
"Ri?" Panggil Alvaro pada perempuan yang kini terlihat melamun itu. Sinta yang ada disebelah Arina pun menengok Kearah nya karena tidak mendengar jawaban darinya atas panggilan Alvaro padanya.
Arina masih terdiam, sampai-sampai Sinta yang berada disebelahnya mencoba untuk menyadarkan perempuan itu dari lamunanya dengan mengenggol lengan Arina.
Barulah Arina tersadar dari lamuannya, dan menatap kepada dua orang yang ada disamping kirinya dengan sebuah alis yang terangkat, kemudian dia bertanya.
"Ada apa?" Dengan wajah yang polos seakan dia tak mendengar panggilan Alvaro sebelumnya.
"Alvaro tadi manggil lu, kenapa lu diem aja?" Tanya Sinta yang berbisik padanya, kemudian Arina menatap pada Alvaro yang masih melihatinya dengan heran.
"Maaf Al… Ada apa?" Tanyanya kembali mengulangi pertanyaannya tadi.
Alvaro pun menggelengkan kepalanya dan berdiri dari duduknya untuk berjalan kedapur, seraya mengatakan pada Arina bahwa dirinya tidak jadi untuk bertanya.
Arina pun kembali terdiam dan menundukkan wajahnya, helaan nafas itu bisa terdengar oleh Sinta yang memang ada disampingnya.
"Sebenernya lu kenapa sih, Ri? Gw rasa pas Glen bilang kita harus bahas hal ini, lu kaya yang nggak mau dan maksa kita buat ga peduli sama masalah ini deh." Sinta yang juga merasakan hal yang sama dengan Alvaro pun berterus terang pada Arina, setidaknya dia hanya ingin mengetahui alasan Arina kalau memang dia tidak mau mereka membahas hal ini nantinya.
Arina menggelengkan kepalanya pada Sinta, dan memberikan sebuah senyuman pada perempuan berpita pink itu.
"Nggak kok Ta… Cuma ada beberapa hal yang janggal aja dari hantu ini, jadi aku gak mau kita membahasnya. Tapi karena kalian yang mau, ya udah… Kita lihat nanti ya. Kalau dia dateng, kalian boleh cari tahu siapa dia." Jelas Arina, dia tidak membahas soal kegelisahan hatinya mengenai pengelihatan hal buruk yang akan terjadi nanti.
Karena di tidak mau membuat Sinta khawatir lalu menceritakannya pada yang lain, yang pada akhirnya membuat sebuah kepanikan.
Lagipula hal buruk yang dia lihat tidak selalu terjadi, sehingga dia tidak perlu terlalu mencemaskan hal itu.
"Tapi semua bakalan baik-baik aja kan, Ri?" Tanya Sinta.
Benar kan, dugaan Arina? Belum juga dia mengatakan hal yang sebenarnya dia lihat, Sahabatnya itu sudah terlebih dahulu merasa khawatir.
Bayangkan saja bagaimana kalau Atina mengucapkan semua hal yang membuatnya ragu, pasti kekhawatiran itu membuatnya mengatakan semua itu pada sahabat-sahabatnya yang lain yang nantinya akan mengakibatkan kepanikan di antara mereka. Kepanikan yang seharusnya tidak diperlukan.
"Ri, Ta! Ayo makan!" Kedua perempuan itu mendengar teriakan dari arah dalam, yang memanggil mereka untuk makan bersama.
__ADS_1
Jelas mereka bisamengenali suara lembut milik Mika tersebut.
Sinta yang mendengar hal itu berdiri dari tempatnya dan menatap pada Arina, dia mengulurkan tangannya untuk mengajak perempuan berjaket hitam yang sebenarnya adalah salah satu sahabatnya.
"Ayo Rit!" Ajaknya.
Arina pun hanya bisa mengangguk dengan sebuah senyuman diwajahnya, dan menyambut uluran tangan itu.
Keduanyapun berjalan kearah ruang tengah rumah Mika, dan duduk dikursi yang sudah disediakan untuk mereka.
Disana sudah ada Cindy yang duduk dengan tenang diatas meja sementara Alvaro, Mika dan Ardhan yang kini berdiri didapur.
