The Ritual

The Ritual
Ritual


__ADS_3

"Kenapa kita?" tanya Ardhan, karena merasa hanya mereka berempatlah yang Arina beri peringatan.


Sedangkan Mika dan Cindy disana? Apakah sudah diberi peringatan yang sama juga?


"Karena kalian berempatlah yang belum dia datangi." jawaban dari Arina itu cukup untuk membuat keempat orang itu terdiam, khususnya Ardhan yang tadi bertanya.


"J-jadi, maksud lu… Ada kemungkinan dia bakalan datengin kita? Malam ini?" tanya Sinta sedikit gugup.


Arina mengangguk mengiyakan hal itu dan seketika raut wajah Sinta menjadi panik.


"Kenapa Ta?" tanya Alvaro yang menyadari raut itu, Sinta terlihat tidak tenang dan berusaha menenangkan dirinya sendiri dengan mengusap-usap lengannya sendiri.


Arina, Glen dan Ardhan juga bisa melihat kegelisahan perempuan itu saat ini.


"N-nggak apa-apa… Cuma, Kakak Gue pulang malem hari ini, jadi gue bakalan lama sendirian dirumah." Sinta menjelaskan alasan dirinya merasa gelisah.


Jujur saja, meskipun dia pemberani tapi kalau keadaannya seperti ini dan dia sendirian dirumah… Bukankah itu sama saja dengan bunuh diri kalau dia berpura-pura untuk berani?


"Ya udah, kalau gitu lo disini dulu aja sampai nanti malem, gimana? Jadi nanti Kakak Lo tinggal jemput kesini!" Usulan yang diberikan


Ardhan cukup masuk akal dan bisa menjadi jalan keluar permasalahan Sinta.


Tapi yang saat ini menjadi perhitungan Sinta adalah, dia juga tidak mau kalau menunggu dirumah ini.


Dirumah Cindy, yang mana hantu itu baru saja mendatanginya kemarin malam.


Bagaimana kalau hantu itu datang lagi? Itulah yang menjadi pertimbangan Sinta.


"Nggak deh, kayaknya gue nginep dirumah Mika aja. Ya Mik?" jawab Sinta, dia memutuskan untuk tidak menunggu disini dan lebih memilih untuk menginap dirumah Mika, mengingat pasti kedua orang tua Mika ada dirumah.


"Ya?" Mika yang tidak mengerti maksud Sintapun bertanya dan meminta penjelasan atas pertanyaan itu.

__ADS_1


"Orang tua lu ada dirumah kan?" tanya Sinta memastikan kalau dugaannya benar, sehingga dia bisa tenang kalau memang orang tua Mika berada dirumah malam ini.


Perempuan yang saat ini menaruh kembali mangkuk kosong itu ke atas mejapun berbalik menatap mereka dan mengangguk membenarkan Sinta.


Sinta tersenyum cukup senang dengan hal itu, dan sudah memastikan bahwa dirinya akan menginap dirumah Mika.


"Gue nginep dirumah lu male mini, Mik!" ucap Sinta dengan tiba-tiba.


Mika sedikit terkejut dengan rencana mendadak itu, tapi kemudian dia hanya bisa mengiyakan dan menyetujuinya.


Cindy sudah kembali tidur setelah meminum obat yang diberikan oleh Mama Alvaro.


Dan merekapun memilih untuk keluar dari kamar Cindy dan membiarkannya beristirahat tanpa mengganggunya.


Mereka duduk diruang tengah dan menonton tv seraya membicarakan apa yang akan mereka lakukan.


"Jadi Ri, Lo udah mastiin bahwa ini adalah hantu yang sama?" tanya Glen.


"Bahaya gak kalau kita cari tahu siapa hantu ini?" tanya Mika yang merasa penasaran dengan apa yang akan terjadi kalau mereka melakukan komunikasi dengan hantu itu.


Karena bagi Mika, setiap keputusan yang dilakukan pasti ada resiko yang akan mereka terima bukan? Dan dia tidak mau resikonya terlalu besar.


