TELUK ALASKA~

TELUK ALASKA~
episode 5


__ADS_3

Happy reading...


Alister? Lagi?


Ana menelan salivanya saat melewati Alister yang sedang tertidur. Untung saja masih ada bangku kosong di sebrang kanannya, jadi ia tidak perlu repot-repot untuk berurusan dengan cowok itu.


Setelah duduk, Ana mengeluarkan buku matematikanya, ia membaca kembali tugas yang sudah ia kerjakan tadi malam.


Cittt...


Rem berbunyi membuat semua murid yang ada di dalam bus terpental. Termasuk Alister yang terbangun karena kaget.


Mereka langsung menatap jalan, ternyata karena lampu merah. Tapi saat itu juga mereka menatap awan gelap yang menyelimuti sinar matahari di pagi hari.


Mentari sama sekali tak menyapa mereka, awannya begitu redup. Cuaca kali ini tidak mendukung, terutama bagi mereka yang tidak membawa jas hujan ataupun payung, karena bus berhenti lumayan jauh dari gerbang sekolah.


"Eh lo bawa payung ga?" tanya seseorang entah siapa.


"Bawa dong," jawab temannya.


"Gue bawa jas hujan sih, jadi selow aja."


Mereka berbincang dan Ana tersenyum kecil karena ia membawa payung di tasnya. Tapi sebaliknya, Alister sangat kebingungan karena ia tidak membawa payung ataupun jas hujan, semua keperluannya ada di mobil miliknya, sial!


Tak lama bus berhenti di depan halte, Ana dengan santai turun sambil berteduh bersama siswa lain.


Setelah siswa lain berangkat, Ana langsung mengeluarkan payung pink nya, tapi matanya langsung melirik Alister.


"Ga bawa payung ya?" tanya Ana.


"Bukan urusan lo!" balas Alister tidak peduli. Tapi tidak bisa berbohong, mata Alister ketahuan oleh Ana tengah menatap payung pink-nya.


Ana malah terdiam mematung menatap Alister.


"Ngapain lo bengong?"


"Ya udah deh, aku duluan ya."


Ana langsung membuka payungnya, tapi tak lama, Alister langsung mengambil payung tersebut.


"Kamu mau pake payungnya bareng aku? Gak papa ko," ucap Ana pelan.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau bareng sama lo, bubuk rengginang!" ucap Alister membuat Ana bingung. Jika Alister tidak mau satu payung bersamanya berarti...


"Lo pake jaket kan? Sementara gue nggak. Jadi, lo lari pake jaket ke sekolah dan gue pake payung lo!"


Ana mendongak menatap Alister tidak percaya, hujannya sangat deras. Jika saja hujannya hanya rintik-rintik kecil yang turun ke tanah, tanpa jaket pun Ana bisa melewatinya.


Setega itukah?


"Tapi..."


"Bye!" ucap Alister.


"Alister tunggu!" Alister kesal karena ia berani memanggil nama dan memerintahnya seperti itu.


"Minggir lo!" balas Alister sambil mendorong Ana sampai terjatuh.


Lututnya berdarah karena dorongan Alister, Ana hanya bisa menatap lututnya lalu kembali berdiri dengan lemah.


Seperti tak punya hati sedikitpun, Alister langsung menggunakan payung Ana dan menembus hujan yang amat deras.


Ingin teriak, ingin marah agar melupakan semua emosinya. Tapi yang ia lakukan hanya tersenyum. Senyuman penuh luka yang begitu menyayat hati.


Ana membuka jaketnya lalu ia angkat jaket itu dengan kedua tangannya. Sangat jelas meskipun Ana menggunakan jaket untuk melindungi kepalanya, tapi rok dan sepatunya tidak bisa terlindungi.


Di depan kelas blok XII IPS, Ana tersengal-sengal dengan napas yang berat. Ia membuka tasnya dan kembali memakai sepatu. Sepertinya, rok, baju dan rambutnya tidak terlindungi oleh jaketnya.


"Ana!" teriak Bulan dari kejauhan membuat Ana menengok ke arahnya.


"Bulan?"


"Ya ampun aku nungguin kamu, kenapa kamu ga bilang kalo kamu nggak bawa payung? Aku bisa jemput kamu di depan!"


"Aku nggak punya kontak kamu."


Bulan mengangguk lalu mencari ponsel Ana di tas nya, Bulan masih bisa bernapas lega karena tas Ana anti air, sampai buku dan peralatan lainnya tidak basah.


"Ini line aku, kalo ada apa-apa bisa langsung hubungin aku. Gak usah sungkan ya," ucap Bulan membuat Ana tersenyum manis.


"Rambut kamu acak-acakan, sini aku beresin. Kalo rambut basah nggak boleh di iket loh nanti bau."


Bulan memegang rambut Ana, cewek itu hanya pasrah atas segala ucapan Bulan yang terus memintanya untuk ini itu.

__ADS_1


Seperti saat ini, Bulan sedang membuka ikat rambut Ana. Hingga rambutnya tergerai indah.


"Ya ampun, kamu cantik banget kalo rambutnya di urai!"


Mata Bulan berbinar melihat Ana yang berubah drastis dengan rambut terurai. Oke, sekarang Bulan mengeluarkan bedak bayi dari tasnya.


"Mau apa?" tanya Ana.


"Biar ga hinyai mukanya."


"Hinyai?"


"Berminyak gitu loh, kan tadi udah kebasahan. Cuma bedak bayi ko."


Ana mengangguk, ia pasrah. Dengan semangat Bulan langsung menggosok-gosok tangannya dengan bedak bayi itu dan langsung ia usapkan dengan lembut pada wajah Ana.


"Tutup matanya," ucap Bulan.


Ia memoles sedikit lipbalm agar bibir Ana tidak kering, tidak perlu memakai yang berwarna, karena Ana sangat cantik bila natural seperti ini.


"Beres, yuk ke kelas."


"Kamu tadi padahal gak usah dandanin aku," ucap Ana sedikit cemberut.


"Kamu cantik tau, cuma kamunya aja yang sadar."


Ana terdiam... cantik? Ia tidak pantas untuk menyandang kata itu. Membuatnya sangat tidak percaya diri. Tapi setelah itu semua orang menganga melihat Ana dengan penampilan yang mengejutkan.


Meskipun rambut dan bajunya basah, tapi kali ini ia terlihat beda. Tidak seperti biasanya yang selalu berjalan merunduk, kali ini ia berjalan sambil tertawa bersama Bulan.


"Bulan, kamu udah ngerjain tugas?"


"Tugas apa?"


"Matematika," jawab Ana sambil memberikan bukunya kepada Bulan.


"Wah... Aku nggak tau kalo ada tugas, gimana dong?"


Ana tersenyum, tentunya ada pengecualian bagi murid baru seperti Bulan. Tidak seperti murid lama lainnya.


"Nggak papa mungkin, soalnya yang maju sekarang kan si cowok songong itu," jawab Bulan dengan cengirannya.

__ADS_1


Ana hanya tersenyum manis, ia terus menanti datangnya guru. Sementara itu, teman-teman Alister mulai masuk ke dalam kelas.


__ADS_2