The Ritual

The Ritual
Konflik kecil


__ADS_3

Sebelum Arina menghampiri mereka, dia memberikan isyarat terlebih dahulu untuk memesan minuman, dan keenam orang yang ada dimeja itupun mengangguk mengiyakan.


"Arina beda banget ya kalau pakai baju kaya gitu!" ungkap Mika yang masih melihati punggung perempuan yang kini memesan minuman di counter.


"Iya, lebih bercahaya gimana gitu!" Ardhan yang sekarang meminum minumannya pun menimpali dengan setuju.


Alvaro dan Sinta hanya mengangguk-anggukan kepala, sedangkan Glen kembali melirik pada Arina yang berdiri disana untuk kembali memberikan penilaian.


"Lebih cantik ya? Malah lebih cantik dari gue!" Cindy pun membuka suara dan ikut menimpali ucapan Mika juga Ardhan.


Glen dan Alvaro secara bersamaan dan tanpa aba-aba langsung melirik kearah Cindy yang sekarang mengaduk-aduk kembali gelasnya.


Sinta dan Mika cukup terkejut dengan refleks kedua lelaki itu, sementara Ardhan yang tidak melihat hanya sibuk mengunyah jelly yang ada diminumannya.


"Jangan merendah untuk meninggi deh!" Alvaro yang memang duduk disamping Cindy pun memberikan sebuah ucapan yang menyindir sekaligus menegur perempuan itu.


Sebelumnya Sinta dan Mika menyangka Alvaro akan mengatakan bahwa Cindy jauh lebih cantik dari pada Arina, tapi ternyata lelaki itu tidak seromantis apa yang dipikirkan oleh keduanya.


"Nggak lah, jelas cantikan elo dari siapapun Cin!" Celetuk Glen yang meminum cappuccino miliknya.


Dahi Alvaro mengerut saat mendengar ucapan dari Glen tersebut, dan melirik pada lelaki disampingnya itu.


Sinta dan Mika saling memandang, orang yang sama sekali tidak mereka sangka mengatakan itu pada Cindy, justru mengatakannya dengan gamblang barusan.


Dan hal itu semakin membuat keduanya yakin kalau ada sesuatu di antara Cindy dan Glen, yang tidak diketahui oleh mereka semua termasuk Alvaro yang kini terlihat jengkel.


"Hei… Sorry telat! Ngobrolin apa nih?" Arina yang datang dengan gelas yang dia bawapun duduk disamping Ardhan, disebuah kursi yang memang kosong.


Kemudian dia menatapi semua teman-temannya secara bergantian, dimulai dari Sinta dan berakhir di Ardhan.


Hal itu membuat keenamnya terdiam dengan kaku, "Kenapa Ri?" tanya Glen yang terkejut melihat perempuan itu dengan tiba-tiba menatapi mereka semua. Arina yang mendapatkan pertanyaan itu hanya kembali bertanya


'Hm?' yang mengartikan kata tanya 'Apa?' sambil meminum minumannya dengan santai.


Sedangkan keenam orang dihadapannya saling berbalas pandang satu sama lain.


Arina yang sudah mencicipi minumannya dengan tenang itupun akhirnya menaruh kedua tangannya ke atas meja, dengan melipatnya setelah menggeserkan gelasnya untuk menjauh.


Kemudian dia memajukan dirinya ke arah meja, untuk lebih dekat dengan keenam orang itu.


Melihat pergerakan Arina yang mendekatkan dirinya kemeja-pun membuat mereka ikut melakukan hal yang sama.


Hingga sekarang jarak kepala mereka cukup dekat, membuat seperti membuat sebuah lingkaran untuk membuat suatu strategi dalam tim basket sesaat sebelum mereka memulai pertandirngan.

__ADS_1


"Jadi… Eh, kenapa kalian malah deket-deketan?" tanya Arina yang menyadari semua sahabatnya itu mendekatkan posisi kepala mereka padanya.


Merekapun sontak menjauh saat mendengar pertanyaan itu.


"Gue kira tadi lu mau bisik-bisik sesuatu ke kita, makanya kita deketin lu juga!" ucap Sinta yang ada disamping Arina.


Sedangkan yang lain mengangguk setuju dengan apa yang Sinta katakan.


"Oh, nggak kok! Gue Cuma mau gini aja." jawab Arina, dan membuat mereka semua setidaknya sedikit kesal karena kesalah pahaman itu.


Arina terkekeh melihat tingkah mereka, bahkan Cindy, Ardhan dan Mika berpura-pura untuk minum demi menutupi rasa kesal mereka.


"Oke, gini guy's!" Arina mulai untuk menjelaskan kenapa dia memanggil mereka kemari, merekapun kembali fokus dan melupakan kejadian barusan.


"Kita akan melakukan ritual itu selasa malam, gimana? Kalian bisa?" tanya Arina memastikan dulu, kalau semua yang akan mengikuti ritual itu bisa hadir dan tidak memiliki jadwal lain.


Alvaro menaikan sebelah alisnya, mendengar hari yang disebutkan oleh Arina.


"Selasa malem Ri? Malem rabu gitu?" tanyanya, perempuan itu mengangguk membenarkan pertanyaan dari Alvaro.


