TELUK ALASKA~

TELUK ALASKA~
episode 12


__ADS_3

Masih di dalam kelas, Ana menyeka keringat yang ada di pelipisnya, begitu basah sampai membuatnya mengeluarkan buku catatan lalu mengipas-ngipaskan ke arah wajahnya dengan mata yang tertutup.


Sesekali dia mengingat masa-masa saat dia masih bersama Tasya dan Alana, sahabat dekatnya. Dulu. Ya, sayangnya itu hanya sebuah kenangan yang indah bersama mereka.


Menyakitkan memang jika hidup penuh dengan kepalsuan, apalagi kepalsuan itu diberikan oleh sahabat sendiri, yang setia menemanimu, yang tersenyum saat kau senang, tapi menghilang saat kau susah.


Ana dapat mengingat dengan baik setiap kenangan bersama mereka beberapa tahun lalu. Saat itu mereka bertiga selalu bersama kemanapun.


"Ana, kamu cantik banget deh. Coba kalo kamu dandan kaya kita," ucap Tasya sambil duduk santai dan meminum es jeruk di rumah Ana.


"Kita masih SMP, buat apa dandan segala?" jawab Ana.


"Tapi kalo kamu gak dandan, kamu gak bakal bisa punya pacar. Lumayan lah buat traktir ini itu," balas Tasya sambil memainkan Alisnya.


Ana tertawa sambil mengedikan bahunya tidak peduli. Karena pada kenyataannya dia memang tidak memikirkan hal itu.


"Eh tau gak, kakak kelas yang gue kecengin itu tuh nge line gue dong," ucap Alana histeris sambil memeluk Tasya.


"Serius lo, mana sini." Tasya merebut hp Alana lalu membuka mulutnya kaget, tidak percaya.


"Najis! Jelek banget selera lo!" Tasya bergidik ngeri saat melihat foto cowok itu yang begitu jelek.


"Liat nih, jelekkan?" tanya Tasya pada Ana sambil memperlihatkan fotonya


"Baik, kan?" tanya Ana.


Alana tersenyum sinis lalu merebut ponselnya, "Mau jelek, buruk rupa kek, yang penting gue kenyang."


Tasya mengguncangkan tubuh Alana tidak percaya.


"Lo mau manfaatin duit nya kan?"


Alana tersenyum puas dan mereka pun hanyut dalam tawanya. Sementara Ana hanya terdiam.


Mereka berdua begitu antusias jika membicarakan soal cowok, apalagi tentang kakak kelas yang tajir, ketua basket, ketua OSIS dan berbagai jenis ketua lainnya. Membuat telinga Ana panas.


Dengan teliti, Ana kembali mengerjakan tugas seorang diri tanpa memedulikan mereka yang acuh tak acuh.


"Ana, nanti gue liat yah tugasnya. Lo kan paling pinter diantara kita," ucap Alana.


Tasya langsung tertawa mendengar ucapan tersebut, "Kayanya sih, emang dia doang yang pinter, jangan ngaku-ngaku deh lo!"


"Kita berdua juga pinter ko."


"Pinter nipu." Mereka berdua terus tertawa dengan gembira sementara Ana dengan santai mengerjakan tugas.


Seperti itulah mereka, menganggap keluarga mereka tidak mampu dan memanfaatkan cowok-cowok yang menyukai mereka.


Ana sempat menghela napas lalu menggelengkan kepala beberapa kali, sepertinya kedua sahabatnya itu memang tidak bisa berubah.

__ADS_1


Dalam hatinya, dia selalu bersyukur kalau mereka hanya menipu cowok-cowok dan memanfaatkan uangnya untuk kesenangan mereka.


Ana bersyukur kedua sahabatnya tidak memanfaatkannya, sampai suatu hari matanya terbuka. Kedua sahabatnya seperti pisau yang menusuknya secara perlahan di balik punggungnya.


Ya, ternyata mereka memanfaatkan aku juga. Batin Ana.


Semenjak memasuki masa SMA mereka masih tetap seperti itu, tidak berubah. Menunjukan wajah menor dengan baju yang ketat, dan berlaku seolah mereka adalah penguasa sekolah ini.


Terutama ada Alister di dalam Genk mereka yang mana selalu menjadi sorotan utama.


Dan kini Alister sedang berada di hadapannya sambil menatap wajahnya yang lelah.


"Ana," panggil Alister membuyarkan lamunan Ana yang sedang bernostalgia dengan kenangan indahnya.


Matanya langsung terbuka, terlihat amarah dan rasa sakit yang terpendam dari matanya, membuat Alister merindukan kepalanya.


Merasa bersalah? Sepertinya begitu.


"Gue-"


Sebelum Alister melanjutkan kata-katanya, Ana langsung berdiri dan memasukkan buku catatannya ke dalam tas.


