
"Astaga!" Alvaro segera belari untuk menghampiri Cindy yang sudah bangkit dibantu oleh Glen, Sinta dan Arina. Perempuan itu terlihat berkaca-kaca meski tidak menangis, tapi tetap saja rasa sakit dan malu sudah di deritanya disaat yang bersamaan. Terlihat jelas memar merah di kedua lengan Cindy akibat benturan itu, dan jangan lupa jidat putihnya yang juga terlihat merah akibat terbentur kayu dari sandaran kursi yang jatuh bersama dengannya.
"Cin, maafin gue ya!" Ucap Glen seraya mengusap jidat Cindy. Perempuan itu meringis karena rasa sakit yang dia rasakan, sementara Sinta tiba-tiba tertawa karena mengingat bagaimana cara Cindy terjatuh dengan lucunya.
Arina yang ada disamping Sinta hanya bisa memberikan sebuah peringatan seraya menahan tawanya sendiri. "Ssssttt.." tapi peringatan itu tidak cukup untuk membuat Sinta terdiam. Cindy yang merasa malu pun memukul pelan lengan Sinta yang menertawainya. Kemudian dia sendiri tertawa ditengah rasa sakit yang dia derita saat mendengar tawa Sinta yang semakin kencang. Beberapa saat kemudian, Arina dan Glen yang tertawa disaat yang hampir bersamaan. Membuat Ardhan dan Alvaro yang tidak mengetahui apapun terlihat kebingungan.
Meskipun mereka tertawa, tangan Glen yang masih mengelus-elus jidat Cindy belum turun dari tempatnya, sehingga Alvaro yang menyadari hal itu segera menarik tangan Glen dan menatap lelaki itu dengan cukup tajam.
"Jangan lama-lama!" Tegurnya.
Glen hanya mengangkat sebelah alisnya, kemudian memberikan handphone yang dipegangnya kepada sang pemilik. Membuat Alvaro untuk beberapa saat terdiam menatap handphone-nya yang entah bagaimana bisa berada ditangan Glen.
"Ngapain lu ambil handphone gue, Glen?" Tanya Alvaro yang memang sekarang sedang merasa kesal pada Glen. Tapi tanpa menjawab apapun, Glen hanya menunjuk kearah Cindy yang sekarang membulatkan kedua matanya pada wakil ketua osis itu.
"Cin?" Tanya Alvaro. Kemudian Cindy tersenyum dengan lebar dan kembali berpura-pura kesakitan dengan mengusap kedua lengan dan dahinya. Hal itu hanya bisa membuat Alvaro membuang nafasnya dan menggelengkan kepala, seraya pergi dari sana untuk kembali kedapur bersama dengan Ardhan.
Setelah kedua lelaki itu pergi, Cindy menatap pada Glen yang mengangkat kedua alisnya dan tersenyum. "Kalo lo marah, gue bakal kasih tau Alvaro rencana yang bakalan lo lakuin." Glen hanya mengucapkan kalimat itu sebagai sebuah ancaman, dan sebagai jaminan agar Cindy tidak marah padanya.
Cindy bungkam dengan wajah yang cemberut, dia kemudian memilih duduk disamping Sinta dan Arina. Kemudian dia memeluk Arina dengan wajah sedihnya, "Ri, lihat deh Glen jahat banget!" Adunya pada perempuan yang kini dia peluk. Arina tidak banyak berkata, dia hanya tersenyum dan mengelus-elus rambut Cindy dengan pelan.
"Lagian itu kan salah lu, Glen cuma mau kasih tahu supaya lu gak bersikap kaya gitu. Cin!" Bukannya mendukungnya, Sinta yang berada disamping kanannya justru memberikan sebuah nasihat yang menjatuhkan dirinya dan meninggikan Glen.
Cindy melepaskan pelukannya dan melirik Sinta dengan cukup tajam. "Diem deh, Ta! Gue kan gak ngomong sama lo!" Tegur Cindy saat dua tidak mendapatkan dukungan dari Sinta, seraya mendorong pelan bahu Sinta agar menjauh darinya.
__ADS_1
Sinta yang terdorongpun hanya mengucapkan sebuah kata, "Yee…" Untuk menimpali semua ucapan Cindy.
Sinta mengetahui kalau ucapan itu Cindy tidak sepenuhnya serius, karena mereka semua sudah sering bercanda layaknya sebuah teman yang sedang musuhan.
Sore hari sudah datang, semua sahabat-sahabat Mika satu per satu sudah pulang kerumahnya, kini tinggal Alvaro, Glen dan Cindy yang menunggui orang tua Mika yang mengatakan akan pulang hari ini. Glen yang memang memiliki rumah berjarak paling dekat dengan Muka pun memutuskan untuk memastikan bahwa orang tua Mika benar-benar pulang hari itu. Sementara Alvaro dan Cindy yang pulang bersama itu sama-sama setuju untuk menemani Mika dan Glen. Selain itu Mika juga membutuhkan sahabat perempuan untuk menemaninya.
