Terpaksa Menikah Dengan Dewa

Terpaksa Menikah Dengan Dewa
BAB 45 Galau


__ADS_3

Mata Dea berkaca-kaca kala melihat Sekar dan Mas Gen masih berada di area eksekusi dikala semuanya berbondong-bondong pergi. Sekar memang tidak jadi dimusnahkan atas usulan Dea, tetapi penglihatannya dihilangkan hingga batas yang tak bisa ditentukan. Dapat dibayangkan bagaimana rasanya menjadi buta tanpa bisa melihat apa-apa.


Terutama jika itu berhubungan dengan orang yang amat sangat dicintai. Meskipun Mas Gen telah dihidupkan kembali, Sekar tak lagi bisa melihatnya apalagi menyentuhnya. Mereka berdua, tetap tidak bisa bersama.


“Apakah hukuman itu … terlalu kejam? Tak bisa melihat sosok yang kita cinta, apa bedanya dengan kematian?” gumam Dea sedikit merasa iba melihat kondisi Sekar yang pasrah ketika penglihatannya dihilangkan sendiri oleh Mas Gen seperti apa yang diperintahkan Refald.


Entah kenapa, hati Dea serasa amat sedih dan serasa tak kuasa bila hal tersebut dialami juga oleh Dea.


“Ayo kita pergi Sayang,” ajak Dewa dan membimbing istrinya meninggalkan area eksekusi ini.


Mata pangeran demit itu menatap lurus istrinya yang sedang galau akut. Dea memang ada disisinya, tapi hati dan pikirannya ada di tempat lain. Keduanya ada di tengah taman bunga yang sedang bermekaran. Warna-warni kelopak bunga tampak indah dan menakjubkan. Sayangnya, Dea tak bisa menikmati panorama cantik ini karena ia terlalu banyak hal yang ia pikirkan.


Sejak tadi Dewa hanya diam dan mengamati pergerakan istrinya. Untunglah tidak ada yang menganggu mereka. Sepertinya, keluarga Dewa memberikan privasi penuh padanya untuk berdua saja dengan Dea. Tiba-tiba saja … sifat jahil Dewa kumat dan ia mulai bertingkah di depan istrinya.


“Aduh … aduh duh duh duh!” seru Dewa sambil membungkukkan badan seperti sedang kesakitan dan menutup wajahnya.


Tentu saja Dea terkejut dengan aksi Dewa yang tidak ada angin tidak ada hujan, mendadak merintih kesakitan.


“Ada apa? Apa yang terjadi padamu?” tanya Dea mulai mencemaskan suaminya.


“Mataku …” rintih Dewa masih belum mau membuka tangannya dan terus menutupi mukanya sehingga Dea kesulitan memeriksa.


“Kau kenapa? Coba buka tanganmu, biar kulihat.”


“Tidak, kau tidak boleh melihatnya!” larang Dewa masih sambil merintih-rintih sehingga membuat Dea tidak sabar lagi.

__ADS_1


Gadis itu memegang kedua tangan suaminya yang posisinya jauh lebih tinggi darinya. Dea menengadah dan membuka paksa wajah suaminya dan tiba-tiba …


Sebuah ciuman manis mendarat lembut di bibir indah Dea. Gadis itu terkejut dan lumayan kaget juga. Untung saja dia tidak punya penyakit jantung ketika Dewa tanpa permisi dan dengan konyolnya nyosor kayak soang menyerang Dea.


“Sudah kubilang … jangan dibuka. Tanggung sendiri akibatnya,” ujar Dewa lembut sambil tersenyum manis pada Dea setelah menciumnya. Sebuah pukulan keras langsung mendarat di dada Dewa.


“Kau ini! Apa ini lucu, ha? Bagaimana bisa kau bercanda seperti itu sementara di sana, ada orang yangs edang menderita karena cinta? Tidakkah untuk hari ini, kau merasa iba pada mereka? Atau paling tidak, bersimpatilah sedikit saja! Kau punya hati nggak sih?” bentak Dea kesal pada suaminya.


“Nggak, kan aku bukan manusia. Hatiku, sudah kuberikan padamu. Jadi, aku tidak punya hati lagi sekarang,” kekeh Dewa dan semakin kesallah Dea sampai gadis itu memilih nyelonong pergi meninggalkan suaminya.


Dewa langsung bisa menyusul langkah istrinya yang sedang ngambek dadakan itu hanya dalam sekelebat saja. Ia berlari kecil dengan langkah mundur sementara wajahnya menatap wajah istrinya yang cemberut akut. Meski berjalan mundur, Dewa berusaha mengimbangi langkah kaki Dea yang menurutnya bagai kura-kura dalam tempurung kelapa.


“Kau ngambek?” tanya Dewa dengan entengnya tanpa dosa.


