
"Itukan Cuma Mika sama Cindy! Bukan semua dari kita, Len!" Ardhan yang sekarang duduk disandaran sofa itu mengingatkan Glen bahwa hanya Cindy dan Mika yang didatangi hantu, sedangkan yang lainnya tidak.
Ucapan yang Ardhan ucapkan itu memang ada benarnya. Tapi ucapan itupun seolah menggambarkan ke egoisan dari seorang Ardhan.
Dia seakan tidak peduli dengan masalah ini, selama bukan dirinya yang mengalami kejadian itu.
Glen dan Alvaro sebenarnya cukup geram saat mendengar pernyataan Ardhan itu.
Glen yang memang bisa mengontrol emosinya, lebih memilih untuk diam. Sedangkan Alvaro berbeda, dia tidak bisa membiarkan Ardhan dengan keegoisannya begitu saja.
"Mau sampai kapan Dhan? Mau sampai lo didatengin hantu ini dulu? Baru lo tahu dan minta kita buat bantuin elo?" Pertanyaan yang keluar dari mulut Alvaro itu bagaikan seperti sebuah peluru yang langsung menembak tepat ke arah kepala Ardhan, yang berhasil membuatnya terdiam dan bungkam.
Itulah Alvaro, dia akan segera memberikan teguran bagi siapapun yang salah, tapi bukan dengan kekerasan melainkan rasa malu.
Rasa malu adalah hal yang sangat jitu untuk membuat siapapun merasa jera.
"Nggak gitu, Al… Cuma, gue takut kalau ritual ini membuat kita semua dalam bahaya! Lo pernah liat kan di film-film pemanggilan Arwah, gimana satu per satu dari mereka…"
"Ini bukan film Dhan! Lagian Arina juga tau kok resikonya, yakan Ri?"
Glen yang mendengar jawaban konyol dari Ardhan pun segera meyakinkan lelaki itu, bahwa hal yang akan mereka lakukan tidak sepenuhnya membahayakan mereka.
Karena Arina yang mengusulkan ritual itu, dan dia tidak mungkin akan membiarkan mereka dalam bahaya.
Arina mengangkat kedua alisnya saat Glen dengan tiba-tiba mengatakan demikian, "I-iya… Ini gak seberbahaya Film Ritual itu dan pemanggilan arwah yang lainnya kok." Jawab Arina, meski dirinya sempat terbata-bata di awal.
Ardhan menghela nafasnya, dia kemudian melirik pada Sinta dan Mika yang terlihat menyerah dan akan ikut melakukan ritual itu nantinya.
Ardhan menggaruk kepalanya dengan frustasi dan menatap pada Arina yang masih melihatinya.
__ADS_1
"Coba jelasin ritual seperti apa ini? Dan apa resiko terbesar yang akan kita terima kalau melakukan ritual ini?" Pertanyaan itu adalah pertanyaan berbobot yang pertama kalinya Ardhan tanyakan pada mereka semua.
Sifat Ardhan yang kekanak-kanakan itu terlihat menghilang saat ini, dan tergantikan dengan sifat dewasa yang tidak mungkin dimilikinya.
"Ritual ini dibuat oleh Nyokap gue dan nggak sama seperti ritual yang lainnya. Resiko terbesar yang gue tahu, kita semua hanya akan melihat banyak hantu yang terpanggil disaat yang bersamaan."
"Tapi saat ritual itu selesai, mggak akan ada akibat lain yang kita terima. Hantu-hantu itu nggak akan ngikutin kita sampe kerumah kita atau masuk kedalam salah satu tubuh kita." Arina menjelaskan ritual apa yang sebenarnya akan mereka lakukan dan resiko apa yang akan mereka terima setelah melakukan ritual itu.
Ardhan, Sinta dan Mika kembali mempertimbangkan setelah mengetahui bagaimana ritual yang akan mereka lakukan nantinya.
"Kita hanya memerlukan lima buah lilin, tiga buah dupa, satu buah kelapa dan semangkuk air bunga tujuh rupa. Nggak ada barang-barang lainnya yang kita perluin selain itu." Arina kembali menjelaskan dan memberitahu mereka apa saja barang-barang yang diperlukan untuk melakukan ritual itu.