"Cin tau gak, kemarin itu gue sempet pake produk…"
Alvaro hanya terdiam menatapi Cindy dan Mika yang saat ini asik berbincang diatas sofa panjang diruang keluarga milik Mika, sedangkan dia dan Glen yang duduk diruang tamu hanya terdiam dengan kegiatan masing-masing.
Glen terlihat sibuk dengan ponselnya setelah dia di hubungi oleh anggota osis beberapa menit yang lalu, sedangan Alvaro… Seperti yang sudah terjelaskan, lelaki itu hanya terdiam memandangi kedua perempuan yang kini asik berbincang.
"Dia bukan anak kecil yang harus lo perhatiin terus, Al!" Kalimat itu berhasil membuat Alvaro yang duduk disamping Glen menatap kepadanya. Glen tidak menghentikan kegiatannya mengetik pesan di handphone miliknya, ia hanya mengucapkan kalimat itu dan kembali sibuk dengan tugas dadakannya.
"Maksud lu apa?" Tanya Alvaro, yang sekarang membenarkan posisinya untuk menghadap kepada lelaki yang tadi menyindirnya.
"Cindy bukan anak kecil lagi, Al. Lo gak perlu merhatiin dia terus." Glen kembali mengulang perkataannya, dan Alvaro hanya bisa terdiam juga berusaha untuk tidak marah terhadap perkataan sang sahabat.
Alvaro kembali melirik kearah dimana Cindy dan Mika berada, "Lu gak ngerti, Glen. Ada beberapa hal yang membuat gw gak mau itu terulang lagi sama Cindy." Ucapan Alvaro tersebut membuat Glen menyipitkan matanya dan ikut menatap pada kedua gadis itu.
"Lo terlalu posesif, Al." Ungkap Gken.
Alvaro menganggukkan kepalanya menyetujui sekaligus mengakui hal itu.
__ADS_1
Glen yang melihat reaksi tersebut akhirnya hanya bisa membuang nafasnya dengan pelan, dan kembali membuka pesan-pesan yang sedari tadi masuk kedalam nomornya.
"Al!" Panggilan itu membuat Alvaro berdiri dari tempatnya, dan berjalan menghampiri kedua perempuan yang berada diruang keluarga.
Glen pun yang melihat ketergesa-gesaan Alvaro segera bangkit untuk menyusul lelaki itu.
"Kenapa?" Tanya Alvaro to the point pada keduanya. Sementara Glen hanya terdiam dibelakang Alvaro dan bersandar pada tembok yang ada disampingnya.
"Gue ada pemotretan setengah jam lagi, jadi gue pulang duluan ya!" Kedua lelaki itu kini memperhatikan Cindy yang sibuk memasuk-masukan barangnya kedalam tas, sedangkan Mika membantu temannya itu untuk membereskan make up yang tadi mereka keluarkan.
"Gue anter!" Alvaro yang mendengar hal itupun menawarkan diri untuk mengantar Cindy, dia mengambil jaket miliknya yang tergantung dikursi diruang tengah. Tapi saat dia hendak mengenakan jaket tersebut, Cindy menolak keputusannya.
"Gak usah Al!" Tolak Cindybyang membuat lelaki itu terdiam dan dengan cepat menatap padanya.
Cindy masih membereskan tasnya dan menggunakan jaket miliknya, kemudian perempuan itu berlari kearah kaca yang ada disamping salah satu kamar untuk merapikan rambutnya.
Alvaro masih menatapi Cindy, "Loh, kenapa?" Tanyanya kebingungan, dan tetap menggunakan jaket yang sudah dia pegang itu.
Glen dan Mika yang ada diruangan itupun hanya melirik keduanya secara bergantian.
"Ya ga apa-apa… Lo disini aja temenin Glen!" Jelas Cindy.
Alvaro yang mendengar alasan Cindy itu, melirik kearah lelaki yang kini mengangkat kedua bahunya.
__ADS_1
Alvaro tetap tidak menerima penolakan Cindy pada tawaran yang dia berikan.
"Hah? Ga usah! Glen udah gede, gue nganter lo aja! Gue tunggu didepan!" Alvaro dengan intonasi suara yang tinggi itupun akhirnya membuat keputusan secara sepihak yang akhirnya membuat Cindy terdiam didepan cermin, melihati kepergian Alvaro dari ruangan itu. Mika hanya bisa terdiam dan menghampiri Cindy, lalu memberikan tas milik perempuan itu. Sedangkan Glen yang bersandar ditembok pun akhrinya menyusul Alvaro yang berjalan keluar karena emosi.