ada rasa senang karena Ana berani terus terang.
"Kenapa pura-pura?" tanya Alister bingung.
"Jangan bahas lagi."
"Jujur aja, gue nggak bakal ngigit ko."
Ana masih terdiam sementara Alister sambil menunggu jawaban Ana langsung menjalankan mobilnya menuju tempat rahasianya.
Tempat di mana hanya dia yang tahu seorang.
"Lo nggak mau jujur?"
"Aku cuma-" ucap Ana langsung dipotong oleh Alister dengan cepat dengan nada tegas.
"Gue. Bukan aku!"
Ana sedikit menatap Alister, karena merasa bersalah sedikit, ia langsung menuruti perintahnya.
"Gu-gue..."
Seketika Alister tertawa terbahak-bahak mendengar Ana yang gugup mengucapkan kata 'gue' di depan Alister.
"Lo kenapa sih gugup banget?"
Ana merundukkan kepalanya. Bukannya gugup atau apa, tapi mengucapkan kata 'gue' sudah sangat asing ditelinganya.
"Dulu, kata sahabat aku. Aku nggak pantes ngomong gue-elo."
Alister mengerutkan keningnya. Sahabat? Pertanyaan itu muncul dari benaknya.
"Coba gue pengen denger sekali lagi."
Ana mengok dengan memberikan wajah tanda tanya.
"Ngomong gue lagi."
Ana menghirup napas dalam-dalam, menyebutkan kata 'gue' itu seperti kata yang haram baginya.
"Gue... Gue... Gue..."
Alister berdecak kesal. "Udah. Udah. Jangan maksain kasian nak orang."
Ana cemberut, sementara Alister tersenyum kecil sambil memutar kemudinya menuju perkotaan. Di sana berjejer mall besar dan tempat-tempat makan lainnya.
"Mau ke mana?" tanya Ana sambil memandangi sepatunya.
"Makan dulu."
Sambil mengemudikan mobil sesekali matanya melirik Ana yang tengah memandangi sepatunya.
"Makan di mana?"
"Emm...lo mau makan apa?" tanya Alister kemudian kembali melirik Ana yang matanya masih merunduk.
Sepertinya dapat terhitung dengan jari saat Ana menatapnya. Ketika tatapan seriusnya muncul, ketika cewek itu sedang terkejut, kesal, dan marah.
Tapi sayangnya jika sedang senang dan mengobrol santai seperti ini, Ana hanya merunduk, menatap sepatunya dan sesekali memainkan jarinya?
__ADS_1
Gugup? Bukan. Alister yakin ini bukan gugup. Dia sadar bahwa mereka baru pertama kali berbicara seperti ini setelah sekian lama Alister membully-nya. Tapi yang lebih aneh, Ana merunduk ketika ditanya atau sedang mengobrol dengan seorang pria.
Baik itu teman sekelas lain bahkan si ketua osis sekalipun. Apa ada yang salah?
"Emang aku pantes ya ngomong kalo aku mau makan apa?" jawaban itu keluar dari bibir Ana begitu saja.
Sekali lagi Alister bingung. Mungkin saja dia terlalu sering menyakiti Ana, merasa canggung adalah alasan yng paling tepat untuk sekarang.
"Ya pantes lah." Alister tersenyum tipis sambil sesekali menatap Ana yang semakin merundukkan kepalanya.
"Kamu ada maunya kan makanya ngajak aku makan?"
What?
Mendengar perkataan itu Alister langsung melotot kaget, dia mengajak Ana makan karena ia langsung pergi dari rumah tanpa sarapan terlebih dahulu, dan ia yakin Ana sama sepertinya.
"Cuma makan doang, nggak lebih."
Alister mengembuskan napas, lalu memarkirkan mobilnya di sebuah restoran. Mereka pun turun dengan Ana yang masih menjaga jaraknya.
Mereka masuk ke dalam restoran, pelayan lalu menyimpan daftar menu di atas meja yang mereka tempati.
"Di buku ini ditulis, kalo cowok tiba-tiba ngajak makan, jangan mau. Soalnya mereka pasti ada maunya."
Ucapan Ana barusan berhasil memhuat Alister mengelus dadanya. Menurut buku? Apa dia selalu membaca buku tips dan trick memcari cowok yang baik? Tidak masuk akal.
"Buku apa sih maksud lo?"
Ana mengeluarkan sebuah buku berwarna pink. Bukan, ini bukan buku yang biasa ia bawa ke mana-mana. Ini buku yang berbeda, Alister yakin dia baru pertama kali melihat buku tersebut.
Sementara itu, Alister mengalihkan perhatiannya pada pelayan yang sudah tersenyum menunggu pesanan dari mereka.
"Saya pesan Eat Happens satu sama moccacino satu." Alister mengalihkan pandangannya pada Ana yang sedang serius membaca buku tersebut.
"Eat Happens dua aja, Mbak. Moccacino satu sama susu hangat satu." Alister mengubah menunya agar pelayan tersebut tidak menunggu terlalu lama.
"Itu buku apa?"
"Ini buku yang sahabat aku tulis dulu." Alister menaikkan Alis kananya bingung.
"Sahabat aku dulu tulis buku ini buat aku."
"Isinya apa?" tanya Alister penasaran, jika sampai Ana tidak menjawabnya dia akan langsung merebut buku itu sekarang juga.
