
Perlu waktu dua hari untuk Cindy sembuh dari sakit demamnya.
Dan selama dua hari itu tidak ada satupun di antara Glen, Alvaro, Ardhan maupun Sinta yang didatangi oleh sosok hantu seperti apa yang Arina peringatkan sebelumnya.
Mungkin karena keempat orang itu sudah berlaku hati-hati saat malam, dan mereka tidak akan pernah mau sendiri saat malam hari.
Seperti apa yang sering Sinta lakukan contohnya, dia akan pergi dan menginap dirumah Mika saat Kakaknya kerja lembur dan pergi tidur saat jam masih menunjukkan pukul delapan malam atau pukul Sembilan.
Hari ini adalah hari minggu, hari dimana Arina meminta mereka semua untuk bertemu dengannya disalah satu cafe yang ada didekat mall besar dikota mereka.
Cafe yang lumayan ramai itu membuat mereka harus membooking tempat terlebih dahulu. Entah apa alasan Arina mengajak mereka kesana, tapi mereka tetap menyetujuinya.
Mika adalah orang pertama yang sampai ditempat itu, dia langsung memesan minuman untuk dirinya sendiri dan menunggu sahabat-sahabatnya yang lain. Mika berulang kali membuka ponselnya dan melihat-lihat beranda facebooknya.
"Lama banget sih… Mereka pada dimana ya?" Mika yang menyadari lamanya dia menunggupun mengangkat kepalanya untuk melihat kearah luar, barang kali salah satu sahabatnya baru saja datang.
Dan benar saja dugaan perempuan itu, Alvaro dan Cindy terlihat baru sampai dengan motor yang Alvaro kendarai.
Kemudian Mika juga melihat sebuah mobil yang berhenti didepan cafe itu, mobil yang Mika ketahui milik Kakak Sinta.
Mika melihat Sinta keluar dari dalam mobil, mengobrol dan melambaikan tangan pada mobil yang akhirnya melaju kembali itu.
Mika masih ditempatnya saat Sinta dan Cindy saling berpelukan ditempat parkir itu, sementara Alvaro sedang melepaskan dan menyimpan helm miliknya juga Cindy di atas motornya.
Kemudian ketiga orang itu masuk kedalam cafe, mencari tempat milik mereka yang sudah mereka pesan.
Mika mengangkat tangannya untuk melambai pada ketiga sahabatnya itu, memberitahu mereka bahwa disinilah tempat mereka.
Cindy yang melihat lambaian tangan Mika, tersenyum dan memberitahu pada Alvaro juga Sinta.
Mereka kemudian berjalan menghampiri tempat dimana Mika duduk dengan secangkir minumannya.
"Mik…." Cindy yang memang belum mereka lihat kembalipun memeluk Mika dengan erat, sementara Sinta langsung duduk disalah satu kursi dimeja itu.
Alvaro tidak langsung duduk disana, dia melihat ke arah counter pemesanan kemudian menawarkan pada kedua perempuan yang datang bersamanya itu.
"Mau pesen apa?" tanyanya. Cindy yang sudah melepaskan pelukan Mika, melirik ke arah papan menu didepan sana, kemudian dia menatap Sinta yang juga melihat papan itu.
__ADS_1
"Melon milkshake." Sinta akhirnya memutuskan minuman apa yang ingin dia pesan.
Alvaro mengangguk, lalu dia melirik pada Cindy yang masih berdiri dan sekarang menatap padanya.
"Lo mau apa, Cin?" tanya Alvaro pada sahabatnya itu, Cindy menggelengkan kepalanya dan memilih untuk duduk disamping Mika.
"Gue mesen nanti aja!" jawabnya. Alvaro hanya mengangguk mendapatkan jawaban itu, dia tidak akan memaksa perempuan itu untuk memesan minuman sekarang juga.
Tapi Alvaro tetap akan memesankan sebuah minuman untuk Cindy, karena dia tahu minuman yang selalu perempuan itu pesan saat mereka mengunjungi cafe.
Saat Alvaro sedang memesan minuman untuk mereka, Ardhan dan Glen datang secara bersamaan yang menandakan bahwa Ardhan pasti meminta tumpangan pada sang wakil ketua OSIS.
"Hai semua!" Sapa Ardhan yang sudah sampai dimeja mereka. Saat lelaki itu melihat keberadaan Cindy disana, dia pun terlihat seperti orang yang terkejut.
"Eh… Ada Cindy! Apa kabar Cin?" tanyanya yang terlihat seperti gurauan itu.
Cindy tersenyum dan menjawab bahwa dirinya baik-baik saja saat ini. Ardhan mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu melirik untuk mencari dimana lelaki yang seharusnya sudah berada disini karena dia melihat motornya didepan sana.
"Alvaro dimana?" tanya Ardhan. Sinta menunjuk ke arah counter, membuat lelaki itu memutar badannya untuk melihat Alvaro yang berdiri disana.
