
"Jadi gimana Kes, kamu mau ikut gak?" tanya Virgo lagi.
"Emm aku ... emmm ikut aja deh," jawab Kesyi agak sedikit canggung karena ini pertama kalinya dia diajak ke acara ulang tahun. Karena, penampilannya yang selalu kampungan membuat dia tidak pernah ada yang mau mengajaknya untuk ke suatu acara atau sekedar untuk berteman saja mereka enggan. Kedua sosok pria tampan pun perlahan menghilang dan tidak terlihat oleh mata kedua
"Yaudah nanti jangan lupa dateng yah, inget spesial buat kalian gak perlu bawa kado, Oke kita cabut duluan yah," ucap Virgo sambil merangkul pundak Bagas lalu berlalu pergi. Sosok ke dua pria itu pun menghilang ditelan langkah yang mulai menjauh sehingga, tidak terlihat lagi dari pandangan kedua sahabat perempuan itu.
"Eh gila kamu Fan, gimana aku mau ke pesta ultahnya, orang aku gak punya baju yang cocok buat dipakai." Kesyi terlihat kebingungan ada rasa risih juga di pikirannya bagaimana tidak? Baju-baju yang dia pakai selama ini adalah baju yang terlihat katro dan ketinggalan zaman.
"Santai aja kali Kes, kamu ke rumah aku aja di sana banyak baju sama nanti aku sedikit poles kamu pake mek up yah." Fani tersenyum ke arah Kesyi meyakinkan temannya itu agar ikut ke pesta ulang tahun calon gebetannya itu.
"Iya oke, aku pulang dulu mau pulang dulu mau izin sama bude dulu," ucap Kesyi pamit.
"Iya oke," jawab Fani.
Mereka berdua pun pulang karena rumah mereka berbeda arah sehingga mereka berjalan ke arah yang saling berlawanan.
***
"Huhhh mana sih angkotnya?" tanya Kesyi pada dirinya sendiri sembari tengok kanan tengok kiri mencari-cari kendaraaan beroda empat itu.
Saat Kesyi masih setia menunggu angkot, tiba-tiba ada sebuah mobil Lamborghini berwarna hitam berhenti di depannya, lalu kaca mobil itu turun terlihat sesosok lelaki berkulit putih itu menampakkan wajahnya.
"Hei gadis kampung, aku cuma mau bilang kalo nanti kamu gak usah dateng ke acara Virgo gak cocok buat orang model kamu ke acara yang begituan, gak pantes!" ledek seorang pria tampan namun, tidak mempunyai sopan santun yah, bagas dia tidak henti-hentinya menjelek-jelekkan, menghina Kesyi namun, Kesyi hanya diam tidak peduli dengan apa yang diucapkan oleh bagas.
"Siapa?" tanya Kesyi singkat.
"yah kam--
belum selesai Bagas berbicara Kesyi memotong.
"Yang nanya," ungkap Kesyi datar, seraya berjalan pergi mencoba menjauh dari mobil Lamborghini milik Bagas itu.
Bagas tidak tinggal diam dia terus mengikuti Kesyi sampai wanita itu naik ke sebuah angkot lalu kendaraan beroda empat itu melaju. Mobil bagas terus mengikuti angkot yang dinaiki Kesyi, dia terus berteriak-teriak memanggil nama dari seorang gadis cantik yang tak lain adalah Kesyi. Semua penumpang yang berada di angkot saling pandang mencari sosok yang bernama Kesyi itu.
"Mbak, mbak namanya Kesyi bukan?" tanya salah seorang penumpang ke pada Kesyi.
Gadis itu hanya bisa terdiam entah apa yang harus dia lakukan dan lagi mau apa sih seorang bagas mengikuti angkot hanya karena ada seorang gadis kampung.
"Eh mbak, pacarnya manggil terus tuh!" ucap penumpang yang lain.
"Dia bukan pacar saya," sanggah Kesyi karena merasa tidak suka dibilang pacarnya bagas kenapa? Orang Kesyi benci banget sama itu cowok gimana dia gak kesel disebut pacar itu orang.
"Mbak kasian loh perjuangan pacar mba itu, sampe segitunya tolong diharagin mbak," tambah penumpang yang lain.
__ADS_1
Semua ucapan para penumpang membuat Kesyi kesal. "Siapa pacarnya coba? Dia itu orang gila tahu!" ungkap Kesyi kesal sembari memutar bola mata, malas.
"Mbak gak mungkin dia gila, kelihatan kalau dia sedang berusaha mengejar mbak," ungkap penumpang yang berbeda lagi.
Berisik sekali penumpang ini membuat Kesyi semakin kesal.
"Bang kiri!" ucap Kesyi agar bisa turun dari angkot, semakin lama dia berada di angkot mungkin dia akan menjadi gila karena dianggap sebagai pacar dari musuhnya itu.
Kesyi pun turun dari angkot lalu membayar ongkos kepada si sopir.
"Mbak semangat yah!
" Semoga jadi yah,"
"Cepet baikan yah,"
Para penumpang di angkot itu riuh menyemangati Kesyi.
Setelah Kesyi turun dari angkot mobil Lamborghini itu pun menepi ke arah Kesyi.
"Akhirnya turun juga, cepet juga luluhnya," ucap Bagas tidak masuk akal entah apa sebenarnya yang ingin ia sampaikan.
"Kamu mau apa sih sebenernya?" tanya Kesyi kesal karena dirinya menjadi pusat pembicaraan di angkot tadi.
"Heh akhirnya aku berhasil ngasih pelajaran ke tuh cewek resek," batin Bagas sembari senyum-senyum sendiri. Dia terus melajukan mobilnya tanpa melihat dulu apa yang terjadi di belakangnya.
