TELUK ALASKA~

TELUK ALASKA~
episode 21


__ADS_3

Love you readers...


Alister menatap Ana, matanya yang indah dengan rambutnya yang terurai panjang, bibirnya tersenyum tulus membuat Alister tidak bisa mengalihkan perhatiannya.


Ana langsung memetik bunga itu, dan menciumnya sambil tersenyum kecil.


"Tapi aku suka bunga mawar, meskipun rasanya sakit."


Alister menghampiri Ana sambil mengerutkan keningnya dengan memasang wajah tanda tanya.


"Kenapa sakit?"


"Karena dulu aku pernah dikasih mawar sama cinta pertama aku."


Perasaan apa ini?


Bagaimanapun, Ana itu cewek normal yang bisa jatuh cinta. Tapi kenapa tetap saja ada yang sedikit mengganjal.


Sepertinya kali ini Alister sangat berat untuk tersenyum, bahkan sedikitpun tidak bisa.


"Bunga mawarnya jelek, ga ada bagus-bagusnya."


Ana hanya tersenyum kecil, tidak mau berkata apa-apa selain tersenyum.


Masih dengan posisi merunduk dan memegang mawar itu, sementara Alister berkacak pinggang sambil menatap Ana yang tengah memegang bunga mawar sialan itu.


"Lagian lo mau-mau aja dikasih bunga jelek kek gitu!" Alister terus menggerutu dan itu sukses membuat Ana tertawa.


"Sekarang kita mau ngapain ke sini?" tanya Ana sambil tersenyum. Pandangannya kini beralih menatap danau yang membuat matanya segar.


Alister berjalan menuju sebuah pohon besar yang rindang, batangnya yang kokoh sangat sempurna untuk dijadikan tempat berteduh.


Alister dapat melihat rumah pohon yang tua. Sederhana memang dan tidak terlalu mencolok, bahkan kayu-kayunya terlihat usang dan kotor.


Rasanya, dulu saat Alister masih kecil pohon itu tidak besar seperti sekarang, batangnya yang rindang begitu...menyeramkan?


Tapi tetap saja tempat ini menyimpan banyak kenangan, membuat rasa menyeramkan itu sirna seketika.


"Mau naik ke atas?" tanya Alister.


"Boleh."


Pertama Alister mengizinkan Ana untuk naik terlebih dahulu. Perlahan tangannya mulai memanjat satu persatu tangga kayu yang tua itu.


Ana tidak mengerti kenapa Alister mengajaknya ke atas sana. Kenapa dia tidak membawa teman-tannya saja ke tempat rahasianya ini?

__ADS_1


Entahlah, Ana tidak bisa menolaknya. Setelah sampai di atas sana, Ana bisa melihat danau yang luas dengan angin sepoy-sepoy yang begitu menyejukkan hatinya.


Alister menatap Ana yang tengah tersenyum, sambil mengambil sebuah floppy hat yang menggantung di atas paku, topi bundar berukuran mini tapi masih pas untuk Ana.


"Lo diem deh di situ," ucap Alister sambil mengeluarkan sebuah buku khusus untuk menggambar.


Ana memegang topi itu sambil tersenyum, Alister heran kenapa Ana terlihat bahagia sekali dengan topi lama seperti itu, bahkan sudah bertahun-tahun tidak dipakai. Ana masih terus tersenyum membuat Alister tidak bisa mengalihkan perhatiannya.


"Tetep senyum, jangan berenti senyum," ucap Alister sambil mengambil pensil dan mulai menggambar Ana dengan cekatan.


Dan...setelah hampir setengah jam Ana memandangi danau itu Alister memberikan sebuah kertas, di sana terdapat gambar Ana tengah tersenyum memakai topi tersebut.


Ana cemberut melihat gambar tersebut, gambarnya sangat bangus sangat mirip dengan kenyataan tapi...


"Kok rambutnya pendek?" tanya Ana heran.


"Lo mirip temen kecil gue, makanya gue coba gambar pake rambut pendek pake topi itu."


Ana memicingkan matanya dengan wajah tanda tanya.


"Gue kesini cuma pengen gambar lo pake topi itu, dan hasilnya...mirip." Alister menarik napas sejenak lalu melanjutkan perkataannya lagi.


"Jadi...lo harus jawab pertanyaan gue dengan jujur."


Ana mengalihkan pandangannya dari gambar tersebut, sementara Alister menatap Ana dengan tatapan serius, suasana yang tadinya damai kini berubah menjadi lebih serius.


"Temen kecil apaan sih, kita baru ketemu di SMA," balas Ana sambil menarik napas dalam-dalam dan merekatkan tangannya pada gambar tersebut.


Tidak. Tidak. Tidak. Entah untuk kesekian kalinya Alister merasa Ana adalah teman kecilnya, dan gambar yang dia buat memang sangat tepat, tidak mungkin salah.


Yang berbeda hanyalah rambut Ana lebih panjang saat ini.


"Alister," panggil Ana dengan suara lembutnya.


"Hmm?"


"Aku mau pulang."


Ana merasa kali ini suasana menjadi lebih canggung dibandingkan dengan sebelumnya, apa lagi saat Alister bertanya apakah ia teman kecilnya atau bukan?


Alister merunduk, pikiran dan hatinya campur aduk antara tak terima dan menyadari kenyataan kalau Ana bukanlah teman kecilnya.


"Kok diem aja?" tanya Ana.


"Oke," balas Alister tidak semangat.

__ADS_1


***


Sepanjang perjalanan Alister hanya terdiam, begitupun Ana hanya memainkan kukunya yang lentik dan agak panjang itu.


"Lo mirip temen kecil gue, kalo gugup mainin kuku," ucap Alister menghapus keheningan.


Ana langsung berhenti memainkan kukunya, dia mengalihkan matanya menatap jalanan yang lenggang.


"Aku baru ketemu kamu pas SMA, Alister. Kenapa masih nggak percaya?" jawab Ana lembut dengan tatapan kosong.


"Oke." Alister hanya mampu mengeluarkan kata-kata itu.


Baiklah, mungkin Ana memang bukan teman kecilngya.


Setelah beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan rumah Ana, dan yang paling menyebalkan ada Diana yang diam di depan rumah sambil berkacak pinggang.


Sial!


"Nggak usah tegang, biar gue yang hadepin macan satu ini," ucap Alister sambil turun dari mobilnya yng disusul oleh Ana.


"Masuk!" ucap Diana pada Ana.


Ana lari masuk ke dalam rumah dan langsung mengurung dirinya di dalam kamar.


Entah apa yang terjadi diluar, Ana tidak mau tahu. Dia yakin Alister akan dimarahi habis-habisan.


Air matanya perlahan menetes membasahi pipinya, dia berjalan membuka lemari dan mengambil note pink miliknya.


Rasa bersalahnya berlipat ganda, pertama dia sudah berbohong, ke dua dia membiarkan Alister menghadapi ibunya sendirian.


Tangan mungilnya bergetar, dengan air mata yang menetes dia menulis.


Dear, Alister Reygan


Maaf, bukan bermaksud membohongimu.


Aku memang teman kecilmu yang selelu merindukanmu, memikirkanmu, dan melihatmu dari jauh.


Tangan ini selalu tak bisa menggapaimu sampai kapanpun.


Kau selalu menjadi cinta pertamaku, Alister Reygan.


Maaf, teman kecilmu ini selalu berbohong. Mengetahui kalau kau mengingatku saja itu sudah cukup.


Terimakasih, Alister.

__ADS_1


Love you readers...


__ADS_2