Terpaksa Menikah!

Terpaksa Menikah!
Lamaran


__ADS_3

Keluarga Bagas sudah datang ke kediaman Kesyi Anjani serta membawa beberapa barang untuk lamaran.


"Mana calon mantu, Mami?" tanya Rania Anggera Leksmana, ibunya Bagas.


"Ck! Ish ... Mami, apaan sih," jawab Bagas sambil berdecak sebal plush kesel. Gimana gak kesel coba? Baru saja Bagas memualai kuliah semester satu. Seharusnya sekarang ini ia masih asik-asiknya ngerasain masa muda eh, malah harus jadi ayah. Pes apes dah!


 


Semua mata tertuju pada seorang wanita yang berjalan ke arah mereka. Kesyi Anjani wanita itu terlihat cantik dan anggun malam ini. Sebenarnya dia bingung, kenapa Bagas dan kedua orang tuanya datang ke rumahnya dengan membawa banyak sekali barang-barang seperti hadiah lamaran.


Masih bingung dengan apa maksud kedatangan keluarga Bagas, tapi, ia sedikit tak peduli wanita itu langsung menciumi punggung tangan kedua orang tua bagas, yang mungkin tak lama lagi akan menjadi mertuanya.


"Manis ya, Mi?" tanya Leksmana Ardinata, ayahnya Bagas. Sambil tersenyum dan meminta pendapat istrinya.


"Iya, Pi, cantik lagi!" jawab Rania dengan memegangi pipi Kesyi.


Sedangkan Bagas melihat Kesyi tanpa berkedip dia merasa wanita itu sangat berbeda malam ini.


Melihat anaknya menatap calon mantunya tanpa berkedip Leksmana langsung menggodanya.


"Ekhem ... sampe gak kedip gitu, Gas. Sangking cantiknya calon mantu Papi yah?" goda sang ayah.


"Bagas ngeliatinnya gitu banget, ntar aja kalau udah dikamar, kalau udah SAH, 'kan enak tuh bisa saling liat-liatan," goda Rania yang mendapat tatapan tajam dari Bagas putranya.

__ADS_1


Sesekali bagas dan kesyi saling lirik,tapi langsung buang muka pas ketauan. Kaata orang si malu-malu meong.


"Eh mereka ke sini mau ngelamar aku kah?" batin Kesyi setelah mencerna beberapa ucapan dari ayah dan ibunya Bagas yang menyebutnya mantu dan calon istri Bagas.


Kesyi kembali melirik Bagas namun, saat mata mereka bertemu dia langsung memalingkan wajahnya.


"Tuh cowok kenapa malam ini ganteng banget? Ah apaan sih aku kenapa jadi mikirin cowok resek itu sih?" batin Kesyi sembari terus mempertanyakan pertanyaan dalam hatinya.


Karena merasa mual dan juga agak canggung dia meminta izin untuk pergi ke belakang.


"Permisi Om, Tante, Kesyi mau izin ke blakang sebentar ya!" pamit kesyi.


"Jangan manggil Om, Tante dong, Panggilnya Mami sama Papi aja biar sama kayak Bagas gitu manggilnya," ucap Rania sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Yaudah Mami, Papi, Kesyi izin ke belakang dulu yah," pamitnya lagi sembari memaksakan tersenyum, wajahnya sudah pucat pasi tak tahan rasanya semua yang ada di perutnya memaksa untuk keluar.


"Yaudah sayang, hati-hati!" ungkap Rania.


Lalu Kesyi berlalu pergi meninggalkan mereka.


Melihat wajah Kesyi yang pucat dan sepertinya terjadi sesuatu membuat ibunya Bagas cemas dan langsung menyuruh Bagas untuk menyusul Kesyi ke belakang.


Bagas pun langsung menurut dan berjalan ke belakang mengikuti Kesyi.

__ADS_1


Menyadari adanya tamu Rina yang adalah Budenya Kesyi, langsung menyambut hangat kedatangan keluarga Bagas, dia mempersilahkan masuk dan berbincang-bicang alasan kedatangan mereka.


***


Di lain tempat ....


Terlihat Kesyi terburu-buru ke toilet, dan benar saja, kesyi sudah muntah mengeluarkan semua isi kotoran di mulutnya.


Setelah selesai, Kesyi keluar dari kamar mandi dengan tubuh lemas, ia terduduk lunglai di lantai.


"Lo kenapa?" tanya Bagas sambil menyender di dinding dan menatap Kesyi.


Kesyi yang mendengar suara Bagas langsung berdiri, ia tak mau terlihat lemah di hadapan cowok brengsek itu.


"Kepo!" ucap Kesyi sambil berjalan mencoba pergi dari hadapan laki-laki itu.


Baru saja ia berjalan melewati Bagas dan hendak pergi tetapi, tangan kekar lelaki itu dengan cepat mencekal pergelangan tangan kesyi.


Bersambung ....


Wih apa yah yang mau dilakuin Bagas ke Kesyi?


Tunggu episode selanjutnya yah😉

__ADS_1


__ADS_2