
Setelah berbicara empat mata dengan cewek kampung itu, Bagas langsung kembali ke kelas dengan perasaan yang tidak karuan, di pikirannya penuh dengan rasa ketakutan, penyesalan, kegelisahan dan kesal.
"Argh kenapa tuh cewek pake acara hamil segala sih?!" umpat Bagas dalam hatinya dia benar-benar bingung dengan keadaannya yang sekarang.
Dia memang bisa menyembunyikan rasa takutnya tadi sewaktu berada di hadapan Kesyi namun, sekarang Bagas benar-benar sangat ketakutan, sangat, sangat, sangat ketakutan.
Entah kenapa dia selalu berpikir kenapa bisa cewek kampung itu hami? Kalo keadaannya kayak gini dia sama saja dan tidak jauh bersama dengan nyokap dan bokapnya yang katanya sama-sama brengsek.
Dia mencoba untuk menenangkan hatinya yang sungguh tidak karuan. Bagas berjalan memasuki kelas dengan ekspresi wajah biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa padanya.
Setelah berada di depan kursi ia pun menariknya dan memndudukinya. Kursi itu tepat berada di depan kursinya Virgo, sahabatnya.
"Eh Gas, lo tadi ngomong apaan sama si Kesyi?" tanya Virgo yang sangat kepo dan ingin tahu apa yang dibicarakan temannya itu dengan gadis kampung itu, apalagi mereka berbicara berdua yang entah di mana keberadaannya.
Tidak ada jawaban sama sekali dari Bagas, membuat tingkat kekepoan Virgo semakin meningkat.
Bagas merogoh saku celananya mengambil sebuah benda pipih berbentuk persegi panjang lalu dia hanya fokus kepada benda itu tanpa memperhatikan sekitar.
Tapi, tetap saja dia tidak bisa menyembunyikan kepanikannya, wajahnya terlihat berkeringat. Membuat Virgo yang melihatnya menanyakan dia kenapa.
"Gas, lo kenapa sih? Gue liatin kayaknya lo lagi panik gitu, ampe keringetan lagi," tanya Damar sekalian meledek Bagas yang benar-benar terlihat seperti orang sudah melakukan kesalahan saja.
Rasanya kalau lama-lama Bagas tetap diam di kelas maka dia tidak bisa tenang karena akan terus diinterogasi oleh teman-temannya yang keponya selangit itu.
"Gak papa, gak ada yang perlu dikhawatirin, ngomong-ngomong gue pergi dulu yah ada urusah mendadak," ucap Bagas sambil teegesa-gesa ke luar kelas dan tanpa izin dari pihak sekolah.
Bagas terburu-buru berlari ke arah parkiran di mana mobilnya terparkir di sana.
__ADS_1
***
Hari telah berlalu malam pun tiba, menampakkan gelap dan juga bulan yang bersemayam di atas sana.
Pukul 21:00 di sebuah club malam ada beberapa lelaki yang sedang berkumpul, bercerita dan bermain-main di sana.
Mereka adalah empat sekawan yah yaitu Bagas, Virgo, Damar dan Ilham.
Malem ini Bahas nongkrong di club malam tempat biasanya dia dan teman-temannya menghabiskan waktu bersama.
"Gas, lo dari tadi kenapa sih? Kayak lagi ada masalah gitu?" tanya ilham sahabat yang sebenarnya paling dekat dengan Bagas.
"Gapapa lah, biasa masalah keluarga, soal bokap sama nyokap gue, kayak lo kagak tahu aja, mereka kan suka banget buat masalah bagi gue hahaha ...." Bagas berbohong pada temanya padahal Ilham adalah teman paling dekatnya.
"Hahah ... pinter ya gue, udah mulai bisa bohkng di depan sohib gue sendiri," batin Bagas kesal pada dirinya sendiri.
Untungnya dia tidak bertanya-tanya lagi membuat Bagas bisa bernafas lega.
"Eh cuy, lihat tuh cewek yang lagi duduk di san, bening banget guys, gue mau minta ID Line-nya ah," ucap virgo yang memang terkenal playboy kutu kupret cap kakap.
"Ck! Cewek mulu yang ada di pikiran lo, gak ada yang lain apa?" tanya Damar mencibirkan bibirnya kesal dengan tingkah laku Virgo yang selalu bermain wanita.
"Ah biarin aja gue mainin cewek, yang penting gue gak sampe Ngehamilin tuh cewek. Bener gak cuy? hahaha ...," ucap Virgo.
Bagas yang merasa terkejut dan tersindir dengan ucapan Virgo langsung tersedak minuman yang sedang diminumnya.
"Woy, lo kenapa?" tanya Ilham saat melihat temannya itu tersedak minuman.
__ADS_1
"Ah kagak, geli aja gue denger si Virgo ngomong gitu, dasar playboy," ucap Bagas menutupi kepanikannya.
Mereka sangat bahagia bercanda dan tertawa hanya Bagas saja yang terlihat murung.
"Eh guys, misalnya nih, misalnya kalian ngehamilin cewek, apa yang bakal kalian lakuin?" tanya Bagas yang membuat teman-temannya berhenti tertawa dan melihat ke arah Bagas.
"Hah, ngapain lo nanya gituan? Jangan-jangan lo habis ngehamilin cewek lagi? Siapa-siapa tuh cewek?" tanya Damar yang membuat Bagas semakin panik.
"Kan gue nanyanya misalnya bukan beneran!" bantah Bagas.
"Yaelah Mar, kayak lo gak tahu aja, si Bagas kan gak suka lobang sukanya yang berbatang," ucap Virgo yang membuat Ilham dan Damar tertawa terbahak-bahak.
"Sembarangan lo, jadi menurut kalian gimana?" tanya Bagas lagi.
"Kalo gue sih bakal tanggung jawab, secara gue kan yang ngehamilinnya," jawab Ilham yang emang agak alim dan paling lurus di antara empat bersahabat itu.
"Kalo gue sih yah tinggal ngasih duit sama tuh cewek, terserah dia mau ngegugurin atau enggak tuh anak yang pastinya itu hak dia bukan hak gue dan gue gak bakal ikut campur urusan itu mah," jawab Virgo yang membuat Bagas terdiam.
Bagas menjadi ingat kalau tadi dia malah menyuruh Kesyi menggugurkan kandungannya. Ah, kenapa jadi mikirin cewek kampung itu?
"Eh kenapa lo nanya gitu sih?" tanya Damar yang curiga dengan Bagas.
"Ah kagak, cuman nanya aja, gue balik duluan yah!" ucap Bagas sembari berdiri dan berlaku pergi.
***
Bersambung ....
__ADS_1