
Dea sungguh bingung dengan para pria tampan yang ada di sini. Dibilang penjahat, tampang mereka tak seperti orang jahat karena baik Yeon ataupun Bima sama sekali tidak menyakiti Dea meski mereka cenderung memaksa membawanya pergi dari sini entah karena apa. Gadis itu benar-benar penasaran siapakah kedua pria ini dan apa alasan mereka semua menyerang suaminya juga menculik dirinya. Untuk apa coba?
Dua kakak beradik itu terus memaksa Dea masuk ke dalam mobil jeep canvas hitam dan langsung melesat cepat menuju tempat yang sebelumnya Yeon tanyakan pada Rey. Yeon bertugas sebagai sopir sedangkan Bima bertugas memegang kuat-kuat sandera mereka agar istri Dewa itu tidak kabur.
Sementara itu, Rey alias kakak Dewa sendiri masih belum mengizinkan adiknya lewat apalagi menemui istrinya yang dibawa lari saudara-saudaranya sendiri. Kalau dipikir-pikir, dendam kesumat Rey ini sungguh bikin geleng-geleng kepala karena melibatkan Yeon dan Bima. Gara-gara adegan ikan terbang ciptaan Refald di hari pernikahannya dulu, suami Rhea ini ingin adiknya juga merasakan hal sama seperti yang dulu pernah Rey rasakan.
"Apa kalian semua kurang kerjaan? Minggir! Jangan halangi jalanku. Ada apa dengan kalian semua? Untuk apa kalian menculik istriku?" bentak Dewa mulai kalap.
"Apa kau tidak tahu? Mengacaukan pesta pernikahan sudah jadi tradisi turun temurun keluarga kita. Aku sudah menunggu lama momen ini. Baik ayah, Paman, serta saudara-saudara kita yang lain pernah mengalami drama ikan terbang ala sinetron ku menangis dan azab sengsara. Sekarang giliranmu. Hehe ..." Rey terkekeh saat bicara.
"Kakak, jangan bercanda! Ini sama sekali tidak lucu."
"Siapa yang melawak. Biarkan saja Yeon dan Bima membawa istrimu. Aku jamin dia masih utuh. Lagipula ... apa yang ada di otakmu itu, ha? Kau mau belah duren dengan Dea di sini? Di tempat seperti ini? Otakmu ini miring sebelah, ya? Bagaimana kau mau melakukan momen syahdu yang hanya terjadi sekali sumur hidup dengan wanitamu di tempat seperti ini? Otak dan hatimu masih berfungsi nggak sih?" geram Rey.
Dewa diam tak berkutik saat kakaknya mengomelinya habis-habisan. Ia akui kalau ia tidak bisa menahan diri apalagi kepolosan Dea begitu menggodanya. Entah apa yang terjadi seandainya saja Rey dan yang lainnya tadi tidak datang dan memisahkan mereka berdua. Seketika, pangeran demit itu jadi malu sendiri karena tak bisa mengontrol hasrat dan cintanya.
"Maaf, Kak. Aku sungguh tak bisa menahannya. Aku ...."
"Ayo ikut denganku," sela Rey sangat memahami kondisi adiknya. "Bocah bau kencur sepertimu harus mendapatkan pelatihan khusus dariku karena aku lebih mahir dibandingkan ayah kita. Kau jangan mengecewakanku." Rey merangkul bahu adiknya dan mengajaknya pergi ke suatu tempat entah ada di mana.
***
__ADS_1
Bima dan Yeon rupanya membawa kakak ipar mereka ke istana kediaman Refald dan Fey melalui pintu ruang dimensi yang sudah disiapkan Rey sebelumnya. Mungkin karena terlalu lelah, Dea tertidur dalam mobil dan masih belum sadar kalau dirinya sudah kembali ke rumah mertuanya lagi di dunia lain.
Berhubung Dea adalah istri dari putra kedua Refald yang merupakan paman Bima dan Yeon. Mau tidak mau, kedua pria tampan itu harus memanggil Dea dengan sebutan 'kakak ipar' sekalipun mereka berdua lebih tua dari Dea. Lucunya, sampai detik ini, Dea masih belum tahu kalau yang menculiknya adalah adik sepupu dari suaminya sendiri.
Ketiganya sampai di depan istana yang merupakan kediaman Dea dan Dewa. Hari sudah gelap saat mereka tiba. Bima membangunkan Dea dan gadis itu sangat terkejut ketika tahu ada di mana dirinya sekarang.
"Astaga, ada di mana aku ini? Apaaa ... aku mati dibunuh?" tanya Dea gelagapan dan juga takut kalau-kalau dirinya mati sebelum berpamitan pada Dewa.
