Terperangkap Dalam Mimpi

Terperangkap Dalam Mimpi
Kisah Gue dan Eya


__ADS_3

Dahulu sebelum gue bertemu dengan Panji, gue sempat beberapa kali pacaran. Hubungan gue dan pacar gue sangat membosankan dan menyesakan serta penuh paksaan.


Demi menjaga hubungan gue bareng pacar gue, sampai gue harus mengalami pergolakan perasaan dengan sahabat gue. pergolakan ini bukan karena gue dan sahabat gue rebutan pacar tetapi lebih tepatnya sahabat gue gak percaya akan perasaan pacar gue terhadap gue, bisa dibilang sahabat gue seolah mengerti akan kriteria pemuda yang gue suka.


Saat itu gue masih SMP, lebih tepatnya saat pertama kali gue jumpa dengan Aleya dan beberapa teman yang lainnya. Awalnya gue gak menyangka akan mampu berteman baik dengan Aleya atau dipanggil Eya hingga sampai jenjang perguruan tinggi.


Saat pertemuan pertama gue dan Eya penuh dengan pemaksaan, semua ini dikarenakan karena gue yang pendiam dan peneyendiri sedangkan Eya adalah sosok gadis yang mampu berteman dengan semuanya.

__ADS_1


Selama SMP teman yang dekat sama gue merupakan teman yang dikenalkan oleh Eya. Eya sangat baik sama gue bahkan walaupun gue dan Eya tidak satu kelas tetapi kami bisa meluangkan waktu untuk bermain ataupun hanya bercerita di saat jam istirahat.


Pertemanan gue dengan Eya yang awalnya gue memaksakan diri untuk bisa sesuai dengan Eya akhirnya bisa menjadi teman yang sepenuhnya, gue sangat senang pertemanan kami tanpa ada rahasia ataupun kekecewaan.


Pertemanan ini berlangsung hari berganti minggu, Minggu berganti bulan hingga akhirnya waktu satu tahun hampir berlalu. Sebelum kenaikan kelas, Eya mulai mengenal dan dekat dengan seorang pemuda. Pemuda itu bernama Satria, Satria adalah kakak kelas kami diwaktu SMP.


Disaat kedekatan Eya dan Satria, gue kira Eya akan melupakan gue dan terfokus akan cinta kak Satria padanya. Tanpa diduga dan tanpa disangka Eya tetap menjadikan gue prioritas utamanya, Eya masih sering main bareng gue ataupun curhat masalah hubungannya dengan kak Satria.

__ADS_1


Pada suatu hari, saat hati gue kalut akan perasaan dicurigai sahabat sendiri gue dikenalkan dengan Rendi. Rendi adalah sepupu Eya dan lebih tua dari gue jadi otomatis gue panggil dia kak Rendi, sebenarnya gue pernah beberapa kali mendengar tentang kak Rendi dari Eya tetapi gue gak terlalu peduli. Saat gue dikenalkan dengan kak Rendi, terbesit sebuah ide dari diri gue.


Gue jalan bareng sama Eya, kak Satria dan kak Rendi ke pantai, karena gue gak mau ganggu hubungan Eya dan kak Satria buat jalan bareng sehingga gue ajak kak Rendi cari makan ditempat lain. Dengan menjauh dari Eya dan kak Satria setidaknya gue gak harus menjadi obat nyamuk.


Gue jalan bareng sama kak Rendi kearah penjual empek-empek bakar dan otak-otak. Gue gak tahu apa yang kak Rendi suka, tetapi karena kesukaan gue pada empek-empek bakar membuat gue langsung narik kak Rendi kearah penjual itu.


Distan penjual empek-empek bakar gue pesan tiga empek-empek bakar sangat pedas dan dua otak-otak bakar, disamping gue kak Rendi masih berdiri dan belum memesan makanan. Gue ingin duduk tetapi karena kak Rendi belum pesan jadi gue belum berani duduk. Hingga akhirnya gue beraniin diri bertanya, "kakak mau makan apa?". kak Rendi hanya menjawab "gue tunggu Lo di tempat bakso disana" sambil menunjuk arah yang dimaksud. gue setuju dan kak Rendi langsung menuju tempat yang dimaksud.

__ADS_1


Setelah pesanan gue jadi, gue langsung menuju tempat yang dimaksud oleh kak Rendi dan disana kak Rendi sudah menunggu gue. Didepan kak Rendi gue lihat ada dua mangkok bakso telur dan dua gelas jus mangga yang kelihatan enak dan segar.


Sampai tempat kak Rendi, gue langsung duduk dikursi yang gak ada makanannya dan gue pun langsung menikmati empek-empek bakar kesukaan gue.


__ADS_2