“Nggak, aku nggak ngambek, aku cuma marah dan tidak mau bicara denganmu,” cetus Dea tetap berjalan lurus menyusuri jalan setapak di depannya. Gadis itu masih belum mau menatap Dewa.


“Entahlah! Cari tahu saja sendiri!” jawab Dea ngasal.


“Oke, aku akan cari tahu, bye! Jangan rindu padaku kalau aku benar-benar pergi dari sini,” ancam Dewa dan dia benar-benar langsung menghilang dari pandangan Dea sebelum istrinya itu sempat buka suara.


“Dasar bandit tutup botol kecaaaap! Kenapa aku bisa jatuh cinta pada bandit sepertimuuuu! Otakku pasti sudah putus dan hilang sebagian hingga mau saja jadi wanita yang amat sangat mencintaimu! Dasar Bandiittt kau Dewaaa!” geram Dea sampai tidak sadar ia menghentak-hentakkan kedua kakinya secara bergantian saking kesalnya dengan Dewa karena ia benar-benar ditinggal di tengah taman sendirian.


Biasanya, pasangan kekasih yang ceweknya ngambek, si cowok pasti berusaha untuk meredakan amarah si cewek agar tidak ngambek lagi. Lah ini nggak, bukannya dirayu atau ditenangin gitu, eh malah ditinggal pergi sendirian tanpa peringatan pula. Siapa yang nggak emosi?


Terlepas dari kekesalan Dea yang dibikin asam lambung oleh ulah jahil Dewa, tanpa sengaja, gadis itu melihat Sekar di bawa masuk oleh mas Gen ke sebuah tempat yang tertutup oleh semak-semak belukar setinggi ukuran tubuh manusia. Raut wajah Dea langsung berubah tegang kala Mas Gen keluar seorang diri tak lama setelah ia masuk dari ruangan yang entah ruang apa itu dan langsung pergi begitu saja.

__ADS_1


Istri Dewa itu sangat penasaran tempat apakah itu dan kenapa Sekar malah dibawa ke dalamnya. Rasa ingin tahu itu begitu kuat sehingga Dea nekat masuk ke dalam mengikuti apa yang dilakukan Mas Gen barusan.


Ketika di dalam, ruangannya sangat gelap dan sebuah api dalam obor menyala sendiri secara otomatis ketika ada yang melangkahkan kakinya di lorong jalan. Dari penerangan cahaya obor di dinding itulah Dea bisa tahu kalau tempat ini sangat mirip seperti sebuah goa. Sangat dingin dan lembab serta kedap udara. Gadis itu sadar bahwa ia tak bisa lama-lama ada di tempat ini. Ia juga tidak tahu apakah tempat ini berbahaya atau tidak bagi Dea.


Dea hanya ingin tahu kenapa Sekar dibawa kemari dan bukannya dikediamannya sebelumnya. Padahal, mantan wanita yang disukai suaminya ini sudah mendapatkan hukuman atas perbuatannya dengan kehilangan penglihatannya, tapi kenapa masih dikurung di tempat lembab begini?


“Siapa itu?” teriak Sekar dari dalam perut goa.


Dea sedikit kaget mendengar seruan Sekar, ia jadi merasa seperti penguntit saja. Namun, Dea bukan wanita pengecut yang lari dari masalah hanya karena sudah tertangkap basah masuk tanpa izin. Iapun bersikap tenang, sebab ia tak punya niat jahat pada Sekar. Berhubung putri dari ratu ular itu sudah mengetahui keberadaannya, maka Dea tidak perlu diam-diam lagi sekarang.


“Ini aku, Bona Dea. Maaf jika aku lancang dengan datang ke tempat ini dan mengganggu ketenanganmu, tapi … kenapa kau mau dikurung di tempat ini? Ini bukan penjara istana?” tanya Dea tanpa ragu sedikitpun.


“Huh, apa kau datang kemari hanya untuk menertawaiku?”


“Tidak, justru aku sangat sedih atas kejadian ini,” aku Dea dengan jujur.


“Besar sekali nyalimu dengan datang ke tempat ini seorang diri? Apa kau tak takut bila aku membunuhmu? Tempat ini, adalah tempat yang cocok untuk menjadi kuburanmu.”


“Takut, aku sungguh takut,” ujar Dea sedih, “aku sangat takut … jika aku gagal melindungi orang yang kucintai. Terserah kau menganggapku apa, tapi … ada satu hal yang sangat ingin kutanyakan langsung padamu sebelum aku memutuskan … tindakan apa yang bakal kulakukan selanjutnya.”


Dea langsung bergidik ngeri ketika melihat Sekar tanpa mata berdiri tepat dihadapannya. Meski demit itu tidak bisa melihat Dea, sepertinya ia dapat merasakan hawa keberadaan menantu kedua dari raja dedemit Refald ala Edward.


“Apa yang ingin kau tanyakan?” tandas Sekar.


BERSAMBUNG

__ADS_1


***


__ADS_2