
Selama disekolah, Ardhan, Sinta, Cindy dan Arina kebingungan saat mendapati Alvaro, Glen dan Mika tidak masuk kedalam kelas hari ini.
Terlebih lagi keempatnya terkejut saat mendapatkan pesan dari Glen pada jam istirahat sekolah.
Dimana dia mengatakan bahwa dia ingin berbicara dengan mereka semua dirumah Mika sepulang sekolah.
Dan dia akan menunggu mereka disana. Maka setelah pulang sekolah Ardhan, Sinta, Cindy dan Arina bersama-sama pergi kerumah Mika.
Mengikuti perintah yang dikatakana oleh Glen pagi itu.
*****
Teng… Teng… Ardhan membunyikan bel rumah Mika berulang kali dan menunggu sampai setidaknya seseorang keluar dari dalam sana.
Sinta terdiam dibawah sebuah pohon bersama dengan Cindy, karena terik matahari yang begitu menyengat mengenai kulit keduanya, tidak seperti Ardhan dan Arina yang tidak peduli dengan hal itu dan justru berdiri didepan pagar tanpa pelindungan sama sekali.
Pintu kayu jati berornamen burung-burung dengan knot pintu berwarna emas itupun terbuka.
Alvaro yang muncul pertama kali menyapa keempatnya dan membukakan pagar untuk mereka.
"Macet kah?" Tanyanya pada sahabat-sahabatnya yang baru saja datang pukul setengah dua siang, padahal jadwal pulang sekolah mereka hari ini adalah jam setengah satu.
Berarti membutuhkan waktu sampai satu jam untuk keempat orang itu sampai dirumah Mika.
"Banget!" Jawab Sinta yang segera melenggang masuk karena takut kepanasan, Cindy yang sama saja dengan perempuan itupun berlari dan hampir terjatuh ditangga menuju pintu rumah Mika.
Tapi untungnya perempuan itu bisa menyeimbangkan tubuhnya, dia hanya bisa mendengar teguran dari Alvaro yang berada dibelakangnya.
"Hati-hati!" Seru Alvaro, lalu dia kembali menutup pintu pagar dan menguncinya setelah Ardhan dan Arina masuk kedalam rumah Mika.
Sinta dan Cindy sudah duduk disofa disamping Glen dan Mika yang juga memang sudah duduk disana sedari tadi.
Dan saat Arina dan Ardhan masuk kedalam rumah Mika, Glen berdiri dari duduknya untuk mempersilahkan Arina duduk disana.
__ADS_1
Sedangkan dia mengambil kursi lain yang ada dimeja makan, untuknya dan Ardhan.
"Makasih." ungkap Arina saat Glen memberikan kursinya, dan laki-laki itu hanya mengangguk dengan sebuah senyuman diwajahnya.
Cindy yang memang duduk di sebrang Glen sebelumnya itupun bisa melihat bagaimana perubahan raut wajah diwajah laki-laki keren itu, dia hanya bisa menajamkan kedua iris matanya dan memperhatikan gerak-gerik Glen.
Saat Cindy sedang asik memperhatikan Glen yang berjalan ke arah dapur, dia terkejut saat sebuah tangan besar tiba-tiba menutupi kedua matanya sehingga dia tidak bisa melihat apapun.
Perempuan itu refleks mendongak untuk menatap siapa yang menutupi matanya, seraya menarik tangan besar itu untuk melepaskan matanya.
"Alvaro!" Tegurnya pada Alvaro yang ternyata melakukan hal itu.
Alvaro hanya tertawa renyah saat mendapatkan teguran itu, kemudian dia berbisik pada Cindy dihadapan keempat temannya yang lain.
"Kalau naksir, jangan sampai kelihatan gitu dong!" Godanya pada perempuan bertubuh sempurna disampingnya.
Kini Alvaro duduk dipinggiran sofa single yang diduduki oleh Cindy, karena tidak ada tempat lagi yang tersisa untuknya dan dia lumayan malas untuk mengambil kursi dari meja makan seperti apa yang dilakukan oleh Glen.
Glen yang sekarang berjalan membawa dua kursi makan untuknya dan Ardhan pun menaikan sebelah alisnya saat melihat Alvaro dan Cindy asik berbisik dihadapan keempat temannya yang lain.
Alvaro segera menjauh dari telinga Cindy, dan menatap pada Glen yang melihatinya.
Kemudian Alvaro melirik kembali pada perempuan itu, "Tuh kan… Doi cemburu!" Ujarnya seraya menyenggol bahu Cindy, sampai dia mengaduh.
