
Setelah keluarga Bagas pulang, Kesyi terlihat gusar dia sebenarnya tidak mau menikah dengan lelaki yang ia benci.
Ia kembali ke kamarnya dia bingung sekarang harus apa? Hingga terlintas pemikiran yang tak baik di otaknya.
"Ah gimana kalau aku kabur aja?" tanya Kesyi pada dirinya sendiri.
"Ah iya bener-bener," ucap Kesyi menjawab pertanyaannya sendiri.
Kesyi memasukkan pakaian dan barang-barang yang ia perlukan selama kabur dia memasukkannya ke dalam tas warna hitam agak besar miliknya.
"Selesai," ucap Kesyi saat melihat barang-barangnya sudah masuk ke dalam yas itu.
Kesyi berniat melompat dari jendela. Ia sudah membuka jendela kamarnya.
"Hah! Tinggi banget, gimana kalau aku jatuh sakit kali," ucap Kesyi sambil melihat keluar jendela kamarnya yang berada di lantai dua.
"Kalau aku turun dari sini nanti jatuhnya sakit gak yah?" Kesyi kebingungan sendiri karena niat kaburnya.
"Ah aku kaburnya nanti malem aja deh waktu bude lagi tidur," ucapnya sambil memasang alarm. Lalu dia pun tertidur dengan lelap.
***
Secercah cahaya menyinari kamar berwarna biru muda itu, terlihat seorang wanita masih tertidur lelap di atas ranjangnya. Sampai matahari itu menyinari wajah putih mulusnya.
"Huaahhhh ...." Kesyi menguap sembari merentangkan tangannya.
Kesyi yang merasa sinar matahari menyilaukan pandangannya lantas setengah menutup matanya juga mengucek-ngucek ke dua matanya yang masih terasa kabur.
Setelah selesai melakukan aktivitas itu dka baru menyadari kalau hari sudah pagi, bahkan matahari pun sudah terbangun dari tidurnya.
"Ah kenapa aku bisa ketiduran sih?" tanya Kesyi sambil berteriak frustasi.
Dia berdiri dan berjalan berputar-putar, dia mengacak-ngacak rambutnya yang sebenarnya memang sudah acak-acakkan.
"Ah aku gagal kabur lagi." Suni terus berbicara sendiri mengomentari kesalahanya yang ia sesali.
"Ah alarm, bukannya aku udah pasang alarm deh, kenapa gak bunyi?" tanya Kesyi langsung berjalan ke arah alarm.
Saat melihat alarm ternyata benda itu tidak berputar sama sekali pertanda kalau alarm itu sudah mati.
Kesyi benar-benar kesal sekarang.
__ADS_1
Tok ... tok ... tok ....
Terdengar sebuah ketukan di pintu kamar Kesyi yah, siapa lagi kalau bukan budenya yang sedang menunggu sang empu kamar keluar dari kamar si wanita itu tidur.
"Ada apa Bude?" tanya Kesyi tanpa membuka pintu.
"Turun Nduk, makan dulu yah!" titah wanita di balik pintu itu.
"Enggak Bude, Kesyi mau puasa," tolak gadis itu.
"Ya sudah Nduk."
Kini Kesyi berdiam di kamarnya menunggu malam tiba untuk melanjutkan rencana kaburnya yang sempat gagal, dan ia yakin malam ini tidak akan gagal lagi.
***
Malam pun tiba, Nduknya sudah tertidur, ia pun menalikan semua kain yang dipunya membuatnya menjadi tali untuk kabur.
Kesyi membuka jendela, lalu melihat ke bawah. "Uh tinggi juga, tapi demi kesejahteraan hati aku gak mau nikah sama si brengsek Bagas, pokoknya gak boleh takut! Aku harus kabur!" ucapnya meyakinkan diri sendiri.
Sedangkan tidak jauh dari rumah kesyi ada seseorang yang sedang mengamatinya. "Ngapain tuh cewek ngeluarin kain panjang amat gitu? Mau kabur yah?" tanyanya pada diri sendiri sambil tersenyum licik.
Akhirnya dengan susah payah Kesyi berhasil turun dari kamarnya yang ada di lantai dua. Ia langsung berlari sembari membawa tas yang cukup besar berisi banyak sekali baju dan kebutuhannya sehari-hari.
Sedangkan tidak jauh darinya, ada seseorang yang masih mengawasi Kesyi, ia tersenyum lalu melangkah pelan.
