Terpaksa Menikah!

Terpaksa Menikah!
Pertemuan


__ADS_3

Matahari bersinar begitu terang hari ini sungguh, membuat gerah badan, hati, dan pikiran ditambah dengan banyaknya tugas skripsi yang sedang dikerjakan, membuatnya seakan-akan gusar dan kesal akan keadaannya saat ini. Di tambah sekarang dia sedang menunggu seseorang yang entah kapan akan tiba, di bawah terik matahari yang cukup membuatnya kepanasan dan bercucuran keringat.


"Hei Kesyi, lagi apa?" tanya seseorang wanita itu sembari berjalan mendekati Kesyi.


Seharusnya dia sudah tahu apa jawaban yang akan diberikan oleh lawan bicaranya, namun, dia hanya sekedar basa-basi saja agar tidak terlalu canggung karena membuat temannya menunggu dia begitu lama di bawah terik matahari.


"Lagi apa? Lagi nungguin kamu lah, dari mana aja sih? lama banget! Mana di sini panas lagi," protes wanita cantik yang bernama lengkap Kesyi Anjani itu.


Kesyi terus mengibas-ngibaskan buku yang dipegangnya di depan wajah cantiknya agar memberikan sedikit angin yang akan menghempas rasa gerah dan panas di wajahnya, walau sebenarnya tindakannya kurang mempan tapi, sudahlah karena mungkin terlalu gerah sehingga dia terus melakukannya.


"Lah kalo panas kenapa nungguinnya di sini? Tuh di sana ada pohon nah, kenapa gak di sana aja, kan adem tuh!" Tunjuk wanita yang bernama Fani itu ke arah sebuah pohon yang ada di halaman dekat lapangan kampus.


Fani berpikir kenapa sahabatnya itu malah menunggu dirinya di tempat yang sepanas ini, padahal Kesyi bisa saja menunggunya di bawah pohon beringin yang cukup tua itu yang terlihat adem dan nyaman bahkan di sana dekat dengan lapangan basket yang mana tempat itu sangat cocok untuk melihat cowok-cowok ganteng yang sedang bermain basket. Ah entahlah terkadang pemikiran Kesyi itu sulit ditebak.


"Hah di sana? Jauh tahu. Udah untung ditungguin malah nyuruh-nyuruh segala, gak berterima kasih lagi. Sopan banget yah kamu ini, Fan," sindir Kesyi sembari memutar bola mata, kesal. Tangannya dilipat di depan dadanya pertanda kalau dia ini sekarang sedang marah. Matanya menatap ke arah lain seakan-akan tidak mau melihat sedikit pun sahabatnya yang sekarang ini berada di sampingnya.


"Oke, oke maaf. Maaf udah ngebuat kamu nungguin aku, di tempat yang sangat panas ini dan aku malah nyalahin kamu tanpa berterima kasih lagi, aku emang orang yang gak guna." Fani meminta maaf ke pada Kesyi dengan sedikit drama agar lebih terlihat meyakinkan dan pantas untuk dikasihani dan dimaafkan.


"Udah ... udah aku maafin kok, kamu teman terbaik aku pokoknya. Kamu berarti banget buat aku jadi, jangan ngatain kalau kamu itu teman yang gak guna, karena itu gak bener," ucap Kesyi sambil memegangi ke dua tangan Fani.


Sepertinya, drama yang dibuat-buat Fani ternyata berhasil padahal semua orang tahu jika itu cuma drama akal-akalannya Fani supaya bisa dimaafin sama Kesyi tapi, enggak tahu emang Kesyi terlalu bodoh karena mudah sekali ditipu Fani atau memang Fani seorang drama queen kemungkinan ke dua-duanya benar.


"Yaudah kita ke sana yuk! Di sini mah panas banget." Lalu Fani menarik tangan Kesyi sambil berlari ke arah pohon beringin tua yang berada di halaman kampus itu.


"Ahh enggak-enggak, gak mau, gak mau. Aku gak mau ke sana," tolak Kesyi sembari mencoba melepaskan genggaman tangan Fani namun, dia gagal dan terpaksa menurut mengikuti langkah sahabatnya itu ke sebuah pohon beringin tua.


Setelah sampai, mereka pun duduk di bawah pohon beringin tua, memang benar di sini terasa lebih nyaman dan hembusan angin sepoi-spoi dari pohon itu membuat Kesyi menikmatinya dan bersandar ke batang pohon tua itu. Hampir saja Kesyi terlelap namun, Fani mengagetkannya.


"Hei ... jangan tidur di sini!" teriak Fani di dekat gendang telinga Kesyi, membuat sahabatnya kaget dan langsung membelalakkan matanya.


"Eh kodok ngajol," teriak Kesyi karena terkejut matanya terbelalak, malu. "Ih ... aku gak tidur tahu, cuma nutup mata sebentar," lanjutnya setelah lumayan tenang.


"Eh aku mau beli minum dulu yah!" ucap Fani lantas, berdiri dan hendak melangkah namun, dicegat oleh Kesyi.

__ADS_1


"Aku ikut yah," ungkap Kesyi sambil tersenyum.


"Enggak usah, kamu tunggu di sini aja nanti, aku traktir kamu minuman deh Oke?" Fani meyakinkan Kesyi agar tetap menunggunya di pohon itu.


"Yaudah asal jangan lama-lama!" usul Kesyi.


"Oke-oke siap tenang aja!" teriak Fani mengiyakan sambil berlari.


