
Alister berjalan memasuki rumahnya dengan wajah yang kusut. Dia menghembuskan napas kesal, karena seperti inilah rumahnya, sepi sunyi dan hening.
Dia langsung melihat jam ditangannya. Ternyata sudah jam lima sore.
"Bi, Mama sama Papa mana?"
"Belum pulang, Den."
"Harusnya mereka udah pulang, kan?"
"Katanya ada rapat, Den. Jadi kayanya malam ini bakal pulang telat."
Alister berdecak kesal, memang ini salahnya. Setiap mereka ada Alister selalu mengacuhkan mereka, tapi sebaliknya, jika mereka tidak ada Alister selalu memikirkan mereka.
"Bukan malem ini aja deh, tiap malem kayanya mereka rapat, sok sibuk!" ucap Alister kesal.
"Sabar, Den. Mereka kaya gini kan buat bahagiain Aden juga."
Cowok tampan itu langsung pergi menaiki anak tangga lalu membanting pintu kamarnya sekencang mungkin sampai membuat Bi Isah kaget.
Oke cukup, dari pada menunggu dan memikirkan orangtuanya sepanjang hari, lebih baik dia keluar lagi untuk menghilangkan penat. Tapi... Mobilnya?
Perlahan, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan ponsel kesayangannya.
"Tasya, mobil gue masih dipake nggak?"
"Duhh, mau di pake ya?" jawab Tasya di balik telpon.
"Iyalah, gue nggak bisa keluar!"
"Oke, besok ya. Makasih Rey dah... Tut...Tut...."
Sial! Alister benar-benar kesal. Tidak ada yang bisa menghiburnya selain keluar rumah, tapi mobilnya malah tidak ada.
Motor? Benar! Motornya.
Alister mengganti bajunya dengan kaus polos berwarna putih dan celana pendek cokelat agar dia terlihat santai.
Cowok itu segera pergi keluar menggunakan motornya, mungkin jika berkeliling mencari udara segar di tempat yang sejuk ia bisa sedikit rileks.
Tapi saat di perjalanan Alister melihat Ana keluar dari rumahnya dengan membawa sayuran dan keranjang besar.
Alister berhenti disamping Ana.
"Mau ke mana?" tanya Alister membuat Ana kaget.
"Datang tiba-tiba terus pergi seenaknya," balas Ana sambil sedikit mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Bukannya Ibu Negara yang usir gue?" ucap Alister sambil tertawa kecil.
"Iya sih."
Entahlah, melihat Ana cemberut seperti itu terlihat sangat lucu. Berbeda 180 derajat dengan apa yang selalu cowok itu lihat saat di sekolah yang selalu diam dan pemurung.
Imut? Kata-kata itu ada dipikirannya. Tapi seketika, dia langsung menghapus jauh-jauh kata itu dan menampar dirinya sendiri.
B aja sih.
Ana memicingkan matanya saat melihat Alister menampar dirinya sendiri.
"Kamu kenapa?" tanya Ana bingung.
Ternyata Ana melihat aksi gilanya, tidak. Cewek itu tidak boleh tahu apa yang ada dipikirannya, secepat kilat Alister mengembalikan wajah datarnya lalu berkata.
"Jangan kepo deh!"
Ana memutar bola matanya, baru saja beberapa detik yang lalu Alister bertanya kepadanya 'mau ke mana?' apakah itu bukan ke kepoan yang haqiqi?
Ana kembali cemberut dan langsung berjalan lurus meninggalkan Alister.
"Eh, Maen pergi aja. Lo belum jawab pertanyaan gue. Lo mau ke mana?" tanya Alister.
"Jangan kepo deh!" ucap Ana, membalas perkataan Alister.
"Lo mulai berani ya sama gue?" tanya Alister.
Ana memegang erat sayuran dan keranjang yang ia bawa, dia menarik napas dalam-dalam lalu berlari secepat kilat menuju tempat yang dia tuju.
"Woy!" ucap Alister kaget saat Ana lari dengan kencang.
"Maen lari aja tuh bocah."
Penasaran, hatinya tergerak untuk mengikuti Ana. Alister sendiri tidak tahu apa yang sedang membuatnya resah seperti ini.
Ternyata setelah Alister mengikutinya, dia mendapatkan Ana masuk ke dalam suatu gubuk kecil. Tidak tahu ada apa didalam gubuk itu, yang pasti Alister sangat penasaran.
Bukan, ini bukan kepo. Alister hanya ingin tahu saja.
Gubuk kecil itu penuh dengan dekorasi berwarna pink, Alister yakin itu semua Ana yang menghiasnya. Siapa lagi cewek yang suka dengan warna serba pink selain Ana?
"Heh, lagi ngintip ya?" ucap seorang anak kecil membuat Alister kaget.
Anak kecil tersebut menggunakan baju pink, rambutnya pendek, dan sedikit terlihat... Acak-acakan?
"Ga sopan banget sih, Lo siapa?"
__ADS_1
"Aku yang punya rumah ini lah, pakek nanya!"
Anak kecil tersebut menyilangkan tangannya di atas dadanya dengan erat, bukti kekesalannya karena tidak suka ada yang mengintip Ana seperti itu.
"Kak Anaaaa! Ada yang ngintipin kakak!" teriak bocah itu dari luar.
"Udah tahuuuu..." balas Ana dengan cengirannya.
Alister membelalakkan matanya saat mendengar kata 'udah tahu' dari mulut Ana, sepertinya ia menyadarinya.
Tiba-tiba saja pintu gubuk tersebut terbuka menampakkan sosok Ana yang sudah tersenyum manis dan membuka pintunya lebar-lebar pertanda kalau ia mengizinkan Alister untuk masuk.
"Ayo masuk," ucap Ana.
Sementara pikirannya berkata 'untuk apa ia masuk?' tapi hatinya berkata lain, seolah memintanya untuk masuk lebih jauh. Oke, kali ini ia akan mengikuti apa yang hatinya katakan.
"Oke," balas Alister dengan ragu.
Di dalam rumah tersebut ternyata tidak sepi, Di sana ada seorang wanita paruh baya yang terkulai lemah di atas ranjang.
"Ana..."
"Aku tau ko kamu pasti ngikutin aku, aku ke sini cuma mau ngasih obat sama sayuran supaya Bu Mina sehat."
Alister masih terdiam melihat Ana yang tengah menyuapi Bu Mina dengan lembut.
"Dan, kamu Fitri. Jangan nyuri obat-obatan lagi ya, itu nggak baik!"
"Maafin aku, Kak. Aku janji nggak bakal nyuri lagi kalo nggak kepepet."
Fitri kini beralih memeluk Ana, dengan hangat Ana menyambut pelukkan tersebut dan tersenyum manis.
Sementara Alister merasa canggung, ia memberi isyarat pada Ana kalau ia akan menunggu di luar.
Setelah lima belas menit berlalu Ana keluar, dan yang paling membuatnya kaget adalah mendapatkan Alister tengah menunggunya di depan pintu.
"Alister."
Saat semua orang memanggil Rey Ana malah memanggilnya Alister, berbeda dengan semua orang.
"Udah beres keponya, apa masih mau lanjut?" tanya Ana membuat Alister memutar bola matanya.
"Buruan pulang, gue anter."
Saat cewek lain selalu pura-pura tidak mau dan berkata 'gak usah', 'bisa pulang sendiri kok', 'gak usah repot-repot'.
Ana langsung menganggukkan kepalanya tanpa ragu dan berkata.
__ADS_1
"Oke, tapi aku yang bawa motornya."
Love you readers...