Terpaksa Menikah!

Terpaksa Menikah!
Jujur


__ADS_3

Dia bingung sebenarnya apa yang mau gadis kampung itu bicarakan, kenapa susah sekali dia mengungkapkannya.


Karena Kesyi sangat kesal dengan sikap bagas yang tidak sopan, dia menjadi malas untuk berbicara dengan Bagas hingga, gadis itu langsung memperlihatkan testpack yang tadi ia bawa.


Bagas sedikit terkejut namun, ia berusaha untuk mencoba menetralkan ekspresi wajahnya agar tidak terlihat terkejut dan panik apalagi setelah ia melihat dua garis merah di testpack itu.


Bagas mengerutkan keningnya "Apaan nih? Apa maksudnya?" tanya bagas pura-pura tidak arti dari testpack itu padahal sebenarnya ia tau arti taspack itu.


Kesyi terdiam sejenak memalingkan wajahnya, meremas bajunya lalu menghembuskan napas panjangnya.


"A--ku hamil anak kamu Gas," jawab kesyi gugup ia masih memalingkan wajahnya tidak mau melihat wajah Bagas yang akan terlihat semakin membenci dirinya.


"...."


Tidak ada jawaban dari Bagas, suasana menjadi hening beberapa saat, hanya ada tiupan angin yang berhembus, dan suara hembusan napas yang terasa sangat berat.


Hingga beberapa saat kemudian Bagas merespon. Namun, ia terlebih dahulu meredam amarahnya yang tidak tahu sebenarnya kenapa dia marah? Apa karena menghamili anak orang atau karena dia tidak sudi mempunyai anak dengan gadis kampung? Entahlah hanya dia yang tahu kenapa dia marah.

__ADS_1


"Gue mau lo gugurin anak sialan itu, dia bukan anak gue dan gak akan pernah jadi anak gue," ungkap Bagas sambil menunjuk-nunjuk ke arah perut Kesyi yang masih rata karena usia kandungannya masih muda.


Jlebb ....


Ucapan Bagas bagaikan petir di siang bolong, bagai pedang yang sangat tajam dan menusuk relung hati hingga dalam. Namun, ini lebih sakit meskipun tanpa ada darah yang keluar.


Hati kesyi terasa sakit saat mendengar jawaban dari mulut Bagas yang sangat tajam itu. Ia menatap wajah Bagas, tak percaya dengan ucapan yang diucapkan lelaki di hadapannya itu, dengan mudahnya ia membuat bayi ini dan sekarang ia malah ingin membuangnya begitu saja? Bahkan tidak mau menganggapnya sungguh kejam sekali Bagas ini.


Meski Kesyi adalah gadis yang kuat dan pemberani tetap saja jika harga dirinya terluka ia pasti bersedih dan menangis.


Dia berusah meredam tangisnya agar tidak pecah di hadapan lelaki ******** itu, karena dia tidak mau di anggap lemah oleh orang kaya yang tidak mempunyai perasaan itu.


"Lo tuli yah? Masa gak denger," ucap Bagas yang terlihat kesal entah kenapa dia menjadi sangat kesal bila berhadapan dengan gadis kampung itu.


"Apa?!" tanya Kesyi sambil menaikkan satu oktaf volume suaranya.


"Gue bilang gugurin tuh kandungan!" jawab bagas mulai tidak betah berbicara dengan Kesyi rasa-rasanya dia ingin kabur dan pergi entahlah itu ke mana.

__ADS_1


"Tapi bayi dalam kandungan ini anak kamu Gas, masa kamu gak mau tanggung jawab?!" ucap kesyi mulai naik pitam dan marah.


Bagas tertawa sinis. "Hah, tanggung jawab? Gue gak pernah ngerasa buat anak itu, 'kan lo yang waktu itu gak mau dibayar, so ... gue udah lepas tangan sekarang berarti bukan tanggung jawab gue lagi dong!" ucap bagas dengan sombongnya.


"Aku gak masalah kamu mau ngehina aku bilang aku wanita murahan atau apakek tapi, aku gak suka kamu karena kamu minta aKU ngegugurin anak ini aku ibunya bukan kamu! Aku yang mengandungnya bukan kamu jadi, mau aku gugurin atau enggak itu urusan aku. Dan satu lagi aku harap kamu akuin anak ini, karena di dalem sini ngalir darah kamu Gas, aku gak peduli kamu hina aku tapi, ini anak kamu, kamu mikir gak sih?!"


Kesyi mengelus-ngelus perutnya sekuat apapun wanita jika harga dirinya dihina dia pasti akan terluka, setegar apapun seorang ibu dia akan lemah jika anaknya diperlakukan tidak adil.


Kali ini air mata kesyi sudah tidak bisa terbendung lagi, dia menangis dengan rasa kecewa dan penyesalan yang begitu besar.


"Gue gak sudi kalo gue harus akuin tuh anak gue yang ada di rahim cewek kampung kayak lo, anak gue seharusnya lahir dari wanita yang tinggi derajatnya dan jelas babat bibit bobotnya. Catet tuh di otak lo!" ucap bagas sambil menoyor kepala kesyi dengan jarinya.


Lalu dia pun berlalu pergi meninggalkan Kesyi yang masih setia berdiri menatap lelaki yang telah menyakiti dirinya itu. Dia benar-benar kecewa dengan dirinya sendiri kenapa harus Bagas ayah dari anak ini? Atau bahkan lebih baik Kesyi tidak tahu siapa ayah dari anaknya itu agar dia tidak merasakan sakit yang lebih menyakitkan dari pada ditusuk beribu-ribu tusukan.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2