***


Angin terus berhembus udara semakin sejuk sedikit demi sedikit rasa gerah di tubuh Kesyi menghilang.


"Woy minggir! Jangan tiduran di sana!" titah seorang cowok sambil menendang kaki Kesyi yang sedang selonjoran.


Kesyi yang merasa terganggu langsung berdiri, dia berdecak pinggang dan melotot ke arah cowok berperawakan tinggi itu.


"Heh siapa kamu? Ngapain nyuruh-nyuruh aku, kamu yang seharusnya minggir ngehalangin pemandangan tahu, buat udara jadi sumpek aja," ejek Kesyi sambil memandang remeh cowok yang berada di hadapannya itu.


"Hihh ... dasar cewek kampung, kamu gak kenal siapa aku hah?!" ucapnya seperti sombong dan menatap rendah Kesyi mungkin, karena penampilan wanita itu yang terlihat kampungan dan udik sehingga dia melihatnya dengan malas.


"Biarin, walaupun aku emang cewek kampung, setidaknya tahu tatakrama dan sopan santun, bukan kayak kamu yang berpenampilan sok tapi, gak punya sopan santun, kayak gak pernah diajarin aja. Dan yah aku gak kenal siapa kamu, buat apa tahu juga enggak guna, presiden bukan, menteri juga bukan, buat apa tahu?" ungkap Kesyi seakan menusuk dan merobek-robek harga diri Bagas Anjar Leksmana.


Bagas adalah seorang pemuda kaya yang sombong, dan juga selalu bersikap dingin terkadang seperti tidak mempunyai sopan santun, memang benar dia hidup di keluarga yang serba ada namun, karena kedua orang tuanya yang selalu sibuk dan tidak pernah peduli ke pada bagas sehingga, dia acuh tak acuh dengan tatakrama yang ada. Karena dia merasa tatakrama untuk apa? Dia selalu berpikir, 'Untuk apa tatakrama itu? jika masih ada uang di kantong ini maka, bagiku tidak perlu tatakrama karena, aku bisa membayar semuanya dan aku pasti akan dihargai.'


Baru pertama kali baginya ada seseorang yang menghina dan menyangkut pautkan sikapnya itu sebelumnya tidak pernah ada yang berani berbicara selancang itu padanya.


"Ah dasar cewek kampung gak guna, ngeselin lagi," ungkap Bagas kesal.


Pertengkaran mereka mengundang banyak perhatian orang-orang di sekelilingnya, Fani yang baru saja habis membeli minuman untuknya dan temannya itu langsung kaget saat melihat Kesyi sedang berhadapan dengan seorang Bagas. Laku Fani pun berlari secepat mungkin ke arah mereka berada.


"Maaf, maaf tuan Bagas jika teman saya bertindak tidak sopan kepada anda." Fani meminta maaf kepada Bagas sambil berbicara sesopan mungkin agar lawan bicaranya itu tidak tersinggung.


"Eh Fan, ngapain kamu minta maaf dia yang salah kok, tadi dia nendang aku sambil ngusir-ngusir segala pake kata-kata yang gak sopan," ungkap Kesyi menjelaskan apa yang terjadi tadi yang membuatnya dengan cowok berparas tampan itu bertengkar.

__ADS_1


"Oh jadi gitu, heh jangan mentang-mentang kamu kaya yah, jadi seenaknya sama orang lain." Sikap Fani langsung berubah drastis setelah mendengar penjelasan dari Kesyi dia langsung marah ke pada Bagas karena memperlakukan temannya secara tidak sopan.


"Udah Gas, kamu minta maaf aja sama tuh cewek, malu kali cowok bertengkar sama cewek," usul Virgo sahabat Bagas yang tiba-tiba muncul menengahi perselisihan antara seorang gadis kampung dan pria kota yang sombong.


Bagas mengulurkan tangannya ke arah Kesyi, "Oke aku minta maaf," ucap Bagas namun, terlihat tidak tulus.


"Huh Oke terserah," jawab Kesyi malas, tanoa menyambut uluran tangan Bagas.


"Dasar cewek kampu--


Belum sempat Bagas menyelesaikan kata-katanya, Virgo langsung memotong dan menepuk pundak temannya itu agar tidak memperpanjang masakah spele.


" Oke udah yah jangan berantem lagi, sebagai permintaan maaf atas kesalahan temanku, aku mengundang kalian berdua keacara ulang tahun aku malam ini," tawar Virgo ke pada kedua cewek bersahabat itu.


"Kayaknya gak usah deh gak perlu," tolak Kesyi.


Namun, berbeda dengan Fani dia langsung menyetujui tawaran Virgo itu, bagaimana tidak cowok yang menawarkan undangan ke acara tulang tahun itu adalah gebetannya, meskipun Virgo-nya tidak tahu, bisa disebut pengemar rahasia.


"Oke kami bakal datang," jawab Fani tanpa meminta persetujuan dari Kesyi.


"Eh Fan, ngapain kamu langsung nyetujuin aja sih?" bisik Kesyi pelan ke pada Fani.


"Ih dia kan gebetan aku kamu lupa, dan juga gak sopan nolak tawaran baik dari orang," jawab Fani.


"Jadi gimana Kes, kamu mau ikut gak?" tanya Virgo lagi.


"Emm Aku--


***


Bersambung ....


Apa yah jawaban Kesyi apakah dia akan menyetujui tawaran Virgo atau tidak?

__ADS_1


__ADS_2