"Dia kenapa sih? Siapa juga yang rela turun demi dia? Mimpi apa, orang aku berhenti emang udah nyampe rumah," ucap Kesyi pelan sambil menggaruk-garuk kepala.
Mungkin jika Bagas tahu dia gagal menjahili Kesyi bagaimana reaksinya.
Setelah tidak ada apapun yang dia pikirkan Kesyi pun berjalan memasuki sebuah rumah yang sederhana namun, lumayan nyaman untuk ditinggali.
Di perantauannya, Kesyi tidur dan bertempat tinggal di rumah budenya karena itu syarat dari ibunya jika ingin berkuliah di jakarta.
***
Kesyi berdiri di depan kamarnya, pintu kamae perlahan ia buka, setelah itu dia langsung bejalan menuju kasur dan menjatuhkan diri di atasnya.
"Ah aku jadi males ke pesta ulang tahun, gara-gara si cowok resek itu sih," geram Kesyi kakinya menendang-nendang kasur. Dan tanpa disadari Kesyi pun ketiduran.
"Woy bangun, katanya mau ke rumah aku tapi, apa ini? malah tidur," Fani mengguncang-guncang tubuh Kesyi agar sahabatnya itu bangun dari mimpi indahnya.
"Apaan sih, Fan?" tanya Kesyi setengah sadar.
__ADS_1
"Ihh ... kamu jadi gak ke pestanya Virgo?" tanya Fani penuh selidik dia melihat ada sesuatu yang disembunyikan oleh sahabatnya itu darinya namun, ia tidak mungkin langsung bertanya ada apa? karena itu akan membuatnya merasa terganggu.
"Ah enggak tahu ah Fin," jawab Kesyi sambil menggaruk pipi. Dia bingung apakah akan ikut ke pesta bersama Fani atau kembali menjelajahi mimpi bersama selimut hangat dan kasur yang empuk namun, jika dia tidak pergi kasihan Fani sudah jauh-jauh datang ke rumahnya tapi, kalau ikut, Kesyi akan bertemu dengan cowok paling nyebelin di hidupnya.
"Loh kok gak tahu sih? Bukannya tadi mau pergi, kenapa lagi sih, ada apa? Soal baju tenang aja aku udah bawa sekalian mek up-nya ke sini jadi kamu buruan mandi biar bisa cepet ke pestanya." Fani bertanya beberapa pertanyaan namun, pertanyaan yang ia lontarkan dia jawab sendiri.
"Bukan gitu tapi, aku males ketemu sama si cowok resek itu," ucap Kesyi malas.
Gadis itu selalu merasa malas, bosan dan ingin marah jika mendengar, mengetahui atau membahas sesuatu yang berbau Bagas Anjar Leksmana. Entah, kenapa dia selalu seperti itu padahal urusannya dengan cowok itu sudah selesai namun, tetap saja rasa kesalnya masih ada dan sepertinya tidak mudah untuk dihilangkan.
Fani langsung merangkul Kesyi dengan senyum yang dia lukiskan di wajahnya menambah kesan cantik pada dirinya.
"Tenang aja kali, kan ada aku, nanti aku bakal jagain kamu supaya si cowok es cing cau itu gak ngeganggu kamu," ucap Fani meyakinkan Kesyi, tawa renyah terdengar dari mulut Fani setelah mengucapkan kalimatnya tadi.
"Lah es cing cau? Kenapa es cing cau bukannya biasanya orang yang dingin itu disebut es batu yah?" tanya Kesyi kebingungan, sadar tidak sadar mereka malah membahas soal makanan yang tidak ada hubungannya dengan pesta.
"Iyalah es cing cau, soalnya dia walaupun dingin tapi, manis yang pastinya baik buat kesehatan," ungkap Fani menjelaskan sambil mengedipkan matanya.
"Manis? Pahit kalik, and baik buat kesehatan apanya?" Kesyi terlihat agak kebingungan.
"Iya baik buat kesehatan karena bisa buat cuci mata dan buat mata jadi seger stamina oke hahhaha ...." Tawa Fani pecah seketika namun, baru kali ini Fani tertawa tapi, sahabatnya tidak ikut tertawa.
"Gak lucu ah, ngapain juga ngebahas dia, gak ada bagus-bagusnya dia mah, gak enak ngebahasnya juga," ungkap gadis berpenampilan kampungan itu gusar.
Yah, kalo gak enak mah kasih kucing aja, apa susahnya." Fani berusaha melucu di saat-saat seperti ini.
"Tapi aku mal--
Karena Fani tahu apa yang akan diucapkan temannya makanya Fani memotong ucapan sahabatnya itu.
"Pokonya kamu harus ikut! Kalau enggak ikut nanti bakal aku tabok kamu pake sepatu bapak aku yang baunya minta ampun," ancamnya tapi, seperti bukan terdengar ancaman namun, lebih ke arah lawakan jadinya.
"Ah ada-ada aja kamu ini, masa soal gak ikut aja maen ngancem, dan anehnya ancemanmu itu kurang masuk akal tahu, masa mau nabok aku pake sepatu bapakmu hahaha ...." Tawa Kesyi pecah membuat tawanya samapai terdengar ke rumah tetanggan sangking kencangnya.
"Jadi gimana, ikut gak?" tanya Fani sekali lagi.
"Oh oke deh, aku ikut!" jawab Kesyi Anjani.
***
Bersambung ....
Bagaimanakah penampilan Kesyi Anjani di pesta ulang tahun nanti?
__ADS_1
Apa saja yang akan terjadi di pesta nanti?