"Dengerin gue ya… Kalau kalian mau mencari tahu siapa hantu ini dan apa alasannya mendatangi kita semua? Maka hanya ada satu jalan yang bisa kita lakukan…" Arina mencoba menjelaskan terlebih dahulu pada semua sahabatnya, agar tidak ada dari mereka yang kembali bertanya dan menyalahkannya dikemudian hari.


"Apa itu?" tanya Alvaro. Mereka semua menatap Arina yang menatap satu per satu dari mereka secara bergantian.


Hari itu memang masih siang, dan matahari pun masih terang.


Tapi entah kenapa suasananya tetap mencekam saat mereka membahas hal itu, entah karena memang rasa ketakutan mereka mulai muncul atau memang ada sesuatu hal yang tidak bisa mereka lihat yang ikut duduk mendengarkan bersama mereka didalam ruangan itu.


"Ritual…" Mereka semua terdiam begitu Arina mengatakan kata 'Ritual'.

__ADS_1


Karena biasanya ritual adalah sesuatu hal yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bisa dilakukan secara sembarangan.


Apalagi ini menyangkut hal ghaib. Mereka saling menatap satu sama lain, dan kembali menatap Arina yang tidak terlihat khawatir.


"Ritual? Apa ini aman Ri? Ritual kan gak boleh sembarangan!" Glen yang merasa sedikit keberatan dengan kegiatan ritual yang akan mereka laksanakanpun mencoba meyakinkan Arina.


"Katanya kalian mau tahu siapa hantu ini? Kecuali kalau kalian gak mau mencari tahu, ya udah… Kita gak perlu ngelakuin ritual ini!" Jelas Arina lagi.


Glen terdiam untuk beberapa saat, mempertimbangkan lagi apakah dirinya harus menyetujui dan memperbolehkan sahabat-sahabatnya melakukan itu?


"Ritual apa? Kan ritual itu ada banyak!" Ardhan yang baru datang dari kamar mandipun bertanya pada Arina, dia memang tidak mengetahui kemana arah pembicaraan yang dilakukan oleh sahabatnya itu, tapi saat dia berjalan menuju ruang tengah dia hanya mendengar kalimat terakhir dari perempuan itu.


"Ritual pemanggilan arwah!" jawab Arina. Langkah Ardhan pun terhenti, dia cukup terkejut dengan jawaban yang diucapkan oleh Arina.


Ritual pemanggilan arwah adalah ritual yang lumayan berbahaya setahu mereka, karena setiap mereka menonton film-film horror apalagi film horror internasional, tidak ada akhir yang bagus pada setiap film yang mengangkat tema pemanggilan arwah.


Kalau mereka memanggil arwah yang salah, maka mereka akan mati. Hal itu yang saat ini ditakutkan oleh Ardhan.


"Are you serious? Pemanggilan arwah?" Tanya Ardhan lagi, dia benar-benar tidak menginginkan ini terjadi.


Kalau bisa, dia tidak akan ikut kedalam permasalahan ini dan berpura-pura mempunyai banyak pekerjaan yang harus dia lakukan.


Meski nantinya dia dijauhi oleh sahabat-sahabatnya itu karena bersikap tidak setia kawan.


"Karena hanya itu jalan satu-satunya. Ritual adalah jalan satu-satu yang bisa kita lakukan sekarang!" Arina kembali menjelaskan kepada mereka semua bahwa tidak ada cara lain untuk menghubungi hantu itu.


"Kalau gitu bisa gak kita lupain ini?" tanya sinta pada mereka semua, seketika dia mengurungkan niatnya untuk mencari tahu siapa hantu yang meneror mereka.


Alvaro, Glen dan Arina serempak menatap padanya, mereka hanya terdiam saat Mika yang ada disamping Sinta pun menganggukkan kepalanya.


"Guy's denger dulu ya… Sebenarnya gue pun nggak mau melakukan hal seperti ini. Tapi… Apa ini gak aneh? Hantu ini mendatangi kita secara bergiliran, bukankah itu artinya ada sesuatu hal yang harus kita lakuin?" Glen yang merasa bimbangpun akhirnya tetap pada pendiriannya, untuk tetap mencari tahu siapa hantu yang menghantui Cindy dan Mika.

__ADS_1


__ADS_2