Terpaksa Menikah!

Terpaksa Menikah!
Kenyataan yang mengejutkan


__ADS_3

Mungkin itu hanyalah sebagian dari ingatannya, tapi, bisa saja laki-laki kaya dan muda itu salah memasuki kamar tapi, tetap saja dia tidak mau mengakui apa yang telah ia perbuat.


Bagas pun bergegas pulang setelah pamit ke pada Virgo.


***


Sudah sebulan setelah kejadian itu, Kesyi menjalani hari-harinya seperti biasa, seakan-akan dia lupa apa yang pernah terjadi padanya tetapi sebenarnya, dia tidak lupa sama sekali dengan kejadian itu, dia hanya berusaha untuk tidak mengingat-ngingatnya saja agar tidak menjadi beban di pikirannya. Namun, pikirannya salah kejadian itu adalah awal dari beban yang akan ia tanggung di masa depan.


Hari ini cukup terik, seperti biasa Kesyi menunggu Fani di tempat yang terbuka tanpa ada penghalang antara dia dan matahari.


Tiba-tiba kepala gadis itu terasa berat dan pusing hingga.


Bruukk ....


Kesyi terjatuh pingsan, Fani yang melihat temannya jatuh pingsan langsung berlari ke arahnya.


Dia menepuk-nepuk pipi Kesyi agar sadar namun, temannya itu tidak tersadar sama sekali, lalu dia membawa Kesyi ke rumah sakit yang ada di dekat kampus.


***


Kesyi mulai terbangun, dia baru sadar dari pingsannya dan kini sudah berada di sebuah ruangan yang serba putih. Matanya melihat ke sekitar dan mendapati temannya yang sedang berdiri di luar ruangan, dan sedang berbicara dengan seorang dokter.


Setelah beberapa menit, Fani masuk ke dalam ruangan itu dan mendapati Kesyi yang sudah terbangun dari pingsannya.


"Kes, kamu gak papa kan?" tanya Fani yang masih khawatir.


"Enggak papa kok Fan, aku baik-baik aja," jawab Kesyi, meyakinkan Fani, agar sahabatnya itu tidak cemas dengan keadaannya lagi.


"Hmmm ... baguslah!" ucap Fani.


"Ada apa Fan? Kamu kenapa?" tanya Kesyi yang bingung dengan sikap sahabatnya itu yang terlihat tidak bisa diam dan kebingungan.


"Ah, itu ... hmmm ... kamu hamil Kes!" ucap Fani gelagap dan berhasil membuat Kesyi terkejut.

__ADS_1


"Apa? Hamil?!" Kesyi syok dengan apa yang diucapkan temannya itu, dia merasa sangat sedih karena masa depan indah yang selalu ia idam-idamkan itu kini hancur seketika.


"Iya Kes, udah satu bulan kamu hamil," ucap Fani dengan nada getir dan sedih.


"Hikss ... hikss ... kenapa aku hamil sih? Aku gak terima tapi, apa yang harus aku lakuin?" Kesyi menangis.


"Sabar Kes, sabar!" Fani memeluk sahabatnya itu sembari mencoba menenangkan Kesyi yang merasa tertekan.


Fani tidak berani bertanya bagaimana temannya itu bisa hamil dan kenapa, karena dia tidak mau membuat temannya semakin prustasi, sekarang ini adalah waktu untuk dia menenangkan sahabatnya dulu, soal pertanyaan yang sudah menumpuk di kepalanya itu, biarkanlah nanti dia tanyakan setelah keadaan Kesyi membaik.


Satu minggu sudah berlalu, dia belum juga kembali ke kampus karena merasa malu, meskipun sebenarnya belum ada yang tahu dengan kebenarannya, rasanya Kesyi tidak ingin kembali lagi ke kampus. Namun, karena sahabatnya Fani, yang telah mengobrak-abrik kamarnya agar dia berangkat ke kampus karena sudah banyak tugas yang menunpuk dari dosen yang belum ia kerjakan.


***


Kesyi telah sampai di kampus, dia mencoba menyiapkan hatinya untuk memberitahukan kehamilannya ke pada Bagas, ayah biologis anak yang sedang dikandungnya saat ini.


"Bagaimana ini? Aku takut, takut saat sudah memberitahu Bagas tapi, dia malah tidak mau menerima anak ini bagaimana ini? Aku takut" batin kesyi dalam hati.


Jarinya meresmas ujung baju yang berwarna biru langit itu, wajahnya terlihat gusar, gadis itu sedang kebingungan, karena dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang ini.