"Halaman pertama isinya tentang penampilan...Satu, aku nggak boleh pake makeup bahkan lipbalm sekalipun. Dua, rambut aku harus dikuncir. Tiga, nggak boleh oake parfum. Empat-"
Alister yang kesal mendegar ucapan Ana langsung merebut buku tersebut.
"Ih...jangan diambil!"
Alister tetap mengabaikan Ana, dia melihat peraturan-peraturan yang tertulis di buku tersebut. Mengesankan! Ingin rasanya ia merobek buku tersebut. Kenapa dia masih saja mematuhi aturan-aturan yang tak berguna ini?
Siapa yang menulisnya?
"Rambut harus dikuncir? Tapi kok sekarang nggak dikuncir?" tanya Alister mengalihkan perhatian Ana agar tak tertuju pada buku tersebut.
Ana terdiam lalu memegang rambutnya yang terurai. Alister yang melihatnya sangat bingung, padahal rambut Ana sangat hitam lebat dan indah, kenapa harus dikuncir?
Makananpun tiba, Eat Happens adalah sebuah roti yang unik. Di mana roti tersebut memiliki dekorasi perkebunan yang lengkap dengan bebatuan dan ulat.
GAMBAR KUE TAPI ADA ULATNYA, BAYANGIN AJA SENDIRI;;
"Kok ada uletnya?" tanya Ana membuat Alister tertawa, rasa kesalnya pada buku tersebut hilang saat Ana berkata seperti itu.
"Makan aja, kalo nggak mau buat gue aja."
__ADS_1
Mereka pun memakan roti tersebut dengan santai. Rasanya sangat enak, tapi bagaimanapun Ana merasa aneh saat melihat ulat itu menempel dimakanannya, seperti ulat sungguhan.
Setelah lima belas menit berlalu, mereka selesai sarapan, Alister membayar makanan tersebut. Ketegangan mulai muncul dari wajah Ana, dan tentu saja Alister menyadarinya.
"Gue buktiin sama lo, kalo buku ini salah! Gue, ngajak makan lo bukan karena ada maunya!"
Ana terdiam dan masih merunduk, tiba-tiba saja Alister mengangkat dagu Ana agar menatap matanya langsung.
"Lo mau liatin gue juga gue nggak ngigit, jadi kalo tiap ada orang yang ngajak ngobrol itu liatin matanya, jangan nunduk," ucap Alister dengan nada lembut.
Melihat matanya yang bulat membuat Alister sadar, kenapa dia begitu jahat pada Ana dulu?
"Ke mall dulu yuk," ajak Alister dan kembali Ana menunjukkan wajah ragunya.
"Kenapa? Di buku ini nggak boleh bukan lo ke mall sama cowok?"
Ana merunduk, entah kenapa akhir-akhir ini ia sering melanggar peraturan yang ditulis buku itu. Membuatnya merasa tidak enak.
"Kembaliin bukunya." Ana mengalihkan pembicaraan. Sudah dipastikan jawabannya adalah 'iya' dan itu membuat Alister semakin kesal.
"Ayo ke mall." Alister tidak ingin dibantah kali ini sementara Ana mengigit bibir bawahnya, terlihat bahwa ia sangat gugup kali ini.
"Aku ke wc dulu."
Tidak mau menjawab pertanyaan Alister, haruskah Ana bersembunyi dalam toilet seharian agar dia bisa langsung pulang?
Ana langsung beranjat pergi dari tempat duduk tersebut. Sementara Alister memanfaatkan keadaan. Di dalam buku tersebut ia dapat melihat aturan-aturan aneh lainnya.
PERATURAN TENTANG COWOK!
1. Nggak boleh senyum sama cowok
2. Nggak boleh liat-liat cowok.
3. Jangan tebar pesona sama cowok.
4. Jangan ngechat cowok.
5. Jangan pergi bareng cowok.
6. Jangan pernah jatuh cinta
7. Jangan terima pemberian dari cowok\, apapun itu.
8. Jangan curhat atau punya temen deket cowok.
9. Kalo mau pacaran\, harus dapet izin dari kita.
Note: jangan pernah mau diajak ke mana-mana sama cowok oke Ana cantik, mereka semua pasti ada maunya. Sekalinya lo senyum, lirik-lirik, apalagi chatingan, lo bakal ABIS!
Rasanya dia ingin menghajar orang yang sudah menulis ini, matanya terasa panas membaca tulisan peraturan aneh itu.
Siapa ini? Meskipun dia suka membully Ana tapi peraturan seperti ini rasanya berlebihan.
Alister terus membaca peraturan lainnya seputar penampilan Ana, dan juga apa yang harus Ana lakukan setiap minggunya.
Yang lebih memuakan lagi, ada peraturan di mana setiap minggunya Ana harus memberi mereka uang.
Sial! Ini namanya keterlaluan, kenapa dia masih diam saja diperlakukan seperti ini?
Alister terus membuka lembar demi lembar dan ia yakin ia mampu mengingat setiap peraturan tersebut dalam sekali baca.
Sampailah Alister pada lembar terakhir. Buku ini memang tidak terlu tebal, hanya berisi peraturan konyol yang tidak berguna.
Di sana ada sebuah foto yang sangat mengejutkan, sebuah foto yang membuat Alister menggeleng tidak percaya.
__ADS_1
"Tasya...Alana?" ucap Alister kaget saat melihat foto Ana bersama Tasya dan Alana tengah tersenyum ceria.
Love you readers...