"Hanya itu? Tidak ada media untuk berkomunikasi dengan mereka?" tanya Sinta yang merasa terkejut karena tidak adanya media seperti papan komunikasi, boneka dan lain semacamnya.
Arina menggelengkan kepalanya, tanda memang tidak ada hal lain yang mereka butuhkan lagi untuk melakukan ritual itu.
"Gue ikut!" Mereka mendengar sebuah helaan nafas yang amat kencang sebelum mendengar keputusan dari Sinta itu.
Ardhan dan Mika terlihat cukup terkejut karena perempuan itu memilih keputusan dengan sangat cepat.
Mika memainkan bantal sofa yang saat ini dipeluknya, dia mempertimbangkan semua ini dengan pelan-pelan.
Tapi saat dia mengingat awal permasalahan ini, dia merasa tidak enak karena ini semua berawal darinya.
Jadi akhirnya Mika pun menyetujui untuk ikut dalam ritual pemanggilan arwah ini, meski sebenarnya tidak ada yang memaksa dirinya untuk ikut.
"Ya udah, gue juga ikut." ucapnya tanpa bersemangat, tapi dia tetap mencoba untuk tersenyum pada mereka semua.
Sinta mengangguk dan memeluk Mika dengan senang, karena Sinta tahu pasti keputusan itu sangat berat untuk Mika yang sangat penakut itu.
__ADS_1
Dan sekarang tinggal giliran Ardhan yang belum memutuskan, apakah dirinya akan ikut dalam ritual itu atau tidak.
Mereka semua secara bersamaan menatap pada Ardhan, sedangkan orang yang mendapatkan tatapan itu mencoba untuk menghindari tatapan mereka semua dengan menengok ke arah lain atau berpura-pura berpikir dengan menatap langit-langit ruang tengah rumah Cindy yang berwarna cream itu.
"Gimana Dhan?" Glen mengangkat sebelah alisnya, bertanya pada lelaki yang lebih pendek dari dirinya itu.
Pertanyaan Glen seakan meminta lelaki itu untuk memutukan keputusannya dengan cepat.
Dan berhasil membuat Ardhan merasa semakit terdesak dengan pertanyaan satu kata itu, lelaki itu kemudian mendecak keras dan memukul sandaran sofa yang didudukinya.
"Oke deh, gue ikut!" jawabnya dengan mantap.
Mereka semua terdiam untuk sesaat, saat Ardhan mengatakan bahwa dirinya akan ikut dengan mereka semua.
Hanya suara detak jam dan tv yang menyala lah yang bisa mereka dengar saat ini. Ardhan terkejut dengan reaksi sahabat-sahabat nya itu dan menatapi mereka secara bergantian.
"Kalian semua kenapa?" tanya Ardhan yang kebingungan dengan sikap mereka yang saat ini terdiam, menatap padanya tanpa berkedip bahkan seakan meragukan keputusan lelaki itu.
"L-Lu bilang apa tadi Dhan?" Sinta yang ada disamping kanan Ardhan pun berbalik, untuk bertanya pada lelaki itu dengan ucapan yang sedikit terbata, menggambarkan bahwa perempuan itu cukup terkejut dengan apa yang didengar olehnya tadi.
Ardhhan mengerenyitkan dahinya mendengar pertanyaan Sinta, seolah keputusannya sedang diragukan.
"Gue ikut, Ta!" Ardhan kembali mengulang jawabannya pada Sinta agar wanita itu percaya.
Dan setelah Ardhan mengatakan itu, dia mendengar helaan nafas yang keras dari Alvaro dan Glen yang duduk di karpet, membuat dirinya segera melirik dua lelaki itu.
"Kenapa lagi?" tanya Ardhan pada kedua Sahabat nya, tapi secara serempak kedua lelaki itu memilih untuk menggelengkan kepala mereka.
Membuat Ardhan merasa kesal dan melemparkan bantal sofa pada keduanya. Sementara Mika, Sinta dan Arina hanya tertawa melihat Alvaro dan Glen yang meringis kesakitan.
__ADS_1