Plak! Satu pukulan pelan dari Cindy mendarat dilengan Alvaro setelah dia berkata demikian, kemudian dia mendengar sebuah ucapan yang membuatnya ingin tertawa lebar.
"Berisik!" Seru Cindy. Alvaro terlihat puas karena berhasil menggoda sahabat kecilnya itu, sementara sahabat-sahabat mereka yang lain hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya yang selalu terlihat tidak akur.
"Jadi, ada apa Len?" tanya Arina pada akhirnya setelah mereka melihat Cindy dan Alvaro berhenti bercanda.
Glen seakan di ingatkan tujuan dirinya mengumpulkan seluruh sahabat-sahabatnya disini.
"Oh… Itu! Em… Gimana Al?" Glen yang merasa kebingungan harus bercerita seperti apa segera menatap Alvaro dan meminta bantuan dari laki-laki yang juga mengalami hal yang sama bersama dengannya tadi malam.
__ADS_1
Alvaro sempat terdiam saat Glen dengan tiba-tiba memintanya yang menceritakan semua kejadian tadi malam.
Diapun hanya bisa memandangi semua temannya yang kini menatap ke arahnya secara bergantian.
"Jadi gini… Mik, bukan maksud Gue buat nakut-nakutin elo ya!" ujar Alvaro, Mika pun terlihat sedikit kebingungan denganmaksud dari ucapan yang dikatakana Alvaro barusan.
"Tapi tadi malem, sekitar jam 4. Didepan pintu gerbang, Gue dan Glen ngeliat ada Arina." Jelas Alvaro seraya melirik kearah Arina yang kini duduk disamping Sinta dan Mika.
Perempuan itu hanya memperlihatkan raut kebingungannya saat mendengar cerita yang dikatakan oleh Alvaro pada mereka semua.
"Tunggu sebentar! Jadi maksud Lu, Arina tadi malem datang kesini? Jam empat?" Tanya Sinta yang seakan tidak percaya dengan apa yang Alvaro ceritakan.
Ardhan, Mika, Cindy dan Arina sendiri hanya terdiam menunggu penjelasan lebih lanjut dari cerita itu.
"Iya, tunggu sebentar Ta! Gue belum selesai cerita!" Sahut Alvaro, kemudian Sinta mengangguk dan terdiam. Mempersilahkan laki-laki itu untuk kembali melanjutkan ceritanya yang dia katakan belum selesai itu.
"Awalnya… Awalnya nih! Gue sama Glen ngira itu beneran Arina, jadi kita bukain pintu pager dan bawa dia masuk kedalam rumah."
"Tapi… Yang mulai janggal dari dia yang kita lihat tadi malem itu, ada luka didahinya yang lumayan besar terus wajahnya juga lebih pucet. Tatapannya kosong, terlebih lagi… Gue ga tau Glen sadar atau nggak! Tapi gue sempet liat kakinya gak napak kelantai." Jelas Alvaro panjang lebar.
Semua sahabatnya hanya bisa terdiam, sementara Mika terlihat menutup kedua kupingnya karena tidak mau mendengar cerita menyeramkan itu.
"Ah… Kalian berdua bercanda kan? Gak lucu tau Al!" Cindy yang berada disamping Alvaro itupun merasa bahwa kedua laki-laki itu tengah membercandai mereka dengan menceritakan sebuah kejadian yang tidak masuk akal.
"Nggak Cin! Sumpah, gue gak bercanda!" Tegas Alvaro. Cindy yang masih ragupun memilih untuk menatap pada Glen dan melihat keseriusan dari laki-laki itu.
Bukan hanya Cindy yang tidak mempercayai cerita itu, tapi Sinta dan Ardhan pun terlihat ragu dan menunggu jawaban dari Glem.
"Apa yang diceritain Alvaro bener! Perempuan itu menghilang saat dia mengatakan kata 'Tolong!' pada kita berdua."
Dan setelah mendengar ucapan yang keluar langsung dari mulut Glen, akhirnya membuat mereka sedikit tidaknya percaya bahwa hal itu benar-benar terjadi dan mereka alami.
"Ri? Lu ada gambaran?" tanya Sinta yang duduk disamping perempuan itu.
__ADS_1
Sinta yang sedari tadi merasa bahwa Arina lebih banyak diam pun mulai curiga, apa perempuan itu sedang menerawang dan melihat kebenaran cerita Glen dan Alvaro, ataukah ada sesuatu yang lain yang dia lihat.