Sinta yang melihat keberadaan Cindy tertukar dengan Alvaro pun memilih duduk disamping perempuan berambut panjang tergelung itu.
"Kok gak masak Cin? Katanya tadi lu mau masak?" Tanya Sinta pada Cindy yang sekarang sedang asik memainkan handphone milik Alvaro.
Cindy mendongak untuk menatap Sinta yang duduk disampingnya, kemudian kembali memainkan handphone milik lelaki bergelar ketua tim basket itu.
"Tadi kan Gue lagi masak, eh… Alvaro dateng ya udah deh, gue kesini aja. Dari pada nanti berantem didapur, bikin bahaya aja." Jelas Cindy yang tetap menatap layar handphone itu.
Dia cukup terkejut saat Cindy dengan berani membuka gallery foto milik lelaki itu.
"Lu ngapain?" Bisik Sinta menegur Cindy yang terlihat asik.
"Sssttt… Gue mau curi beberapa foto jelek dia, terus bakalan gue upload di facebook! Biar tahu rasa!" Cindy menjawab dengan penuh penekanan, seakan dirinya sudah memendam ribuan dendam pada Alvaro.
Sinta yang tidak bisa apapun hanya melirik Arina yang menggelengkan kepalanya, mengetahui rencana jahat Cindy.
Glen yang baru saja keluar dari kamar mandi, berjalan menghampiri mereka yang sudah duduk dimeja makan.
Kemudian dia berjalan kearah Cindy yang tidak menyadari kehadirannya, tidak seperti Sinta dan Arina yang sudah menyadari kedatangan Glen.
Sret! Cindy terkejut saat handphone milik Alvaro yang ada ditangannya tiba-tiba direbut oleh seseorang.
__ADS_1
Perempuan itu sontak berdiri dari kursinya dan berbalik untuk memarahi orang yang berani merebut handphone itu dari tangannya.
"Apaan si…" Tapi saat dia melihat Glen lah orang yang mengambil handphone itu, dia berhenti dan tidak melanjutkan ucapannya.
Justru Cindy langsung memasang sebuah senyuman manis untuk lelaki itu, "Eh… Glen." Panggilnya dengan canggung.
Glen mengangkat sebelah alisnya saat menatap Cindy. Sementara Sinta dan Arina berusaha menahan tawa mereka sekuat tenanga, melihat bagaimana canggung dan kikuknya Cindy dihadapan Cindy.
"Apa Cin?" Tanya Glen pada perempuan cantik itu.
Cindy menggigit ujung bibirnya dan menjawab. "Minta handphone Alvaro…" Ucapnya pada Glen seraya menadahkan telapak tangan kanannya.
Seakan terpana dengan kecantikan Cindy yang saat ini kembali menggigit ujung bibir ranumnya itu, membuat Glen terdiam cukup lama ditempatnya.
Hal itu tentu mengundang tanya dibenak Sinta, Arina dan Cindy sendiri.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada, Cindy pun segera merebut handphone milik Alvaro dari tangan Glen.
Tapi Glen juga memiliki refleks yang tinggi, sehingga dia dengan cepat melangkah mundur kebelakang.
Cindy kehilangan keseimbangan karena tidak tahu bahwa Glen akan menjauh darinya, dia menabrak kursi yang dia duduki sebelumnya dan terjatuh bersama dengan kursi itu dengan keras ke atas lantai.
Membuat Sinta dan Arina berteriak.
"Aaaa!" Sementara Glen yang ada didepannya terdiam karena terkejut.
Dia memiliki refleks untuk menjauh dari Cindy, namun refleksnya tidak berfungsi untuk menyelamatkan Cindy yang hendak terjatuh.
"Awh…" Cindy mengaduh. Sinta dan Arina dengan cepat menghampiri perempuan itu, begitupun dengan Glen yang akhirnya sadar dari keterkejutannya.
Dia segera membantu Cindy untuk kembali bangkit dari posisi jatuhnya.
Alvaro, dan Ardhan yang mendengar teriakan, segera berlari untuk melihat keadaan, sedangkan Mika masih berada didapur untuk memastikan mie yang mereka masak tidak gosong.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Ardhan. Kedua lelaki itu terkejut saat melihat Cindy yang sudah berada di atas lantai dengan posisi yang tidak bisa dideskripsikan.