
Aku selalu punya pikiran sejak kecil. Hidup sendiri jauh dari orang tua pasti menyenangkan. Sekarang aku mengalaminya. Tapi sangat jauh dari apa yang aku pikirkan saat kecil.
Tinggal sendiri karna perceraian orang tua. Tak pernah terpikirkan olehku. Dari awal aku kelas dua SMP pertengkaran mulai terjadi. Tiada hari tanpa orang tuaku bertengkar. Perlahan tapi pasti pertengkaran mereka semakin besar. Sampai berakhirnya sekolah SMPku, berakhir juga hubungan keluargaku.
Mereka memutuskan bercerai. dua bulan sebelum kehidupan SMA ku dimulai. Aku sudah memilih sekolah dan semua persiapan sudah selesai. Tinggal menunggu tahun ajaran baru dimulai.
Setelah bercerai. ibuku memutuskan untuk pulang kerumah orang tuanya di pulau sebrang, sedangkan ayahku dari dulu memang jarang di rumah. karna pekerjaannya yang mengharuskan dia sering ke luar kota.
Rumah yang aku tinggali bersama kedua orangtuaku adalah rumah kontrakan. Aku tidak ingat sejak kapan, tapi seingatku aku sudah tinggal di sini dari kecil.
Awal tahun sang pemilik kontrakan memberitahukan bahwa dia mau menjual lahan kontrakannya untuk dibangun sebuah minimarket. Diberi waktu dua bulan untuk kami mempersiapkan pindah dari kontrakan itu.
Ayahku memutuskan untuk tinggal di kota tempat dia dibesarkan. Ayahku mengajakku, tapi aku tidak bisa. Karna aku sudah memilih SMA yang aku mau dan aku tidak mau untuk pindah ke sekolah lain. Mengingat untuk masuk sekolah ini aku butuh banyak perjuangan untuk masuk dan akhirnya diterima.
Sempat berdebat dengan ayah. aku masih kekeh untuk tidak mau ikut dia, karna aku tidak mau masuk SMA lain.
Aku termasuk anak yang penurut. Tapi untuk masa depan. aku ingin aku yang menentukan itu sendiri. Bukan berarti aku tidak menerima masukan orang lain. justru aku sangat menerima pendapat orang. Tapi untuk putusan akhirnya, tetap aku yang memutuskan sendiri.
Terdiam cukup lama. Sepertinya ayahku tengah berpikir. "oke, kalo gitu kamu ngekos aja". kata ayahku setelah diam cukup lama.
"Ngekos?" tanyaku.
"iya ngekos. kebetulan ayah punya kenalan juragan kos deket SMA kamu". jawab ayahku.
Aku senang sekaligus sedikit takut. Aku memang daridulu kepikiran gimana rasanya tinggal sendiri. tapi aku tidak menyangka bakal secepat ini.
"jadi gimana, mau?". tanya ayahku.
"iya, mau". jawabku agak sedikit ragu.
Jujur aku ngerasa senang. Karna aku bisa tetap sekolah di SMA yang aku mau. Tapi karna hidup sendiri adalah hal baru yang aku rasain. Masih terasa deg-degan dengan apa yang mungkin terjadi nanti.
"Yah. aku pingin potong rambut pendek". kataku ke ayah.
"hah, kenapa?". tanya ayahku sedikit kaget.
"Aku pingin lebih fresh aja. aku bosen rambut panjang". jawabku.
"Yaudah nanti sore kita ke salon irma". kata ayahku.
Dari kecil aku selalu berambut panjang. Aku merasa dewasa dan terlihat anggun saat memiliki rambut panjang. Meskipun sifatku kebalikan dari itu semua haha.
Cuma untuk sekarang. Aku merasa sudah bosan dengan rambut panjang. Aku ingin dimasa sekolahku yang baru. Aku memiliki penampilan yang baru. Supaya lebih fresh aja.
Ini adalah dua hari terakhir. Aku menempati tempat tinggal yang aku tempati dari kecil. Banyak kenangan tersimpan. Tidak hanya kesedihan, banyak kenangan indah juga terukir di sini. Bahkan mungkin lebih banyak yang indah daripada yang sedih.
__ADS_1
Sorenya aku dan ayahku pergi ke salon irma. Tempat aku langganan potong dari aku kecil. Tempatnya tidak jauh. aku dan ayahku berjalan kaki untuk ke sana.
Tidak lama. Aku dan ayahku akhirnya sampai di salon irma.
