
Ceklek.....
Pintu kabin itu terbuka. Sukses membuat Yeon kaget setengah mati karena terkejut.
Siapa yang beraninya menerobos masuk kedalam kabinnya? Sungguh berani. Ia tidak akan mengampuni orang itu.
Nampak Park Min tersenyum melihat wajah kekasihnya itu. Ia berpikir apa yang dipikirkan oleh Yeon ketika melihat dirinya kini berada tepat di hadapannya.
Yeon yang melihat Park Min berdiri di hadapannya dengan senyum yang terukir di wajahnya itu terkejut hingga tak bisa berkata apa apa.
Perempuan itu kini tengah berpikir, bagaimana bisa kekasihnya itu berada di hadapannya? Ada apa sebenarnya? Apa yang sedang terjadi? Tolong seseorang jelas kan padanya apa yang sebenarnya terjadi.
“Baby, apakah kau terkejut?”
Yeon hanya diam tak bisa berkata kata. Otaknya kini tengah memutar ulang setiap inci kejadian yang ia lalui mulai dari ia berkata kepada Park min bahwa ia akan pergi berlibur.
__ADS_1
Apakah Park Min mengikutinya? Bagaimana bisa? Bukankah jadwalnya sibuk? Sebenarnya apa yang terjadi?
“Baby, aku meminta cuti kepada agensi, dan mereka mengizinkannya” Ucap park min dengan senyum yang terukir di wajahnya
Lalu, mengapa ia sekarang berada di kabin yang sama dengannya? Bagaimana bisa?
“Sebenarnya, aku sudah merencanakannya. Aku meminta manajermu memesankan kabin ini untukku dan juga untukmu”
Ohhh ternyata begitu. Pantas saja mulai dari ia mengambil kunci kabin sampai ia memasuki kabin ini terasa sangat lah janggal. ternyata ini semua adalah rencana dari kekasihnya itu.
Yeon kini menatap park min tajam. Jangan sampai ia sekamar dengan lelaki itu. Bisa bahaya nantinya
Oh Tuhan... selamatkan hambamu ini. Ini sungguh tidak benar. Bagaimana bisa seorang perempuan yang belum menikah sekamar dengan lelaki dewasa? Sungguh tidak boleh
“Aku janji tidak akan melebihi batas”
__ADS_1
Kini Yeon menatap Park Min menelisik kebenaran di mata itu. Ya, mata itu tidak mengatakan kebohongan. mungkin ia bisa percaya. Jika sampai Park Min melebihi batasnya, bukankah ada vas bunga? Ia bisa saja melemparkan vas bunga itu kewajah lelaki itu.
Yeon bergidik ngeri jika ia harus benar benar melempar vas bunga itu. tidak bisa di bayangkan seperti apa jadinya jika itu terjadi. semoga saja tidak
Yang hanya bisa yeon harapkan kini adalah cepat cepat berlalu saja 6 hari 6 malam itu. Dan ketika ia sudah pulang, ia akan menghukum menejernya itu. Bisa bisa nya menejernya itu mempermainkannya. sungguh ia akan menghukum menejer itu.
“Kau tidur di sofa”
“Yah, kalau itu mau kau baby”
Yeon tersenyum puas dengan jawaban park min. Kasur itu miliknya. ia tak ingin membaginya dengan siapa pun
Kini mereka berdua tengah asik menikmati pemandangan laut lepas dari balkon kabin mereka
Terlihat lautan yang tak nampak ujungnya itu. Angin yang bertiup kencang. Untung saja ia dan park min tak mabuk laut
__ADS_1
Park min mencium lembut kening Yeon dan sukses membuat yeon merasa malu. Pipinya bersemu merah dan jantungnya berdegup 2 kali lebih kencang dari biasanya. Ia tak menyangka jika Park Min mampu seromantis itu kepadanya. Sungguh sukses membuat Cinta nya untuk park min bertambah.
Yeon tak menyangka jika ia akan bisa berlibur berdua bersama orang yang di cintai nya di tengah laut lepas seperti ini. Sungguh hari yang tak terduga.