"Oke!" Ardhan berjalan meninggalkan mereka untuk menghampiri Alvaro disana, saat dia berpapasan dengan Glen, keduanya terlihat berbincang kemudian Ardhan mengangguk saat Glen mengatakan sesuatu.
Glen berjalan mendekati meja mereka dan duduk disalah satu kursi kosong. Dia menyimpan jaketnya pada sandaran kunci dan menyimpan handphone nya di atas meja.
Matanya berhenti saat dia melihat Cindy yang ada disamping Mika, tengah memainkan handphone milik perempuan itu.
"Lo udah sehat Cin?" tanya Glen. Cindy yang mendengar pertanyaan itu, segera menghentikan kegiatannya memainkan handphone milik Mika, dan menatap pada Glen yang saat ini tengah tersenyum padanya, menunggu jawaban dari apa yang dia tanyakan sebelumnya.
"A-apa Len? Sorry tadi gak denger! Hehehe." Cindy bertanya, meminta Glen untuk mengulang pertanyaannya karena dirinya tidak begitu mendengar apa yang Glen ucapkan tadi.
Glen menggeleng-gelengkan kepalanya dengan pelan, kemudian kembali mengulang apa yang dia tanyakan pada Cindy tadi.
"Lo udah sehat?" Cindy mengangguk dan cengengesan mendengar pertanyaan itu.
Glen ikut menarik kedua bibirnya mendengar tawa Cindy, dan menepuk kepala Cindy dengan pelan sebanyak tiga kali.
Mika dan Sinta yang memang ada satu meja dengan merekapun saling melirik bingung. Sejak kapan keduanya terlihat begitu dekat?
__ADS_1
Itulah yang ada dibenak mereka berdua. Cindy memang orang yang dekat dengan banyak laki-laki, tapi dekat dengan Glen adalah hal yang perlu dipertanyakan.
Pasalnya sang wakil ketua OSIS itu adalah lelaki yang sangat sulit untuk dekat dengan perempuan, meskipun itu di antara mereka.
Glen tidak sedekat Alvaro dan Cindy dengan siapapun, dia hanya akan menjawab pertanyaan, menanyakan kabar, dan menolong kalau ada dari mereka yang kesulitan.
Jadi saat Sinta dan Mika melihat hal yang baru saja Glen lakukan pada Cindy, keduanya merasa aneh dan kebingungan.
"Eh iya… Arina mana ya?" Sinta yang merasa canggung karena sikap Glen pada Cindy pun segera menanyakan keberadaan Arina pada Mika, meskipun Cindy dan Glen tidak merasa ada yang salah dengan sikap mereka.
"Tadi dia bilang dateng agak telat." Bukan Mika yang menjawab pertanyaan yang Sinta tanyakan itu.
Justru Cindy yang ada disebelah Mika lah yang menjawabnya dengan melipat kedua tangannya ke atas meja sambil tersenyum manis.
"E-eh?" Sinta yang mendengar jawaban itupun hanya bisa menatap kikuk pada Cindy.
Alvaro dan Ardhan datang dengan beberapa minuman di atas nampan yang Alvaro bawa, sedangkan Ardhan hanya membawa segelas minuman yang sudah bisa dipastikan itu adalah minuman miliknya.
Alvaro mengambil tempat disamping Cindy, yang otomatis menjadi penengah di antara perempuan itu dengan kursi Glen.
Sementara Ardhan memilih untuk duduk disamping Sinta yang duduk disebelah Glen.
"Ini punya lu, Ta!" Alvaro memberikan milkshake milik Sinta, dan memberikan cappuccino pesanan Glen.
Kemudian dia memberikan coklat latte pada Cindy yang sebenarnya tidak memesan apapun, dan mengambil Americano miliknya sendiri.
"Gue kan gak pesen, Al…" ucap Cindy, tapi dia tetap mengaduk-aduk coklat itu dan mencicipinya lewat sedotan bekas mengaduk tadi.
Alvaro hanya bisa tersenyum bangga sambil menggelengkan kepalanya pada Cindy.
"Gak mau kok dijilat-jilat?" tanyanya. Cindy hanya tersenyum memperlihatkan semua gigi rapinya dan kemudian menggeser coklat itu lebih dekat dengannya dan Mika.
Mereka meminum minuman mereka masing-masing dan kembali menunggu.
"Arina belum dateng ya?" tanya Alvaro pada mereka semua, pertanyaan yang sama yang sebelumnya Sinta tanyakan.
"Itu Dia!" Ardhan yang mendapati kedatangan Arina pun segera menunjuk perempuan yang saat ini mengenakan kaos berwarna ungu muda, celana jeans dan tas serong berwarna hitam.
__ADS_1
Setelan baju yang belum pernah mereka lihat sebelumnya, karena biasanya perempuan itu mengenakan jaket hitam setiap kali mereka main bersama-sama.