TELUK ALASKA~

TELUK ALASKA~
episode 16


__ADS_3

happy reading...


"Anastasia Mysha," ucap Bu Siti.


"Sakit, Bu."


Suara itu, suara yang tak asing di telinga Alister. Ya, itu suara Iqbal, Alister langsung membulatkan matanya, bagaimana mungkin Iqbal tahu keadaan Ana sementara dia tidak? Apa Ana mengabarinya?


Bukan hanya Alister yang kaget, satu kelas dibuat kaget karena Iqbal, yang termasuk genk Alister mengetahui kalau Ana sakit.


"Ada suratnya?" tanya Bu Siti.


"Ada, Bu."


Tiba-tiba saja hal yang tak terduga terjadi Iqbal maju dan memberikan suratnya kepada Bu Siti.


Ada apa ini? Kenapa Iqbal mendadak jadi pahlawan, dan kenapa hati Alister berkecamuk seolah dia tidak terima atas apa yang sudah terjadi.


Ana, lo kenapa? Ada hubungan apa antara lo sama Iqbal? Ucap Alister dalam hati.


Mata tajamnya kini beralih menatap Iqbal, tangannya mengepal menahan emosi. Apa lagi saat melihat Iqbal sedang membisikan sesuatu kepada Bu Siti, mereka berdua seperti sedang membicarakan hal penting yang tidak boleh diketahui oleh siapapun, menyebalkan.


Sial, dua jam pelajaran terlewatkan begitu saja dengan memikirkan Iqbal dan Ana, Alister seolah terguncang dengan semua itu.


Yang sedang ia lakukan saat ini hanya memutar-mutar pulpen yang yang ada ditangannya dengan mata kosong yang hampa.


"Woy, lu kenapa diem kek gitu? Galau nggak ada yang bisa di bully?" tanya Andra sambil menaikan alis kananya dan sebelah tangannya merangkul bahu Alister.


"Lo nggak ngerasa aneh apa sama Iqbal yang tiba-tiba bilang cewek sialan itu sakit?" tanya Alister penuh penasaran atas reaksi temannya.


"Nggak."


"Kenapa?" tanya Alister.


"Udahlah ngapain juga ngurusin si Iqbal, mending kita makan ke kantin." ucap Tasya sambil menarik tangan Alister.


"Berhubung tadi malem lo nggak datang, hari ini lo wajib traktir kita-kita, iya nggak?" tanya Alana pada Alister berusaha meyakinkan.


Alister mengangguk, dan dia keluar kelas bersama teman-temannya. Tapi saat di kantin hal mengejutkan kembali terjadi, matanya langsung tertuju pada Iqbal yang tengah duduk bersama Bulan.


"Itu Bulan temennya si Ana, kan?"tanya Tasya pada Alana.


"Nggak ngerti gue, si Iqbal mah semua cewek jadi inceran!" jawab Alana seolah tidak peduli.


"Kalo menurut gue sih, si Iqbal lagi ngomongin cewek itu, soalnya kalian tahu kan si Iqbal itu..." jawab Andra tiba-tiba terpotong.


"Kenapa lo yakin Iqbal ngomongin Ana? Ada hubungan apa dia? So care banget, najis!" tanya Alister ingin tahu, sontak Tasya menatap Alister .


Tentu saja pertanyaan itu keluar dari mulut Alister tanpa sadar, beberapa detik kemudian Alister langsung menutup mulutnya, sadar bahwa mereka semua menatapnya dengan tatapan aneh.

__ADS_1


Gue ngomong apa sih? Bego! Bego! Batin Alister.


"Apaan sih lebay banget cuma sehari nggak masuk doang langsung heboh!"


"Udah. Udah. Ayo duduk," ucap Andra.


Tasya memutar bola matanya lalu menatap mata Alister, cowok yang dia sukai sejak dua tahun lalu. Begitulah, dia tidak mau menghancurkan ikatan persahabatannya. Oleh karena itu, sekuat tenaga dia berusaha menahan rasa itu. Debaran rasa yang selalu hadir saat Tasya menatap wajahnya yang tampan.


Tapi kali ini ada yang berbeda, dari sorot matanya yang tajam, mimik wajahnya pun terlihat frustasi, dari sikapnya yang lemas, sepertinya ada yang aneh dengan Alister.


Kenapa kali ini dia terlihat sangat ingin tahu tentang cewek itu?


Alister terus terdiam, sementara Tasya masih menatap Alister.


"Lo kenapa? Ada masalah? Lo bisa cerita sama gue." Perlahan tapi pasti Tasya meletakan tangan mungilnya ditangan Alister.


Raut wajahnya penuh harapan pada Alister, dia ingin menjadi sandaran untuknya, menjadi orang yang mendengar keluh kesahnya, setidaknya Tasya bisa tahu kalau Alister tidak sedang memikirkan Ana.


