
Satu bulan pun berlalu, Ishiki, Sune, Sui, Kenzo dan Yosuke pun akhirnya mendaftarkan diri di SMP yang pernah mereka lewati sebelumnya, tetapi saat mendaftar mereka tidak di temani oleh Ayah mereka, melainkan Ibu mereka, Ayah mereka tidak menemani mereka karena sibuk berkerja, tetapi hari ini Ayah mereka membawa sebuah tongkat baseball yang membuat Sune curiga, saat Sune bertanya kenapa Ayahnya membawa tongkat baseball itu, Ayahnya beralasan bahwa temannya ingin meminjam tongkat baseballnya, Ibu mereka pun mengiyakan apa yang Ayah mereka ucapkan, dan Ibu mereka mengajukan diri untuk menemani mereka mendaftarkan diri di SMP tersebut.
Mereka pun berjalan ke lapangan dan sudah terlihat banyak murid baru yang berada disana.
"Ibu, sudah cukup sampai di sini saja, kami akan kesana dulu ya.." Ucap Ishiki.
"Iya.. hati hati.." Ujar Ibunya sembari melambaikan tangannya.
"Ayo kita kesana!" Ishiki pun langsung berlari ke lapangan di susul dengan Sune dan yang lainnya.
Sesampainya di lapangan, mereka pun sedikit terkejut melihat banyak murid baru dan banyak kakak kelas yang memantau mereka semua dari kejauhan.
"Hei Ishiki, apakah kita akan mendapatkan kelas yang sama lagi?" Tanya Sune.
Ishiki terdiam sejenak dan menjawab "Aku juga tidak tau" Ucapnya.
Tiba tiba seorang guru pun menaiki panggung.
"Selamat datang di SMP Jousai, kami senang dengan kedatangan para murid baru, baiklah tanpa berlama lama, saya sebagai kepala sekolah akan memberi tau kalian sesuatu, sebagian besar di sekolah ini banyak murid murid berbakat, teruslah asah bakat kalian, dan jangan pernah menyerah, kalian tidak akan mendapatkan dukungan dari guru maupun murid, karena SMP ini adalah SMP mandiri, semua murid diajarkan untuk mandiri, dari menyelesaikan masalah, mengerjakan tugas, ataupun hal yang lain. Ada alasan kenapa guru tidak memberi dukungan, alasan pertamanya adalah, jika guru memberi motivasi, motivasi itu hanya akan bertahan dalam waktu singkat dan di pastikan setelahnya akan musnah selamanya, karena hal itu sudah pernah terjadi sebelumnya, jadi semua murid di sini diwajibkan untuk mandiri" Jelas kepala sekolah itu.
Semua murid pun bertepuk tangan mendengar ucapan kepala sekolah itu, tetapi tidak dengan Sune, ia pun melamun setelah mendengar ucapan guru itu.
"Sekolah ini aneh, kenapa peraturannya tidak di jelaskan? Kepala sekolah juga aneh, bicaranya tidak nyambung, apa maksudnya ini? Apa aku sedang bermimpi?" Gumam Sune.
Tiba tiba Ishiki memukul bahu Sune, "Hei Sune, kamu ngapain melamun? Ayo kita sudah boleh melihat kelas loh" Ucap Ishiki sembari menarik tangan Sune.
"Eh? Tunggu, kita akan kemana?" Tanya Sune kebingungan.
"Makanya jangan melamun terus, tentu saja kita akan melihat daftar nama agar kita tau kita berada di kelas yang mana" Jelas Ishiki.
Mereka pun berjalan ke sebuah papan yang terdapat daftar nama, mereka pun mencari nama mereka satu persatu.
Beberapa saat kemudian mereka pun akhirnya menemukan nama mereka.
Ishiki dan Sune mendapatkan kelas yang sama yaitu kelas 1b, Sui dan Kenzo juga mendapatkan kelas yang sama yaitu kelas 1d, sedangkan Yosuke sendiri mendapatkan kelas 1a.
"Yah, sepertinya hanya aku yang berbeda" Ucap Yosuke.
Ishiki pun merangkulnya dan mengucapkan "Hey Yosuke jangan sedih gitu dong, kita akan tetap bersama kok!" Ucap Ishiki.
Yosuke pun melepaskan tangan Ishiki dan mengucapkan "Siapa juga yang sedih, lagian kita juga bakal terus bertemu, kita kan satu tempat tinggal" Ucap Yosuke.
__ADS_1
Ishiki pun tersenyum dan mengucapkan "Benar juga, jadi jika ada apa apa, beri tau kami aja, kita kan keluarga" Ucap Ishiki.
Yosuke pun tersenyum, mereka pun sangat akrab dan sangat dekat, mereka terlihat sangat bahagia, selalu membagi baik rasa sakit, sedih maupun senang.
#Time skip
Siang hari pun tiba, seluruh murid di perbolehkan pulang, Ishiki dan yang lainnya pun langsung pulang kerumah mereka, saat mereka akan pulang, tiba tiba seorang pria menabrak mereka, dan ternyata pria itu adalah pria yang pernah menatap Ishiki waktu itu.