"Halo. amel". sapa kak nata dengan ceria.
Kak nata adalah anak bu irma. Dia meneruskan salon setelah bu irma sudah sakit - sakitan.
Aku sendiri dari kecil sudah dipotong rambut oleh kak nata. Tidak sempat mengalami jaman salon masih dipegang ibunya.
Karna kebetulan salon lagi sepi. aku bisa langsung dilayani.
Aku duduk siap untuk dipotong rambut.
"ini dirapiin aja kan?". tanya kak irma
"potong model pendek aja kak". jawabku.
"Ehh.., potong pendek?!". kata kak nata dengan kaget.
"Iya". jawabku singkat.
"kamu kenapa?, abis patah hati ya?". tanya kak nata bingung.
Aku kaget dengan pertanyaan kak nata. Ku lihat dicermin ayahku melirik dengan tajam.
"Aku cuma pingin ganti suasana aja kak. kan aku mau masuk SMA. biar lebih fresh aja gitu". kataku memberi penjelasan.
"Ohh gitu". kata kak nata dengan sedikit senyum kecil.
Beberapa menit berlalu. Akhirnya potong rambut pun selesai. Aku melihat diriku di kaca. Memang terlihat lebih fresh.
"Udah, gini aja?". Tanya kak nata.
"Iya kak udah. bagus banget". Jawabku tersenyum.
"Iya dong. Kak nata gitu loh". jawabnya sambil tertawa.
Lalu aku dan ayahku pun pulang. kota ini masih lumayan asri. masih banyak pohon - pohon berjejer di pinggir jalan.
Sambil berjalan pulang aku menikmati hembusan angin semilir dan juga melihat daun - daun yang juga berguguran tertiup angin.
Tidak lama aku melihat sebuah balon, dengan lumayan kencang tertiup kearah pepohonan dan akhirnya tersangkut di salah satu pohon.
Setelah itu terlihat anak kecil berlari ngos - ngosan. dan dia berhenti di bawah pohon tempat balon itu tersangkut.
__ADS_1
Aku hampiri anak itu.
"Itu balon kamu?". Tanyaku.
"Hu'um". Jawabnya singkat sambil seperti menahan tangis.
"Bentar, kakak ambilin balonnya". Jawabku mencoba menenangkan.
Untung aku sedang tidak pakai rok hari ini. memang jarang juga sih aku pakai rok.
Pohonnya lumayan tinggi. Tapi buat ku untuk masalah panjat pohon tidak terlalu susah. Berbagai macam pohon aku panjat waktu kecil. Aku memang sedikit tomboy waktu kecil. bahkan mungkin sampai sekarang. tapi tidak separah waktu kecil.
Aku naik ke atas pohon dengan perlahan.
"Ati-ati mel". kata ayahku khawatir.
Aku ulurkan tanganku ke salah satu dahan pohon. dan mengambil balon yang tersangkut itu. lalu turun juga dengan perlahan.
"Ini balon kamu". kataku dengan tersenyum.
"Makasih ya kak". Kata anak itu tersenyum senang.
"Iya sama-sama". Balasku.
Setelah sampai rumah aku langsung mandi. karna abis manjat pohon tadi badanku jadi kotor dan agak berkeringat.
"Mel, jangan lupa barang - barang kamu ditata. supaya besok bisa langsung berangkat ke kosan". Kata ayah dari ruang tengah.
"Iya.." Jawabku.
Setelah selesai mandi aku ambil barang - barangku yang sekiranya penting. untuk aku masukkan kardus. untuk aku bawa ke kosan besok.
Sembari aku melihat barang - barangku. aku menemukan album foto waktu aku kecil. sambil tiduran aku melihat album foto itu. tiba - tiba air mataku menetes tanpa aku sadari.
Keluargaku adalah keluarga yang harmonis. Tidak pernah ada masalah. setidaknya itu yang aku tau.
aku tidak tau pasti apa yang membuat mereka bertengkar sekarang.
Aku tidak tau apa ini bentuk kedewasaan buatku. Tapi aku merasa keputusan yang mereka buat. apapun itu adalah yang terbaik buat mereka.
Tapi aku masih anak kecil. masih baru lulus SMP. Di luar semua pengertianku tentang apapun yang terjadi di keluargaku. dalam hatiku aku masih merasa kesal, sedih, marah. kenapa semua harus berakhir seperti ini.
Dalam banyak pikiran yang tidak beraturan dalam kepalaku. Semakin larut akhirnya aku tertidur.
Bersambung...
__ADS_1