
Dea tertegun menatap mata indah suaminya yang sedang berbinar-binar terang. Entah mengapa, dunia jadi serasa milik berdua saja. Gadis itu benar-benar nyaman ada di dekat Dewa. Hati wanita mana yang tidak berbunga-bunga bila orang yang dicintainya, rela melakukan apa saja demi melindungi dan menjaganya.
Namun, kebahagiaan buyar ketika beberapa siswa yang berhasil diturunkan setelah digantung menyadari keberadaan Dea di sekolah ini. Terang saja mereka semua terkejut. Mereka sangat yakin, kalau gadis yang dianggap sebagai sampah masyarakat itu harusnya sudah mati. Tapi ternyata malah masih hidup dan tanpa luka sedikitpun. Sungguh aneh dan mustahil Dea bisa selamat dari jurang kematian dalam arti sesungguhnya.
"De-Deaa!" seru salah satu siswa saat melihat Dea. Seluruh pasang matapun langsung mengarah ke Dea. "Kau sungguh Dea? Bukankah ... kau ..."
"Sudah mati?" sahut Dea. Seakan mendapat kekuatan dan keberanian. Dia juga ingin menegakkan keadilan untuk dirinya sendiri atas apa yang dilakukan teman-teman sekelasnya pada Dea. "Aku memang sudah mati sejak kalian semua menganggapku tidak ada di dunia ini. Tapi Dewa kematian tak mengizinkanku pergi ke alam baka sebelum membuat kalian semua merasakan apa yang aku rasakan saat kalian mencoba melenyapkanku. Entah kenapa kalian begitu membenciku, tapi perbuatan kalian sangat tidak bisa dibenarkan."
"Jangan sok suci kau! Kau pikir siapa dirimu? Apa kau lupa seperti apa keluargamu saat membunuh ayah dari Rudi? Meskipun kedua orangtuamu menjalani hukuman atas perbuatan keji mereka dipenjara, bagaimana dengan keluarganya? Apa kau pernah memikirkan mereka?" bentak siswa itu dengan sangat emosi.
"Lalu bagaimana denganku? Setidaknya hidup mereka masih lebih baik dariku karena mereka tak dianggap sampah masyarakat seperti yang kalian sematkan padaku. Rudi masih punya ibu, saudara, dan kalian semua. Sedangkan aku? Aku tak punya siapa-siapa kecuali Dewa. Lantas, jika aku adalah anak dari seorang pembunuh, kalian bisa bebas menyiksa dan melenyapkanku? Begitu? Apa kalian sungguh manusia? Dimana hati nurani kalian? Memperlakukanku bagai binatang jalaaang!" jerit Dea sudah tak dapat membendung air matanya lagi. Ia puas karena bisa mengeluarkan uneg-unegnya.
Dewa, yang sejak tadi berdiri di belakang Dea menatap trenyuh kesedihan istrinya. Tiba-tiba saja, hantu tampan itu teringat kata-kata Dea saat mereka baru saja mengenal satu sama lain. Waktu itu, Dea begitu ngotot bersedia menikah dan hidup bersama dengan Dewa sekalipun ia harus kehilangan nyawa.
Ternyata ini sebabnya, gadis manis itu tak punya tempat sebagai manusia didunianya. Dewa menunduk, ingin rasanya merengkuh Dea kembali ke dalam pelukannya dan mengusap air matanya, tapi pangeran demit itu masih menahan semuanya karena ini bukanlah waktu yang tepat baginya untuk memadu kasih dengan Dea. Kedua tangan Dewa cuma mengepal sangat kuat agar ia tak lepas kendali mengetahui semua ini.
Semua orang terdiam dan kepala sekolah mengambil alih situasi. Kejadian ini sudah mencoreng nama baik sekolah dan sebagai pemimpin tertinggi di tempat ini, ia harus mengambil sikap tegas. Sesuai permintaan Rey, kepala sekolah meminta para aparat kepolisian untuk membawa mereka semua yang terlibat dalam kasus percobaan pembunuhan ke kantor polisi dengan didampingi orangtua mereka masing-masing untuk diproses hukum.
__ADS_1
Seluruh teman-teman sekelas Dea digelandang bersama ke kantor polisi setelah mereka semua berhasil diturunkan. Pamflet yang terpasangpun juga diambil sebagai barang bukti tindak kejahatan yang mereka lakukan.
Ketika salah satu teman Dea berjalan melewati istri Dewa, siswa itupun berkata,
" Kau boleh senang karena kau menang sekarang. Tunggu saja, begitu aku bebas, saat itulah akhir dari hidupmu! Dasar sampah!" Siswa tersebut sempat-sempatnya meludah di depan Dea meskipun kedua tangannya sedang di borgol dan dicekal kuat oleh petugas polisi.
