Terpaksa Menikah!

Terpaksa Menikah!
Lamaran bagian 2


__ADS_3

Baru saja ia berjalan melewati Bagas dan hendak pergi tetapi, tangan kekar lelaki itu dengan cepat mencekal pergelangan tangan kesyi. Bagas segera menarik tangan kesyi untuk duduk di bangku coklat tua yang ada di dekatnya.


"Duduk!" titah Bagas mencoba mendudukkan Kesyi namun, dengan segera wanita itu menepis tangan Bagas yang kini sudah berubah berada di pundak Kesyi untuk menekan tubuh wanita itu agar duduk.


"Apan sih? Aku gak papa!" ucap Kesyi mencoba menjauhkan diri dari Bagas.


"Duduk!' titah Bagas sekali lagi dengan wajah dinginya.


"Gak mau!" tolak Kesyi dengan memasang wajah kesal.


"Aku bilang duduk yah, duduk! Jangan ngbantah!" titah Bagas lagi yang kini mulai kesal dengan wanita itu karena tidak menuruti ucapannya.


"Gak mau! Lagian aku mau duduk kek atau berdiri kek, itu hak aku, kamu gak punya hak untuk ngatur-ngatur aku!" ungkap Kesyi sambil memutar bola mata, Malas. Tangannya melipat di depan dada seakan-akan sekarang ini ia sedang menajadi wanita yang angkuh.


"Elo kenapa?" tanya Bagas merubah ucapannya.


"Gak papa," jawab Kesyi singkat toh, yang nanyanya juga dari tadi pake kalimat yang singkat jadi yah, samain aja.


"Elo kenapa? Jujur!" ucap Bagas menambah sedikit kata dalam ucapannya.


"Gak papa, cuma kecapean abis bantuin Bude," jelas kesyi singkat tak ingin banyak berbicara atau bercerita dengan laki-laki di hadapannya itu, ia juga tak ingin dikasihani oleh Bagas.


"Jaga kesehatan lo, jangan sampe kecapean!" ucap Bagas dengan muka datarnya.


"Aku gak butuh perhatian kamu, emangnya siapa kamu?" tanya Kesyi sembari bertolak pinggang.


"Calon suami lo!" teriak Bagas, dalam hati pastinya! Mana mungkin ia berbicara seperti itu? Gensinya terlalu tinggi untuk mengucapkan kalimat itu.

__ADS_1


"Lo jangan GR lah! Gue bukan perhatian ataupun kasian sama elo, gue cuma kasihan sama anak lo," ucap Bagas sambil menunjuk perut Kesyi yang masih rata.


Mendengar ucapan Bagas Kesyi merasa kesal dan geram.


"Apa dia bilang? Anak lo. Jadi, ini anak aku doang gitu? Idihhh padahal dia juga bikin. Gak ngakuin sama sekali lagi, bikin kesel aja." batin Kesyi.


Kesyi rasanya ingin sekali muntah bila harus berlama-lama berduaan dengan laki-laki itu disini. Kesyi pergi meninggalan Bagas, karena ingin balas dendam, dia menendang kursi coklat tua itu hingga mengenai kaki Bagas.


"Aww ... sakit! Gak sopan lu jadi cewe?!" teriak Bagas sambil mengusap-ngusap kakinya yang kesakitan.


"Bwekk ... biarin! Kamu aja gak sopan kok sama cewe."


Kesyi menjulurkan lidahnya, meledek Bagas persis seperti anak kecil yang sedang menang taruhan.


Di berjalan menuju ruang tengah dan menemukan ibu dan ayahnya Bagas sedang berbicara serius dengan Bude-nya.


"Nduk ... sini duduk!" titah Rina sambil menepuk kursi di sampingnya.


"Iya .... Bude," jawab Kesyi sambil mendudukkan dirinya di atas kursi.


Bagas pun menyusul sambil duduk di samping ke dua orang tuanya.


"Gini, saya dan keluarga datang di sini berniat untuk melamarkan Kesyi untuk Bagas," ungkap Leksmana membuka pembicaraan.


Rina terdiam, dia teringat kalau keponakannya itu sedang mengandung jadi, dia tidak mungkin langsung menerima saja takutnya keluarga dari pihak sana tidak terima.


"Maaf sebelumnya, saya bukannya menolak akan tetapi, keponakan saya sedang dalam keadaan hamil dan kami tidak tahu siapa ayah dari bayi itu--" Belum selesai Rina berbicara, Leksmana langsung memotong ucapan wanita itu.

__ADS_1


"Maaf--maaf .... malah keluarga kami yang harus benar-benar meminta maaf, bayi yang sedang dikandung keponakan mbak itu ayahnya adalah Bgas anak kami, kami mohon maaf karena telah membuat Kesyi menjadi seperti ini tapi, anak saya akan bertanggung jawab dan bersedia menikahi nak Kesyi," ungkap Leksmana sambil terus meminta maaf.


Rina sedikit berpikir dan menurutnya keponakannya itu lebih baik menikah dengan ayah dari bayinya toh, calon suaminya itu masih muda, tampan, dan juga mapan pasti Kesyi akan bahagia.


"Sudah--sudah kejadian itu sudah berlalu dan tidak bisa dielakkan lagi, lebih baik sekarang kita jalani saja, saya menerima lamaran keluarga Leksmana untuk menjadikan Kesyi sebagai bagian dari keluarga itu, karena saya juga ingin keponakan saya memiliki suami untuk anaknya nanti," jawab Rina.


Kesyi yang mendengar jawaban itu langsung membolakan mata dia tak percaya, bude nya mengambil keputusan begitu saja tanpa meminta keputusan dari Kesyi sendiri.


"Tapi ... Bude--" ucap Kesyi belum selesai sudah dipotong oleh Rina.


"Sayang ... ini yang terbaik buat kamu, bayi dalam perut kamu harus mempunyai ayah, juga kamu tidak mau kan jadi omongan tetangga? Jadi nurut yah sayang," ungkap Rina menenangkan Kesyi.


Kesyi tak bisa menyanggah ucapan Rina, ia pun ingin mempunyai suami untuk menjadi ayah dari anaknya ini tapi, kenapa harus Bagas? Ia sudah muak dengan laki-laki itu tetapi juga jika dia menolak bagaimana dia nantinya? Pasti akan menjadi omongan tetangga.


"Iya Bude," jawab Kesyi rasanya dia menangis namun, ia tahan-tahan agar tidak terlihat lemah di depan Bagas.


"Ya sudah, lusa pernikahannya akan segera dilaksanakan, persiapan pernikahannya biar keluarga kami yang menanggung kami ingin secepatnya melaksanakan pernikahan ini," ucap Leksmana dan dijawab anggukan oleh Rina dan Kesyi.


"Baik karena sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan kami mohon pamit, ini sedikit hadiah lamaran dari keluarga kami," ujar Leksmana sambil memberikan beberapa barang yang ia bawa.


Rina menerimanya dengan tersenyum dan sukarela.


Akhirnya keluarga Bagas pun kembali ke kediamannya.


***


Bersambung ....

__ADS_1


ikutin terus yah cerita ini😉 maaf baru bisa updet karena HP akunya eror gak bisa dicas jadi baru bisa update maaf yah🤭


__ADS_2