
Bagaimana Dea tidak terkejut hingga mulutnya menganga lebar sampai seperti itu. Tepat di depan mata semua orang, seluruh teman-teman sekelas Dea minus Rama dan juga Sukma tergantung di dinding gedung dengan tali tertaut di masing-masing katrol tiap siswa. Katrol-katrol tersebut sengaja digantung di atas atap sehingga sulit untuk menurunkan mereka semua kecuali dengan mendatangkan alat berat.
Jarak atap gedung dengan katrol-katrol itu kurang lebih 5 meter. Mustahil jika ingin menurunkan mereka satu per satu tanpa alat bantu apapun karena resiko berbahayanya sangat tinggi. Kedua tangan dan kaki teman-teman Dea yang digantung itu, juga diikat dengan tali. Mulut mereka disumpal dengan kain sehingga mereka tidak bisa berteriak ataupun bergerak apalagi minta tolong.
Di dinding gedung utama tepatnya di belakang teman-teman Dea yang digantung, terdapat pamflet besar bertuliskan bahwa semua siswa yang digantung itu adalah pelaku percobaan pembunuhan lengkap disertai dengan foto saat mereka berdiri di pinggir tebing dimana salah satu dari mereka adalah pelaku pendorong tubuh Dea ke jurang.
Bahkan posisi tubuh mereka yang tergantung sekarang, sama persis dengan foto yang terpasang jelas di pamflet. Entah bagaimana bisa ada foto seperti itu, Dea sungguh tidak mengerti. Sebab, di tengah hutan belantara mana ada cctv. Namun, jika urusannya sudah dengan Dewa, maka tidak ada yang tidak mungkin baginya.
Siapa lagi yang bisa melakukan hal segila ini kalau bukan si pangeran demit Dewa. Pantas saja kalau semalam Dewa tidak kembali ke tempat Dea berada. Rupanya, inilah yang dilakukannya.
Pamflet dan foto yang terpampang itu merupakan bukti tindak kejahatan dari semua siswa ini sekaligus pencoreng nama baik sekolah. Sebab, apa yang terjadi di sini sudah ramai dibicarakan banyak orang di berbagai media sosial. Bahkan pamflet itu telah masuk trending topik dan mengalahkan kasus jendral bintang 2 pembunuh ajudannya.
Karena itulah, para polisi berdatangan untuk mengusut kasus kriminal yang dilakukan oleh teman-teman sekolah Dea. Sebab ini bukan masalah yang bisa dianggap sepele.
"Ba-bagaimana bisa kau melakukannya?" tanya Dea menatap wajah bahagia Dewa disaat semua orang sibuk berusaha menurunkan semua orang yang mencoba mencelakai Dea. "Kau ... bisa mendapatkan hukuman jika sampai terjadi sesuatu pada mereka," ujar Dea lebih mencemaskan suaminya ketimbang apa yang dilakukannya untuknya.
"Bukan aku yang menggantung tubuh mereka semua karena kalau malam, aku tak bisa menyentuh manusia sembarangan. Aku hanya meminta orang-orang yang ahli di bidang ini dan dialah yang menggantung semua teman-teman kejimu di atas sana. Tugasku hanyalah membuat pamflet itu," terang Dewa dan alis Dea terangkat karena tidak mengerti maksud ucapan suaminya.
"Apa maksudmu? Dia? Dia siapa? Pasukan demitmu?" tebak Dea.
"Bukan, tapi dia." Dewa menunjuk sorang pria tampan yang baru saja keluar dari dalam gedung bersama dengan kepala sekolah.
__ADS_1
Pria tampan itu berjalan mendekat ke arah Dewa dan Dea berdiri sambil masih terus mengobrol serius dengan pemimpin sekolah ini. Keduanya baru berhenti berdiskusi karena pihak kepolisian meminta keterangan kasus yang sedang terjadi di sini, terlebih lagi, para polisi memutuskan menurunkan semua siswa yang digantung oleh orang tak di kenal dengan alat bantu berat untuk mempermudah evakuasi.
Pria tampan dan tinggi itupun mendekati Dewa dan Dea. Sungguh, Dea sangat penasaran pada pria berwibawa ini. Rasanya, Dea bisa merasakan kekuatan sama seperti yang dimiliki suaminya. Gadis itu jadi ragu, apakah pria tampan itu manusia atau bukan.
"Masalah beres D, kau bisa di sini selama yang kau inginkan," ujar pria tinggi putih yang wajahnya mirip dengan Dewa.
"Terimakasih, Kak. Maaf merepotkanmu," ucap Dewa sambil memeluk kakaknya erat-erat.
Hah! Kakak, jerit Dea dalam hati ketika melihat dua pria yang sedang berpelukan didepannya ini ternyata adalah kakak beradik. Artinya, pria tampan itu adalah kakak ipar Dea sendiri.