"Minta maaf?" tanya Ana.


Menyebalkan, entah kenapa mulut Alister rasanya kaku. Cowok itu tidak bisa berkata apapun bahkan Alister tak berani menatap Ana.


"Tapi aku salah, Alister. Aku salah udah liat kamu dari sisi yang berbeda. Kamu sama aja kaya mereka!"


Deg


Ada apa dengannya? Kenapa rasanya sakit saat Ana berkata kalau dia sama saja dengan mereka.


Ya, tentu saja Alister sama dengan mereka. Bukankah mereka sahabatnya? Kenapa harus sakit?


Ana langsung menabrak bahu Alister, lalu pergi begitu saja. Tapi tepat depan pintu kelas Alister menahan Ana, menahan tangannya yang mungil dengan erat.


"Gue anterin lo pulang."


"Sebagai permintaan maaf?" tanya Ana yang sama sekali tidak berpaling.


"Enggak, gue cuma enggak enak-"


"Enggak enak karena aku udah beresin kelas sendirian?" tanya Ana tanpa ragu sedikitpun.


Alister menghela napas lalu menarik Ana untuk keluar dari kelas.


"Lepas! Jangan pegang-pegang aku. Nanti orang lain liat kalo kamu sama aku, nanti derajat kamu turun, Alister Reygan!"


Kali ini Alister menatapnya serius, Ana tidak pernah berkata setinggi itu padanya, apalagi membentak dan mengeluarkan isi hatinya. Karena yang biasa dia lihat adalah sosok Ana yang selalu sabar dan tersenyum.

__ADS_1


"Pertama yang harus lo tau, gue enggak malu sama lo!"


Ana menggelengkan kepalanya kesal, tidak ada lagi batas kesabaran dalam hatinya.


Dia langsung menginjak kaki Alister sampai membuatnya meringis kesakitan lalu melepaskan genggaman tangannya.


"Kedua, kalo kamu enggak malu sama aku. Buat apa kamu bilang kalo kamu belajar sama kelas lain?"


"Ana denger-"


"Aku sadar diri ko, siapa aku siapa kamu!"


Ana terus memotong ucapan Alister, masih terbayang di ingatannya wajah Ana yang cantik, yang selalu tersenyum. Berbeda jauh 180 derajat dengan saat ini yang tengah pergi menjauh dari hadapannya.


Ana berlari sekencang mungkin menuju gerbang sekolah, tak lama dia mendapatkan angkutan umum.


Tanpa melihat Alister sama sekali Ana langsung pergi meninggalkan sekolahnya. Dia tidak menangis, meskipun hatinya yang gundah dan sakit Ana tetap menahannya.


Seperti biasa Ana turun di sebuah tempat yang sepi, di sana pepohonan yang begitu tinggi dan besar tak membuatnya takut sama sekali.


Ana masuk melewati pohon-pohon tersebut dan tak lama dia berlari mendekati batu nisan tepat dia mengadu penderitaannya.


Dia sama sekali tidak peduli, mau hujan ataupun tidak yang pasti, dia ingin bercerita pada Ayahnya.


"Papa..."


Kali ini pertahannya runtuh, Ana langsung memeluk batu nisan tersebut sambil menangis.


"Papa, aku pengen cerita semuanya. Aku pengen Papa dengerin aku hiks...hiks..."


Ana berteriak sendirian di bawah batu nisan tersebut, kini hujan pun turun membasahinya seolah ikut menangis karenanya.


"Apa aku salah marah sama Alister? Apa aku salah?"


Meskipun Ana tahu tidak akan ada jawaban apapun, tapi setidaknya dia ingin hatinya merasa lega dengan mencurahkan isi hatinya.


"Aku selama ini sabar, senyum dan gak pernah marah sama Alister karena aku tau, dia enggak salah. Dia cuma terpengaruh sama Tasya dan Alana."


"Aku pikir Alister itu baik, aku pikir Alister itu enggak sama kaya mereka karena memang dari awal masuk SMA dia siswa yang baik. Tapi aku salah, Alister jahat. Dia sama aja kaya mereka semua yang cuma manfaatin aku. Aku enggak salah kan marah sama Alister?" teriak Ana sambil memeluk batu nisan di bawah rintik hujan yang deras.


Tiba-tiba saja seperti ada yang melindungi kepalanya dari air hujan. Rintik air yang membasahi wajahnya kini berhenti.


Ana langsung memutar badannya dan membuka mulutnya lebar karena dia sangat kaget melihat Alister.


Ya, Alister ada di sini mengikutinya lalu melindungi Ana dengan jaketnya agar tidak terkena hujan.


"Lo enggak salah, lo berhak marah. Gue emang jahat, Ana."


Love you readers...

__ADS_1


__ADS_2