Terpaksa Menikah!

Terpaksa Menikah!
Ingatan


__ADS_3

Kesyi berjalan menjauh dari ruangan yang membuatnya kehilangan harga dirinya, dia masih meruntuki dirinya, kenapa bisa-bisanya dia melakukan hal yang seharusnya tidak boleh ia lakukan tapi, dia juga tidak sadar dengan apa yang terjadi sebenarnya.


"Kes, elo mau pulang?" tanya Virgo sang pemilik rumah.


Kesyi terkejut melihat Virgo yang tiba-tiba ada di hadapannya itu. Dia berharap semoga Virgo tidak tahu apa yang terjadi pada dirinya karena itu bisa membuat Kesyi semakin kehilangan harga dirinya.


"Iya Go, aku mau pulang," jawab Kesyi sambil menundukkan kepalanya karena tidak ingin Virgo melihat kalau matanya merah karena dia menangis.


Namun, mata Virgo sangatlah jeli sehingga, bisa melihat mata Kesyi walaupun sudah ditutup-tutupi oleh Kesyi.


"Kes, mata lo kenapa? Kok merah?" tanya Virgo yang penasaran dengan apa yang terjadi sehingga membuat mata gadis itu memerah. Apakah dia habis menangis, sehingga matanya memerah atau karena apa?


"Eh kamu tahu 'kan semalam aku pusing banget, sampe air mata aku itu gak berhenti keluar, jadinya gini nih," jawab Kesyi sambil ngucek matanya agar Virgo percaya dengan ucapannya.


"Oh gitu yah, kamu mau pulang 'kan? Mau aku anterin?" tanya Virgo sembari tersenyum manis dan tulus.


Walau Virgo adalah playboy cap kakap tapi, dia itu begitu baik berbeda dengan temannya yang bernama Bagas itu yang semena-mena dan sombong.


"Enggak usah, lagian aku bisa sendiri kok!" tolak Kesyi dengan lembut agar tidak menyinggung perasaan Virgo.


"Oh oke deh, aku juga masih ada urusan mau balik ke kamar dulu dah, ati-hati di jalan!" ucap Virgo sembari berlalu pergi.


Kesyi pun bergegas pergi meninggalkan rumah dengan kenangan kelam di dalamnya.


***

__ADS_1


Bagas yang mematung kini mulai tersadar, apa yang harus dia lakukan sekarang. Dia melihat bercak darah di atas kasur yang dia tiduri semalam.


"Ah sial?!" teriak Bagas sembari menarik sprei itu lalu membawanya ke kamar mandi, dan memasukkannya ke dalam mesin cuci. Setelah speri itu dikeringkan dalam benda berbentuk persegi itu, dia pun langsung menyimpannya di keranjang cucian agar tidak terlalu mencolok dan agar tidak ketahuan.


Dia juga mandi dan membersihkan tubuhnya. Setelah mandi dia berjalan ke arah ranjang dan duduk di pinggirnya sembari mengingat apa yang terjadi semalam sebelum kejadian itu terjadi.


***


Flashback ingatan Bagas ....


Ting!


Terdengar sebuah nada dering tanda ada sebuah pesan masuk ke handphone Damar Sukamulya salah satu teman Bagas.


"Hey gue dapet liine nih!" ucap Damar, memberitahukan pada teman-temannya yang sedang berkumpul dan minum-minum.


"Entah! Nih gua bacain yah, katanya gini. 'Dam aku mau ngomong sesuatu sama kamu plish ini penting, datang yah ke kamar yang ada di atas, di yang paling ujung!' Nah itu tuh isinya," ucap Damar dengan wajah datar dan tidak peduli.


"Aiihhh ... itu mah dari cewek, Mar. Samperin gih! Sekarang dia pasti lagi nungguin lo," titah Virgo yang seakan-akan menggoda Damar agar pergi ke kamar miliknha itu.


"Masa bodo ah, gue haus mau minum." Damar tidak peduli dengan pesan yang dia dapat dan juga tidak mendengarkan pendapat dari Virgo, dia memang cuek terhadap cewek, apalagi yang kegatelan gitu malas meladeni katanya.


"Ehh Mar, gue juga haus nih, abis buang air eh malah haus. Dah lah buat gue aja minumannya," ucap Bagas langsung merebut minuman yang dipegang Damar dan meminumnya.


Glekk ... gleekk ... glekk ....

__ADS_1


Bagas langsung meminum habis minuman itu, tanpa meminta persetujuan dari Damar padahal itu adalah minuman milik temannya itu.


"Woy?! Ah lo mah, gue juga haus malah lo main embat aja minumannya, gue timpuk mau lo!" Damar kesal dengan tindakan Bagas yang main minum aja minuman miliknya. Padahal di meja juga banyak minuman lainnya eh, malah main ambil minuman orang, 'kan gak sopan. Rasanya dia ingin memukul temannya itu dengan handphone yang sedang ia pegang, tapi, sayang juga handphonenya kalo dipake buat nimpuk orang yang kagak punya sopan santun ini.


"Wah nyolot nih, cuma minuman satu gelas aja udah berisik amet, gue beliin deh satu pabrik besok!" ucap Bagas sombong, sembari mengeluarkan kartu kredit dan mengacung-ngacungkannya.


"Belagu lo Gas, nanti kena karma loh!" ucap Damar ngasal, dia lumayan kesal dengan sikap temannya itu yang semakin lama semakin sombong dan angkuh.


"Hahaha ... udah-udah! Kayak Tom dan Jeri aja kagak akur mulu," ucap Virgo menengahi kedua sahabatnya yang tidak pernah akur jika ketemu tetapi, walaupun mereka jarang akur, pertemanan mereka sangatlah kuat. Tidak bisa dipisahkan bahkan, mereka selalu saling menolong jika ada salah satu di antara mereka yang sedang kesusahan.


"Eh--eh ... tunggu-tunggu, kenapa kepala gue puyeng gini yah? Kayak mau terbang gitu, kenapa nih?" tanya Bagas sambil memegangi kepalanya dengan kedua tangannya. Bagas merasa pusing.


"Nah sukurin loh! Salah siapa kenapa elo main embat minuman orang aja, sekarang kena karma 'kan lo hahaha ...." Damar tertawa merasa puas karena, Bagas mendapat ganjarannya.


"Ehh iya--iya Gas, mata lo merah gitu, kenapa yah? Tapi, bukannya elo udah biasa sama minum-minuman kayak gini? Lo masih kuat kagak?" tanya Virgo yang sedikit cemas dengan keadaan Bagas yang aneh.


"Masih-masih, masih kuat kayaknya," jawab Bagas sambil memijat-mijat kepalanya agar tidak terlalu pusing.


"Udah, mending lo istirahat aja di kamar!" titah Virgo.


"Umm ... kamar yang mana Go? Kamar lo 'kan banyak," tanya Bagas lumayan bingung karena kamar yang ada di rumah Virgo itu sangatlah banyak.


"Gue tau, lo ke kamar yang ada di atas yang paling ujung itu, kamar tempat yang tadi di sebutin di isi line-nya Damar. Mungkin aja ceweknya bening bisa lo sikat 'kan?" saran Ilham, salah satu teman Bagas yang dari tadi diam saja, dan sekarang ini baru angkat bicara.


"Sikat-sikat emangnya gue mau nyuci apa? Tapi, yaudah deh gue ke sana aja hahaha ...." Bagas pun berdiri dari tempat duduknya dan pergi menuju kamar yang di paling ujung.

__ADS_1


***


Bersambung ....


__ADS_2