Pria itu pun menatap Ishiki dengan tatapan tajam.
Ishiki yang kebingungan pun menatap matanya balik dengan santai.
"Apa apaan orang ini? Padahal dia yang menabrak ku, apakah dia marah denganku?" Gumam Ishiki.
Beberapa saat kemudian, pria itu pun meninggalkan Ishiki dan yang lainnya tanpa sebab.
"Apa apaan dia itu?" Tanya Kenzo kebingungan.
"Padahal dia yang menabrak kenapa malah dia yang marah" Ucap Yosuke.
"Sudah sudah, ayo kita pulang, jangan di pikirkan" Ujar Ishiki sembari tersenyum.
#Time skip
"Ayah, Ibu kami pulang" Ucap Ishiki.
Tetapi Ayah dan Ibu mereka tidak menjawab sama sekali, mereka berdua terlihat sedang menonton televisi dan terus diam.
"Ayah? Ibu?" Ucap Ishiki sembari berjalan mendekati mereka berdua.
"Oh, Ishiki kalian sudah pulang?" Tanya Ayahnya.
"Sudah Ayah, kok Ayah dan Ibu disini? Ayah dan Ibu engga kerja hari ini?" Tanya Ishiki.
"Oh, Ayah dan Ibu pulang cepat hari ini" Ucap Ayahnya.
Ishiki pun sedikit termenung mendengar ucapan Ayahnya, disisi lain Sune terlihat sedikit panik, ia melihat bercak darah yang menempel tepat pada baju di lengan kiri ayahnya dan juga tangan ayahnya yang terdapat sedikit bercak darah, Sune pun teringat dengan tongkat baseball yang sempat ayahnya bawa sebelum pergi berkerja.
"Ishiki, aku ke kamar dulu ya" Ucap Sune sembari berjalan perlahan ke kamarnya.
"Eh, Sune tunggu aku, aku juga mau ikut" Ucap Ishiki disusul oleh Kenzo, Sui dan Yosuke.
__ADS_1
Mereka berlima pun berjalan ke kamar mereka, tetapi Ishiki dan yang lainnya kebingungan melihat Sune yang sepertinya sedang mengalami ketakutan dan panik yang berlebihan.
"Hei Sune, kamu baik baik saja?" Tanya Ishiki.
Sune pun menjawab "A.. Aku baik baik saja" Jawab Sune.
"Tidak mungkin kamu baik baik saja, pasti ada sesuatu ayo cerita!" Ucap Ishiki.
Tetapi Sune diam dan tidak merespon Ishiki, tiba tiba suara barang jatuh pun terdengar dari sebuah ruangan.
"Suara apa itu?" Tanya Ishiki.
"Sepertinya ada kucing yang masuk ke dalam rumah kita Ishiki!" Ucap Yosuke dengan penuh semangat.
"Benarkah?! Baiklah!! Ayo kita tangkap!!" Ujar Ishiki dengan penuh semangat.
"Kalian tidak adil, selalu saja duluan jika ingin menangkap kucing" Ucap Sui.
"Iya benar kata Sui, aku juga mau ikut!" Ucap Kenzo sembari berlari ke sumber suara.
"Hei Kenzo kau curang!" Teriak Ishiki.
Mereka berempat pun berlari ke sumber suara, Sune yang kebingungan pun hanya mengikuti mereka dari belakang.
Sesampainya di sumber suara, mereka pun langsung membuka pintu ruangan itu, dan ruangan itu adalah gudang tempat Ayah dan Ibunya menaruh barang barang mereka yang di rahasiakan dari mereka berlima.
Ishiki pun langsung mendobrak pintu itu dan betapa terkejutnya mereka melihat guru sd mereka yang sedang terikat di kursi dengan penuh luka.
"Aaahhh!!??!!!!" Sune yang panik pun seketika berteriak disusul dengan Ishiki dan yang lainnya.
Ayah dan Ibu mereka yang mendengar teriakan mereka pun langsung menghampiri mereka, sesampainya di tempat anak anak mereka, mereka pun terkejut melihat Ishiki dan yang lainnya sedang berada di dalam ruang rahasia mereka.
"Ayah! Ibu!!" Teriak Ishiki ketakutan.
Tetapi Ayah dan Ibu mereka menatap mereka dengan tatapan ganas dan penuh amarah.
"Dasar anak anak nakal!!, Ibu sudah berkali kali melarang kalian masuk kedalam sini kan!!!" Seru Ibu mereka sembari menendang mereka satu persatu dengan kuat.
"Aghh!!!" Ishiki pun terpelanting, Ayahnya yang melihat Ishiki terpelanting pun menghampirinya.
Ayahnya menjambak dan mengangkat Ishiki sembari mengucapkan "Anak nakal harus di beri pelajaran!" Seru Ayahnya.
__ADS_1
Ishiki dan yang lainnya pun seketika sangat ketakutan melihat sifat asli kedua orang tua mereka, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa apa, mereka tidak tau harus menyelamatkan diri dengan cara apa, pada hari itu, hari penderitaan mereka berlima pun di mulai.
Bersambung...