"Kau belum mati kakak ipar, ini adalah istana kediamanmu dan si pangeran Dew Dew," terang Bima sambil turun dari mobil menyusul kakaknya yang sudah turun lebih dulu.
"A-apa?" pekik Dea shock. Iapun ikut turun dan mengejar Bima. "Kau bilang apa barusan?" tanyanya. Gadis itu berdiri tegap di hadapan Bima.
"Istana ini kediaman kalian berdua."
"Kakak ipar, kau sudah menikah dengan kakak kami. Disinilah kau dan kakakku yang otaknya miring sebelah itu akan tinggal dan membangun bahtera rumah tangga kalian berdua setelah ini. Tentunya ... setelah drama ikan terbang kalian berakhir." Bima tersenyum licik pada Dea dan meninggalkan kakak iparnya kebingungan sendiri.
"Ada apa dengan keluarga ini?" gumam Dea terheran-heran. Ia tidak tahu harus bagaimana. Tanpa Dewa disisinya hati gadis itu jadi merasa hampa. Padahal ia ingin sekali menghabiskan waktu yang tersisa dengan suaminya sebelum ritual itu terjadi.
Melihat istana ini, semakin mengingatkan Dea kalau waktunya untuk bersama suaminya sudah tidak lama lagi. Hal itu membuat Dea jadi sedih serasa ingin menangis. Namun, mendadak mata Dea terbelalak kala melihat wanita yang tiba-tiba berdiri di depannya sedang asyik mengobrol bersama dua pria yang ternyata, adalah adik iparnya sendiri.
Suasana hati Dea jadi kacau melihat pemandangan tak terduga itu. Baik Yeon dan Bima sangat akrab dengan wanita yang tak lain dan tak bukan adalah Sekar. Wanita yang dulu pernah singgah di hati Dewa. Entah mengapa, Dea menjadi dilema, sebagai wanita dari kalangan manusia biasa, ia sangat sadar posisinya ini dimana. Keakraban Bima dan Yeon membuktikan bahwa mereka semua pernah dekat satu sama lain. Tak heran, bila Dewa pernah jatuh hati pada wanita anggun nan cantik itu.
__ADS_1
"Oey, Kakak ipar! Kemarilah!" seru Bima yang melihat Dea jadi canggung.
"Kenapa kau memanggilnya! Dasar bodoh!" bisik Yeon.
"Memangnya kenapa?" Bima sedikit nyolot dikatain kakaknya.
Tapi putra kedua Leo itu langsung sadar kalau yang ia lakukan telah salah besar. Diantara keluarga besar Refald memang tidak pernah ada rahasia apapun. Mereka semua adalah keluarga somplak tapi kompak dan menjaga satu sama lain dari segala hal atau bahaya apapun. Jelas Bima dan Yeon sangat mengerti apa yang terjadi pada Dewa termasuk situasi yang terjadi ada kedua wanita ini.
Karena sudah terlanjur, Dea tak bisa menghindar lagi. Mau tidak mau, suka tidak suka, ia harus ikut berkumpul dengan ketiga orang yang membuatnya canggung habis-habisan.
"Hai Dea, maaf baru bisa menyapamu sekarang." Wanita yang bernama Sekar itu menyapa lebih dulu sambil tersenyum manis pada Dea dan menunjukkan sisi anggun nan elegannya.
Sungguh, hati Dea bergejolak kuat kala melihat betapa sempurnanya wanita yang berdiri dihadapannya. Tiba-tiba saja, gadis itu merasa bahwa Sekarlah yang lebih pantas menjadi menantu keluarga luar biasa ini dibandingkan dirinya yang tak punya kelebihan apa-apa. selain cantik dan anggun, gadis bernama Sekar itu juga tampak sepadan dengan ibu mertuanya karena kepribadian mereka hampir sama.
Dia cantik sekali, sungguh aku tak pernah melihat sanita sesempurna ini. batin Dea tak tahu harus bilang apa. Namun ia harus tetap membalas tatapannya.
"Ehm ... terimakasih nona Sekar, suatu kehormatan bagiku ... bisa bertemu kembali dengan Anda." Dea tampak gugup saat membalas sapaan wanita yang dulu pernah merebut hati suaminya.
Oh Dewa ... di mana kau? panggil Dea dalam hati sambil terus menundukkan kepalanya.
Di sini ... dihatimu! balas Dewa melalui telepatinya dimana hanya Dea saja yang bisa mendengar suara suaminya.
__ADS_1
BERSAMBUNG
***