Terpaksa Menikah!

Terpaksa Menikah!
Keangkuhan dan Keegoisan


__ADS_3

Si cewek itu terus memberontak dan menggigit telapak tangan Bagas yang menutupi mulutnya.


"Mengapa ada kamu?!" tanyanya sambil berteriak. "Apa yang telah terjadi?" tanyanya lagi.


"Hei itu--itu ... seharusnya gue yang nanya sama elo, apa yang lo lakuin di sini?" tanya bagas kepalanya terasa sakit dia mencoba mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam.


Cukup lama cowok itu terdiam dan ia baru menyadari kalau sekarang ini dia tidak menggunakan busana sama sekali. Bagas pun yang malu karena telat menyadari hal yang sangat mengelikan itu, lantas mengambil bantal yang sedang ia senderin dari tadi, dan melemparkannya ke arah Kesyi.


"Gila?! Cepet balik badan, lo gak malu apa gak pake baju gitu?" titah Bagas sembari memalingkan wajahnya yang yang tiba-tiba terasa panas dan memerah. Gaya bahasa Bagas seketika berubah karena, saat ini dia sedang marah pada wanita itu dan juga pada dirinya sendiri, kenapa dia bisa melakukan hal sehina itu dengan wanita kampung yang sangat ia benci.


"Heh cewek kampung, cepet pake baju lo! Geli gue ngelihatnya," ucap cowok itu, padahal semalam dia sudah melihat keseluruhan tubuh gadis itu tapi, kenapa sekarang malah jadi malu gitu, seperti seorang anak polos yang kencing di celana dan ditertawakan oleh temannya seperti itulah perasaan Bagas saat ini.


Dengan cepat Bagas mengambil kaos miliknya yang tergeletak di lantai yang tidak jauh dari kasur, setelah itu, dia mlemparkan benda berwarna putih dan berbahan kain itu ke wajahnya Kesyi.


"Cepet pake! Gue gak mau ngelihat tubuh bugil lo! Gue gak nyangka ternyata sifat asli lo kayak gini. Cihh ... dasar murahan!" hina Bagas karena merasa dirinya telah dimanfaatkan oleh gadis kampung yang berpura-pura polos itu, yang sebenarnya ****** yang mencari-cari orang kaya untuk mendapatkan uang dengan mudah, dengan cara menidurinya. Bagas berpikir seperti itu, karena dia ingat sekali kejadian yang terjadi tadi malam walaupun, tidak keseluruhannya dian mengingatnya.


Gadis itu tidak mengambil kaos yang dilemparkan oleh Bagas ke padanya, dia malah mengambil sebuah gaun pesta yang semalam ia pakai dan kini dia kenakan kembali.

__ADS_1


"Gas, ini gak sama dengan apa yang kamu pikirin! Malah aku yang bingung kenapa kamu bisa ada di sini?" Kesyi terlihat gusar dan prustasi dengan keadaan yang ia alami saat ini.


Sebenarnya yang salah di sini itu siapa? Kesyi? Bagas atau siapa? Mungkin ini adalah takdir, mereka dipermainkan oleh takdir yang begitu membingungkan, lantas apakah mereka harus menyalahkan takdir? Tidak mungkin, itu tidak bisa sebanyak apapun menyalahkan takdir kejadian itu tidak bisa diulang kembali. Apakah harus menyesalinya sampai-sampai depresi dan gila? Tindakan bodoh macam itu? Atau harus menerima begitu saja? Mana bisa kejadian itu sangat membekas di hati mereka menggoreskan luka yang sangat dalam dalam pikiran mereka.


"Alah bulshit lo, gue tau lo sengaja nidurin gue, biar nanti dikasih uang sama gue, itukan yang elo mau?"


Kesyi yang mendengar hinaan dari Bagas merasa sangat sakit, padahal di sini dialah yang sangat dirugikan tapi, kenapa jadi dia yang disalahkan?


"Gak bukan itu mau aku. Maksud kamu apa sih Gas? Aku gak kayak yang kamu pikirin, hiks ... hiks ...." Air mata Kesyi tidak bisa dibendung lagi hingga begitu saja jatuh.


Mengapa dunia ini begitu kejam pada gadis itu? Dia bukan hanya kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam dirinya tapi, juga dia merasakan rasanya di hina hingga, harga dirinya terluka.


"Gas, ngapain elo marah? Seharusnya gue yang marah, gue yang paling dirugiin di sini dan elo apa? Bukannya tanggung jawab malah ngehina harga diri gue, mikir kagak sih lo? Apa di mata lo wanita gak ada harganya, dasar cowok banci!" Kesyi terlanjur marah dan kesal pada Bagas karena, sikap lelaki itu begitu angkuh dang sombong, dia selalu merasa wanita itu tidak ada harga dirinya malah bisa digantikan dengan uang, picik sekali pemikiran laki-laki itu sehingga membuat Kesyi semakin benci pada sosok yang kaya raya itu.


"Hah rugi? Gue harus ganti rugi berapa. Hah?!" teriak Bagas sembari melemparkan kartu kredit ke arah Kesyi.


Dia sungguh tidak sadar dengan sikapnya itu bisa membuat Kesyi semakin benci padanya, mungkin itu adalah harapannya agar dia bisa dijauhi oleh gadis murahan itu karena, dia tidak mau dimanfaatkan lagi, lebih baik dia membuat gadis itu semakin benci padanya agar mereka mempunyai jarak yang begitu jauh sehingga, tidak bisa bertemu lagi.

__ADS_1


"Heh dasar cowok banci! Di mata elo uang itu bisa membayar segalanya hah? Enggak Gas, lo salah! Malah uang yang membuat elo jadi cowok yang gak berguna," ucap Kesyi sembari berdiri dan menatap Bagas dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.


Lalu dia berjalan ke arah Bagas. "Nih kartu kredit lo, gue gak butuh! Harga diri gue gak bisa dibayar oleh uang, gue ngerasa makin hina kalau nerima uang dari elo." Kesyi mengembalikan kartu kredit itu ke pada cowok yang telah merenggut keperawanannya dan menghina harga dirinya.


"Hah masih ngomongin harga diri? Setelah elo naik ke atas ranjang gue, harga diri lo itu udah gak ada!" hina Bagas semakin menyakitkan sehingga membuat kesabaran kesyi hilang.


PLAK!


Sebuah tamparan berhasil mendarat di wajah mulus milik Bagas, membuat laki-laki itu terdiam dan tak bisa berkata-kata lagi.


"Cukup Gas, gue gak mau ngedenger hinaan lo lagi. Mending lo intropeksi, apa kesalahan lo sehingga, ngebuat gue benci sama lo!" ucap Kesyi sembari berjalan ke luar kamar, dan berlalu pergi.


Bagas terdiam mematung, dengan tangan yang masih memegang sebelah pipinya yang masih terasa sakit, karena tamparan yang lumayan keras yang dilayangkan oleh gadis itu.


***


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2