Tentu saja, Dewa yang tahu kejadian itu, tidak terima. Ia ingin membalas tapi ditahan oleh Dea. Gadis itu tak ingin suaminya ini terkena masalah saat dia sedang dalam mode menjadi manusia.
"Jangan apa-apakan mereka lagi. Hentikan! Aku tak ingin kau dapat masalah hanya karena orang seperti itu," ujar Dea sudah tidak kaget lagi diperlakukan seperti ini.
***
Sayangnya, hantu yang mereka kira sebagai manusia tampan paling sempurna itu terus menempel pada Dea kemanapun gadis itu pergi seolah ia adalah bodyguard Dea. Bahkan ke toilet sekalipun, Dewa tetap setia menunggu Dea diluar sampai gadis itu keluar dari toilet.
Pangeran demit tersebut sengaja tak membiarkan Dea sendirian lagi selama ada di sekolah. Ia pun juga memilih duduk disebelah istrinya sehingga tak ada siapapun yang berani mengganggu Dea atau mendekatinya. Baik Dewa ataupun Dea, sama sekali tak peduli dengan apa yang dipikirkan semua mengenai hubungan keduanya.
Sebab, di hari pertama Dewa datang ke sekolah ini, pangeran demit itu memang memperkenalkan dirinya sebagai tunangan Dea. Awalnya, semua orang terkejut bukan kepalang mendengar pengakuan Dewa. Mereka juga tidak bisa percaya bahwa seorang Dea, punya tunangan tampan luar biasa. Tapi mereka juga tak bisa menyangkal karena hingga sekarang, Dea dan Dewa sama sekali tak terpisahkan.
__ADS_1
"Eh Dewa! Apa kau buta? Kau tahu siapa Dea? Bagaimana bisa kau memutuskan menjadi tunangannya sedangkan mantan pacarnya saja, si Rama langsung minta putus begitu tahu kasus tentang kedua orang tua Dea?" tanya salah satu siswa yang heran saat Dewa memperkenalkan diri sebagai calon suami Dea.
Pangeran D malah memberikan jawaban menohok yang membungkam mulut lamis semua orang. "Dea tidak menolak saat minta putus dari mantannya, sebab dia tahu kalau dia sudah dijodohkan denganku. Makanya, hubungan mereka harus berakhir karena Dea, akan segera menjadi istriku. Masalah orangtua Dea, itu adalah urusan mereka. Dea sama sekali tidak ada hubungannya dengan kekejaman yang dilakukan kedua orangtuanya. Aku harap pada kalian semua, jangan lagi menghakimi Dea hanya karena dia adalah putri dari seorang pembunuh, jika sampai kalian melakukannya, aku akan buat perhitungan dengan kalian. Camkan itu baik-baik."
Itulah kata yang diucapkan Dewa di hari pertama dia terdaftar sebagai siswa baru disekolah Dea. Ia tidak sepenuhnya berbohong tentang statusnya dengan Dea. Hanya saja, pangeran D mengaku sebagai tunangan ketimbang suami agar tidak menimbulkan kontroversi. Sejak saat itu, tak ada yang berani mendekat ataupun mengganggu Dea karena sang suami tercinta selalu ada di dekat Dea dan tak pernah meninggalkannya barang sedetikpun.
Selama 2 hari ini, gadis itu juga lebih banyak diam dan merenung. Banyak sekali hal yang Dea pikirkan sekaligus harus berkosentrasi pada ujian. Saat di rumah pun, Dea juga memilih menyendiri dan terkesan acuh saja pada Dewa.
"Pangeran, kenapa dengan Putri? Kenapa dia tidak mau bicara pada Anda dan lebih suka membawa buku kemana-mana?" tanya pak Po saat Dewa duduk di jendela rumah Dea sambil mengamati Dea yang sedang sibuk belajar.
"Entahlah, mungkin dia masih sedih jika teringat kasus kedua orangtuanya," jawab Dewa santai. Ia juga sengaja membiarkan Dea menyendiri.
"Lalu, apa yang Anda lakukan di sini?" tanya pak Po dengan wajah polosnya.
"Ngobrol denganmu," jawab Dewa singkat. Namun, matanya tak bisa berhenti menatap Dea. "Apa mungkin dia marah padaku karena waktu itu?" gumam pengeran D.
"Memangnya, apa yang Anda lakukan pada Putri?" tanya pak Po penasaran.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***