Karena keduanya memiliki kekuatan sama yang diwarisi dari ayah dan ibu mereka, pastilah keduanya dapat mendengar pikiran Dea. Namun, mereka cuma senyum saja. Sudah hal biasa kalau banyak orang yang terkejut melihat Rey dan Dewa. Walau usia mereka terpaut sangat jauh, tapi wajah mereka sama-sama terlihat muda. Hal itu karena Rey sama dengan Refald yang tidak bisa menua. Tatap tampan, dan mempesona.
"Apa dia ... adik iparku?" tanya Rei pada adiknya sambil menatap Dea.
"Halo Dea, aku Rey, kakaknya Dewa. Senang bertemu denganmu hari ini." Pria tampan yang bernama Rey itu tersenyum manis pada Dea yang hanya bisa terpana dari rasa shocknya. Dea baru tahu kalau kakak suami hantunya ini sangat tampan sekali sama seperti Dewa.
"Ha-halo, Kakak ipar." Dea sangat gugup tidak tahu haris berkata apa karena ia takut salah bicara.
Reypun sepertinya mengerti, jadi ia tak banyak bicara lagi agar Dea tidak tegang saat ada didekatnya. Iapun beralih kembali menatap adik kesayangannya.
"Aku sudah melakukan apa yang kau inginkan, jangan menggangguku tengah malam apalagi saat aku bercumbu mesra dengan kakak iparmu! Jika sampai kau melakukannya lagi, kaulah yang akan kugantung di atas sana! Sampai ketemu lagi dipesta resepsi kalian. Kau punya selera mobil bagus juga, D." Rey menepuk pelan bahu adiknya dan berjalan pergi meninggalkan Dewa dan Dea ditengah hiruk pikuknya orang-orang yang berusaha keras menurunkan teman-teman sekelas Dea.
__ADS_1
Mata istri pangeran Demit itu tak bisa berhenti memandang kepergian kakak iparnya yang cool itu. Ia terperanjat saat salah satu staf polisi lewat di depan Dea, Rey sudah tidak ada lagi di sana seakan menghilang bak di telan bumi.
Dalam hati, Dea sangat mengagumi keluarga ajaib suaminya. Mereka semua sangatlah luar biasa hingga gadis itu serasa mimpi saja bisa menjadi bagian dari keluarga ini.
"Apa kau sudah selesai bengongnya?" tanya pangeran D tiba-tiba.
"Hah, ah ... sudah." Dea gelagapan tapi ia langsung sadar. "Itu ... kau dapat seragam itu darimana? Apa ... maksudnya ini? Kenapa kau pakai seragam sekolah sama sepertiku?" tanya Dea masih belum mengerti. Ia sangat kaget dan tidak pernah menyangka pada apa yang ia lihat sekarang.
Suaminya semakin tampan jika memakai seragam sekolah seperti dirinya. Dewa jadi tampak normal layaknya siswa pada umumnya. Hanya saja, agak aneh saja. Mana ada hantu bersekolah? Itu sangat tidak mungkin terjadi dan sangat mustahil dilakukan meskipun Dewa tengah mengubah wujudnya menjadi manusia.
"Ah, aku lupa memberitahumu. Mulai hari ini, dan seterusnya, aku akan selalu ada disampingmu. Tidak akan kubiarkan kejadian seperti kemarin menimpa dirimu. Makanya aku minta kakakku untuk mendaftarkanku di sekolah ini sekaligus kusuruh ia pemanasan awal menghukum orang-orang yang mencelakaimu." Pangeran D cuma tersenyum menatap banyak orang sedang berkumpul saat mereka berhasil menurunkan setengah dari siswa yang di gantung kakaknya pengeran D.
Anehnya, tidak ada yang tahu bahwa pelaku penggantung siswa itu adalah orang yang baru saja meninggalkan tempat ini. Entah bagaimana caranya Rey melakukan tindakan yang membuat repot aparat dan semua pihak bersangkutan.
"Pemanasan? Hal sekejam itu kau bilang cuma pemanasan?" pekik Dea. Kalau dipikir-pikir keluarga suami hantunya ini memang luar biasa tapi sadis juga kalau menghukum orang.
"Dea, dunia ini sangat kejam. Anak-anak nakal itu akan segera bebas dari tuduhan yang kulancarkan. Makanya kak Rey menyerahkan sisanya padaku setelah hukuman pemanasan ini." Dewa menatap wajah tegang Dea dan langsung memeluknya agar ia tak cemas lagi.
"Fokuslah pada ujianmu, supaya kita bisa menikmati waktu berdua saja. Aku akan menjagamu," bisik Dewa mesra di telinga Dea.
BERSAMBUNG
__ADS_1
***