"Nggak ada hiburan aja," ucap Alister sambil perlahan menyingkirkan tangan Tasya.


"Kita ini udah kelas 3, bentar lagi kelulusan, pasti banyak acara-acara sekolah yang ngehibur kita, contohnya acara api unggun lusa."


Benar, akan ada acara camping bagi anak kelas 3 di sebuah gunung yang terkenal. Alister baru sadar acara itu diadakan lusa.


Seluruh anak kelas 3 memilih gunung sebagai foto pengambilan untuk buku kenangan. Satu hal yang ada dipikiran Alister.


Jika Ana sakit, apa dia bisa ikut acara itu?


Pikiran Alister terus berkecamuk tak karuan memikirkan Ana, sampai jam pelajaran berlanjut ia masih tidak bisa fokus.


5 jam berlalu, bel pulang berbunyi semua wajah yang mulanya kusam kini cerah gembira menyambut bel tersebut.


"Lo kenapa sih diem terus?" tanya Andra penasaran dengan sahabatnya.


"Lagi nggak fokus belajar."


"Emang lo pernah fokus belajar?" tanya Andra sambil memicingkan matanya dengan senyuman meledek.


Alister tersenyum lalu menepuk kencang bahu Andra.


"Gue langsung pulang ya, bye Tasya, Andra, Ala... Eh Alana ke mana?" tanya Alister.


"Tau tuh sama si Iqbal," ucap Tasya sambil cemberut.


Biasanya Alister setiap pulang sekolah tidak pernah langsung pulang, ada yang aneh dengan sikapnya, menyebalkan. Ditambah lalun Alister menolak tangannya, tidak seperti biasanya.


"Oke, bye. Gue pulang."


Alister tidak peduli pada Tasya yang cemberut, dia juga tidak peduli pada Alana yang pergi mengejar Iqbal. Dia hanya ingin bertemu dengan Ana.

__ADS_1


***


Malam tiba, seperti biasa Ana menulis di depan bulan yang bersinar terang. Ada yang berbeda, biasanya Ana membuka jendelanya agar angin malam menyapa wajahnya, tapi kali ini dia menutup jendelanya sambil menulis di buku pink lusuh miliknya.


Bulan, aku menutup jendela bukan karena tak ingin bertatap muka denganmu.


Angin, aku menutup jendela bukan karena tak ingin disapa olehmu.


Hanya saja, aku igin ada seseorang yang datang dan mengetuk jendela ini.


Seperti malam sebelumnya.


Ana menutup bukunya lalu memangku dagunya dengan kedua tangan mungilnya di depan jendela. Andaikan ada suara ketukan diluar sana, dia bisa langsung segera membukakan jendela tersebut.


Satu jam


Dua jam


Tiga jam


Dan...


Tok...tok...tok...


Tidak ada jawaban dari Ana, Alister mengetuk jendela beberapa kali tapi masih tidak ada suara.


Perlahan ia mendorong jendela tersebut, dan seperti biasa jendela itu hanya tertutup namun tidak dikunci oleh pemiliknya.


Yang membuat Alister kaget, dia melihat Ana tertidur di meja belajar, tepat di depan jendela. Secara tidak langsung Ana tidur tepat dihadapannya.


"Ana..." panggil Alister dan Ana masih tidak bergeming.


Alister turun dari jendela dan beralih mendekati Ana, dia memegang kening cewek itu, tidak panas sama sekali, suhu tubuhnya masih normal.


Semburat senyum tipis muncul dari wajahnya. Melihat Ana tertidur lelap dan tahu kondisinya baik-baik saja. Oke, sepertinya dia tidak ingin mengganggunya. Saat Alister mau beranjak pergi tubuhnya berhenti seketika.


Bukan karena ketahuan macan tutul karena menyelinap masuk ke kamar anak gadisnya, tapi...hatinya tidak tega melihat Ana tidur di meja.


Alister luluh, dia mencoba mengangkat Ana yang tertidur lelap ke tempat tidurnya. Tangan kekarnya memangku Ana ke tempat tidur lalu menyelimutinya dengan selimut pinknya.


Oke...pink.


Tiba-tiba saja saat dia ingin keluar dari jendela, matanya fokus pada buku pink itu. Hatinya sedikit ragu untuk membaca buku tersebut, bagaimana jika isinya hanya hujatan untuk Alister Reygan?


Tidak, lebih baik dia tidak membacanya agar semuanya baik-baik saja.


Alister juga tidak ingin menghilang tanpa jejak, dia langsung duduk di kursi dan mengambil secarik kertas dari buku tersebut lalu menulis.


Lo tau, kita udah ngelakuin skandal dua kali sama malem ini. Kalo lo nggak mau rahasia kita kesebar, add line gue @alisterreygan ditunggu!

__ADS_1


Love you readers...


__ADS_2