
Saat gue tengah asyik menikmati nikmatnya empek-empek bakar. Didepan, gue melihat ada tangan yang menjulurkan satu mangkok bakso beserta jus mangganya. Gue perhatikan ternyata itu kak Rendi, tanpa bicara kak Rendi kembali menikmati baksonya sendiri.
Sebenarnya gue bingung, itu maksudnya apa. Tapi gue malas banget buat bertanya, dan tetap menikmati empek-empek bakar dan otak-otak. Mungkin karena gue tersedak tanpa pikir panjang gue langsung minum jus mangga yang ada didekat gue. Selesai minum gue bingung melihat ekspresi kak Rendi, seketika saja gue bilang "sorry kak, gue gak sengaja. Nanti gue ganti balek minuman Lo". Wajah kak Rendi gak berubah, setelah gue lihat jus mangga yang gue minum ternyata jus mangga itu yang baru diminum kak Rendi bukanya jus mangga yang belum diminum. Setelah gue sadar kesalahan gue, seketika itu juga gue merasa malu dan sangat malu.
__ADS_1
Untuk menghilangkan kecanggungan antara kita berdua, gak mungkin kan gue balikin jus yang udah gue minum ke kak Rendi. Maka gue serahin segelas jus yang belum diminum sambil bilang "nanti uangnya gue ganti, Lo minum aja yang baru sedangkan yang ini biar gue yang minum". Kak Rendi pun sepertinya gak ambil hati, dia tetap makan bakso itu dan minum dari gelas baru.
Disisi lain gue yang merasa canggung kembali minum jus mangga bekas kak Rendi, karena buang makanan gak baik. Saat gue tengah minum jus mangga kak Rendi ngomong ke gue "Lo minum doang, gak makan. itu bakso gue pesanin buat Lo, gak usah ganti uangnya gue ikhlas". Setelah satu kalimat yang cukup panjang itu kak Rendi kembali diam, sedangkan gue menikmati bakso yang dikasih kak Rendi.
__ADS_1
Setelah selesai makan, gue dan kak Rendi tetap duduk di warung bakso sebentar. Karena bosan gue ajak kak Rendi buat jalan disekitar pantai sekaligus untuk membantu pencernaan. Awalnya gue kita gue bakal di tolak, tetapi tak selang beberapa lama kak Rendi langsung berdiri dan jalan kearah pantai. Gue yang masih duduk diam ditempat makan, seketika terkejut dan langsung lari mengejar kak Rendi. Gue gak tahu gimana cara menyikapi perilaku kak Rendi yang cuek dan acuh tak acuh serta gak punya mulut, tetapi demi kenyamanan gue berjalan bersebelahan dengan kak Rendi tanpa ada suara sama sekali.
Sekitar 100 meter dari pantai, gue melihat Eya dan kak Satria tengah asyik bermain air laut. Gue ingin gabung bareng mereka tapi gue gak mau jadi parasit hubungan mereka, tetapi kalo gue tetap berdiri disini yang ada gue bakal mati bosan bagai patung. Ditengah kebingungan gue, kak Rendi ajak gue duduk di tempat duduk yang gak jauh dari kami berdiri. Gue setuju dan kami berdua duduk sambil menikmati indahnya air laut dan segarnya udara dari pohon disekitar tempat duduk.
__ADS_1
Disaat kita tengah duduk berdua, gue kembali ingat akan ide gue agar Eya gak cemburu akan kedekatan gue sama kak Satria. Gue bingung mampukah gue melaksanakan ide tersebut, jika mau dilaksanakan gue butuh bantuan sih patung batu disebelah gue, tetapi jika gak gue lakukan gue takut Eya akan curiga sama gue dan gak mau temanan lagi dengan gue.