"Neng sendiri aja?" tanya seseorang membuat Kesyi mendongkakan wajahnya, ia menatap takut, karena di depannya ada dua orang laki-laki yang berpakaian seperti seorang preman.
"Emm ... itu-itu enggak kok, aku enggak sendiri," jawab Kesyi sembari berdiri, ia mencoba untuk kabur, tetapi langkahnya kalah cepat dengan tangan dua orang laki-laki itu mereka langsung menarik tangan Kesyi dan mencengkramnya.
"Mau ke mana, Neng? Jangan kabur! Main dulu sama abang yuk!" ucap salah seorang dari preman itu.
Kesyi mencoba untuk memberontak. Namun, tahu lah kekuatan seorang wanita tak mungkin bisa mengalahkan dua orang preman berbadan dua kali lebih besar dari tubuhnya.
Bugh!
Satu pukulan berhasil terlayang orang seseorang laki-laki yang dari tadi mengikuti Kesyi. Dengan cepat ia menarik Kesyi ke dalam pelukannya. "Jangan sentuh cewek gua! Kalo kalian nyentuh dia sekali lagi bakal gua bunuh kalin!" ancamnya, membuat kedua preman itu naik pitam mereka merasa direndahkan.
"Berapa duit yang kalian butuh? Segini cukup?" tanya laki-laki itu sembari mengeluarkan uang sebanyak lima ratus ribu dari dompetnya.
Mengangguk, dengan cepat laki-laki itu langsung melemparkan uangnya ke hadapan ke dua preman itu dan langsung diambil, mereka pun pergi berlari menjauh sembari tersenyum licik.
__ADS_1
"Elu kagak papa, kan?" tanyanya sembari tersenyum lembut ke arah Kesyi.
"Makasih yah Gas," ungkap Kesyi sembari melepaskan pelukannya dari laki-laki itu, yah siapa lagi kalau bukan Bagas.
Bagas mengangguk. "Elu ngapain sih ke luar malem-malem gini? Elu tuh cewek harus bisa jaga diri dong, jangan kayak gini, untung ada gue kalo enggak gimana nantinya? Elu yang bakal celaka dan gue gak rela kalau elu sampai celaka!" ungkap Bagas sembari memegang ke dua pundak kesyi.
Tanpa sadar bulir air jatuh dari matanya Kesyi, ia langsung memeluk Bagas. "Maaf yah, Gas, Maaf ...," lirihnya sembari terus terisak.
"Iya, iya gue maafin elu, udah lah jangan nangis," ucap Bagas sembari mengusap lembut pucuk rambut Kesyi.
"Yaudah sekarang kita pulang, yah!" ajak Bagas sambil mencolek hidungnya Kesyi dan dijawab anggukan oleh wanita itu.
****
Flashback!
"Ah gua bosen banget dah, gua jalan-jalan dulu aja dah!" ucapnya sembari memajukan mobilnya.
Sudah cukup lebih dari sepuluh menit ia berkeliling tanpa sadar Bagas memasuki perumahan dekat rumah Kesyi. "Etdah, kenapa gua bisa ke sini?" ucapnya sembari turun dari mobil.
Ia berjalan-jalan sebentar lalu matanya tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang membuka jendela kamarnya. "Ngapain tuh cewek ngeluarin kain panjang amat gitu? Mau kabur yah?" tanyanya pada diri sendiri sambil tersenyum licik.
Lalu ada dua orang preman berjalan melewatinya. "Bang!" panggil Bagas.
"Ada apa?" tanya salah satu dari mereka.
"Mau uang gak?" tawar Bagas sambil tersenyum miring.
"Mau lah, ada pekerjaan buat kita, kah?" tanya seorang lagi mereka.
Bagas mengangguk. "Ini buat kalian, terus kalian takut-takutin tuh cewek," ucap Bagas sembari mengeluarkan uang seratus ribuan dari dompetnya, lalu menunjuk ke arah Kesyi.
Mereka mengangguk, nampaknya sudah mengerti dengan rencana Bagas.
Dengan cepat mereka mengerjai Kesyi, lantas diselamatkan oleh Bagas.
***
Bersambung .....
Jangan lupa Like, Koment, Share dan Vote yah!
__ADS_1
Maaf baru bisa post🙏 Handphonenya baru bener dan kuota juga baru diisi hehehe.
Uh dasar Bagas licik yah, selalu memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan hehe