
Saat gue bergelut dengan kemelut pikiran gue sendiri sambil sesekali melihat ke arah Eya dan kak Satria, tanpa gue sadari ada seorang yang memperhatikan gue dari samping. Gue terlalu asyik dengan pikiran gue sendiri, sepintas seolah gue melihat indahnya alam yang diciptakan Tuhan tetapi hati gue benar-benar kalut dan gue butuh pencerahan.
Sekian lama gue terperangkap dalam pikiran gue sendiri dan ntah dari mana gue melihat satu cup es kelapa muda terbentang depan muka gue, gue menoleh dan gue melihat ternyata itu adalah kak Rendi. Gue ambil es kelapa muda itu dan tak lupa mengucapkan terima kasih, tapi seperti sebelumnya gue hanya menerima anggukan dari orang disamping gue.
__ADS_1
Hari semakin sore, gue gak mampu mengatakan niat gue sama kak Rendi apalagi kita baru bertemu hari ini. Mungkin dilain kesempatan setelah gue bisa lebih dekat dengan kak Rendi gue bisa jalanin ide gue supaya Eya tidak akan cemburu. Tapi entahlah gue bingung, soalnya kak Rendi orangnya dingin banget. Dengan sikap kak Rendi yang seperti itu, maukah dia mendengarkan kegelisahan dan membantu kesusahanku.
Sekarang matahari sudah mau kembali ke peraduannya, gue lihat langit indah dengan cahaya jingga kemerahan. Gue lihat Eya dan kak Satria masih asyik main dipinggir pantai sedangkan gue hanya mampu memandangi laut 100 meter jauhnya. Sebenarnya gue ingin main air laut juga, tetapi takut kak Rendi gak suka dan justru gue membebaninya. Kalo gue pergi sendiri, gengsi dong gue secara yang main di sana rata-rata bawa pasangan.
__ADS_1
Rasanya baru sebentar gue mau. air laut, langit yang tadinya berwarna jingga kemerahan perlahan menghilang dan menggantikannya dengan warna hitam, yang awalnya mentari cerah yang kesepian perlahan berganti bulan redup dengan ditemani bintang. Inilah akhir liburan gue kali ini, saat gue tengah bersiap untuk menjauh dari pantai tiba-tiba ada ombak besar yang menerjang, kebetulan gue yang terakhir dan masih tertinggal dibelakang sedangkan didepan gue ada kak Rendi.
Dengan kuatnya terjangan ombak itu, gue terjatuh dan sebelum gue terseret oleh ombak gue dapat mendengar teriakan panik para pengunjung pantai yang lain. Saat gue sudah mulai menyerah akan nasib yang akan gue hadapi, ternyata tangan gue sempat ditarik tangan hangatnya kak Rendi. Karena keberadaan kak Rendi yang tak henti-hentinya perhatiin gue hingga akhirnya gue selamat.
__ADS_1
Saat udah sampai di pinggir pantai, baju gue benar-benar udah basah kuyup. Tiba-tiba ada jaket yang diletakan dipindah gue, awalnya gue kira itu kak Rendi karena dari tadi kak Rendi senantiasa membantu gue dan perhatian pada gue. Saat gue menoleh ternyata itu kak Satria, ingin gue kembalikan jaketnya kak Satria karena gue gak enak hati dengan Eya tetapi saat gue mau serahkan jaket gue justru di potong sama kak Satria "pakai aja jaket itu dari pada Lo masuk angin, yang ada nanti bikin ribet kita semua. Apalagi ditanya orang tua Lo nanti, setidaknya Lo gak bakal sakit". Gue kaget akan perhatian kak Satria, tapi gue sadar dia pacarnya Eya, gue lihat ekspresi Eya dan seolah mengizinkan dan guepun mengenakan jaket tersebut. Kamipun pulang menuju rumah masing-masing, berhubung kak Rendi dan Eya sepupuan dan rumah mereka juga sebelahan sehingga mereka pulang bersama. Sedangkan gue yang satu arah sama kak Satria akhirnya pulang bersama.