"Bilang gak yah, bilang enggak, bilang enggak tapi, kalau Bagas gak mau nerima anak ini gimana? Duh bingung aku, bikin pusing pala aja nih," batin kesyi, dia sedang mempertimbangkan apakah dia akan memberitahu Bagas, soal bayi yang dikandungnya atau tidak, jika dia memberitahunya Bagas pasti akan menghina-hinanya lagi tetapi, jika tidak, bagaimana dengan nasib anak ini? Apakah dia akan terlahir tanpa tahu ayahnya siapa?Tidak itu tidak boleh terjadi, kasian bayi ini.


Kesyi terus mengatur napasnya yang tidak teratur, karena bingung dengan keputusan yang harus ia ambil.


"Kesyi kamu harus jujur! Mau bagaimana jadinya nanti yang penting sekarang harus memberi tahunya dulu, kamu harus berani!" gumam Kesyi menyemangati dirinya sendiri. Lalu dia merogoh kantungnya, di sana ada sebuah taspack miliknya, dia melihatnya sebentar lalu mengantunginya lagi.


Kesyi berjalan melangkah mendekat ke arah empat cowok yang sedang berkumpul yang di mana salah satunya adalah seorang ******** yang telah merenggut harta berharga Kesyi.


Belum Kesyi mengucapkan sepatah kata, lelaki itu sudah menyambutnya dengan pertanyaan yang seakan-akan tidak mengizinkan gadis kampung itu mendekati mereka.


"Mau ngapain lo ke sini, Hah?!" Sebuah pertanyaan terucap dari mulut Bagas dengan suara yg sekarstis .


"Biasa aja dong Gas, jangan ngegas gitu kali! Aku mau ngomong sesuatu, penting!" ucap kesyi sambil berkacak pinggang karena direndahkan oleh Bagas makanya dia bergaya seperti bos saja.

__ADS_1


"Yaudah kalau mau ngomong--ngomong aja kali!" ucap Bagas ketus dan tak peduli.


Kesyi yang mendengar ucapan cowok itu langsung tertegun, Bagas bilang ngomong aja di sini? Gila kali yah, emangnya dia gak malu gitu, ini itu soalnya memalukan banget, bisa mencoreng nama baik Kesyi dan Bagas sendiri.


"Gak bisa Gas, Aku gak mau ngomong di sini, aku mau kita ngomong berdua!" Pinta kesyi dengan nada memohon dan memaksa.


"Ck! banyak maunya lo, kalo mau ngomong yah, tinggal ngomong, gitu aja banyak maunya lo, padahal masih untung gue kasih lo kesempatan buat ngomong. Ck! Dasar cewek banyak maunya," ungkap bagas kesal.


Bagas melihat Kesyi sebentar entah apa yang mau dibicarakan dia sebenarnya.


"Yaudah kalo gitu ikut gue," ajak Bagas ke pada wanita yang ingin mengajaknya bicara itu.


"Nah gitu dong dari tadi!" ucap Kesyi yang masih berdiri di tempatnya dan belum melangkah sama sekali.


"Cepetan napa!" bentak Bagas kesal, karena dia tadi di suruh untuk berbicara di tempat lain tapi, yang nyuruhnya malah diam di tempat.


"Iya, iya, iya bawel amet," ucap wanita itu sambil mengekor Bagas dari belakang.


Bagas berjalan tergesa-gesa menuju atap kampus, dia ingin tahu apa yang mau dibaicarakan oleh gadis kampung itu sehingga, memintanya untuk berbicara berdua saja.


Setelah sampai di atap Bagas langsung buka suara, tidak ingin lama-lama berduaan dengan gadis kampung yang sangat tidak ia sukai.


"Mau ngomong apa lo? Cepet kalo mau ngomong to the point aja, jangan banyak basa-basi, gue gak suka kalau lo ngomong nya lama, cepetan apa?!" ungkap Bagas sambil melihat kesyi dengan tatapan yang seperti siap membunuh.


Kesyi meremas roknya bingung dia harus memulai dari mana? Haruskah dia langsung mengungkapkannya atau dia langsung saja menunjukkan benda itu.


"Emmm ...." Kesyi hanya bisa meng-emm saja karena dia masih ragu untuk berbicara.


"Heh, gue gak butuh 'emmm' dari lo, kalo mau ngomong yah cepetan ngomong jangan lama-lama!" Bentak Bagas sambil melotot ke arah Kesyi.


Dia bingung sebenarnya apa yang mau gadis kampung itu bicarakan, kenapa susah sekali dia mengungkapkannya.


***

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2