Sinta melirik pada temannya itu dan bertanya.


"Kenapa selasa malem? Bukannya bisanyanya itu kamis malem, malem jum'at gitu kan?" Pertanyaan itu dia tujukan bukan hanya pada Arina, tapi pada sahabat-sahabatnya yang lain yang mengangguk membenarkan.


Membenarkan bahwa biasanya hal-hal mistis itu dilaukan saat kamis malam atau malam jum'at.


"Nggak, Ta. Bukan malem jum'at, tapi selasa malem." jawab Arina.


Tapi perempuan itu tidak menyertakan alasan kenapa malam rabu yang dia pilih dan bukan malam jum'at.


Tapi apalah daya mereka yang tidak mengetahui apapun? Maka Mika dan yang lainnya hanya bisa mengangguk mengiyakan permintaan Arina itu.


"Jadi gimana? Kalian bisa?" tanya Arina lagi, yang menganggap permasalahan malam jum'at dan selasa malam itu sudahh selesai.


Dia menatap pada sahabat-sahabatnya secara bergiliran.


"Gimana Ta?" tanya Arina, setelah dirasa tidak akan ada yang berinisiatif untuk menjawab pertama.


Maka dia lebih memilih untuk menanyakan secara satu per satu kepada mereka.


Sinta hampir tersedak minumannya saat secara tiba-tiba Arina yang duduk di sampingnya bertanya padanya.


Sinta menaruh gelasnya dan terbatuk untuk beberapa kali, setelahnya dia menatap pada Arina yang ternyata masih menunggu jawaban darinya. Sinta pun menyanggupinya dan menjawab.

__ADS_1


"Iya, gue sih bisa-bisa aja!"


Arina mengangguk mendengar jawaban pertama.


Kemudian perempuan itu menatap pada Cindy yang ada disamping Sinta.


"Gimana Cin, lo bisa gak?" tanya Arina pada perempuan itu, Cindy tidak harus menunggu untuk menjawab pertanyaan itu karena dia langsung menganggukkan kepalanya menyetujui usulan Arina.


Setelah itu, barulah giliran Alvaro untuk menjawab apakah dirinya bisa ikut dimalam selasa nanti?


"Al, gimana? Apa ada latihan basket?" tanya Arina yang takut kalau sang ketua basket itu memiliki jadwal bersama timnya malam itu.


Alavaro mengangkat tangannya kearah Arina, meminta waktu untuknya bertanya pada beberapa temannya.


Mungkin sekertaris tim yang sekarang dia telepon. Alvaro pun berdiri dari duduknya dan menjauh dari mereka untuk mengobrol dengan orang itu.


Maka Arina melanjutkan pertanyaannya pada Glen yang kini menatap ke arahnya.


"Glen?" tanya Arina, Glen juga melakukan hal yang sama seperti Cindy, dia menganggukkan kepalanya tanpa ragu.


Menjawab pertanyaan Arina dan menyetujuinya. Kemudian perempuan itu menatap pada perempuan yang sedari tadi kelihatan gelisah menunggu gilirannya.


"Mika, gimana? Mau ikut?" Pertanyaan Arina berbeda dengan pertanyaan yang dia tanyakan pada yang lain.


Ada sebuah kata penawaran kembali yang Arina katakan pada Mika, dan membuat Sinta juga Glen megerenyitkan dahi mereka.


"Ah, Ikut! Gue ikut Ri…" Mika menjawab dengan cepat, seakan dirinya ditekan atau di ancam untuk menjawab iya.


Kemudian Arina hanya menganggukkan kepalanya, seraya tersenyum pada Mika.


"Ikut! Tim ga keberatan kalau gue gak hadir!" Alvaro yang sudah selesai dengan teleponnyapun kembali menghampiri meja, dan mengatakan bahwa dia akan tetap ikut meski memiliki jadwal bersama tim basketnya.


"Lu serius, Al?" tanya Cindy yang tidak salah mendengar lelaki itu mengatakan bahwa dirinya akan tetap ikut meski ada jadwal dengan timnya, bahkan tim nya merasa tidak keberatan kalau dirinya tidak datang.


Alvaro mengangguk pada Sinta, "Serius, Ta!" jawabnya. Kemudian perempuan itu melirik pada Arina yang ada disampingnya, tapi sepertinya Arina tidak mempermasalahkan itu.


"Ri! Masa kapten gak hadir dilatihan sih?" tanya Sinta yang merasa keberatan dengan keputusan yang di ambil oleh Alvaro.


"Heh… Terserah gue lah, lagian mereka udah ngizinin kok!" Alvaro yang mendengar kalimat itupun membalas dan mengatakan bahwa itu adalah urusannya, bukan urusan perempuan itu.


Glen yang mendengar nada bicara Alvaro meninggipun hanya menepuk dada lelaki itu.


"Hei! Gue keberatan lah, lu kan kapten tim. Masa iya bolos pas lagi latihan? Kapten macam apa lu?" tanya Sinta yang juga meninggikan nada suaranya.

__ADS_1


Alvaro yang mendengar ucapan itupun tersulut emosi, dia berdiri dari duduknya dengan cepat.


Membuat Cindy, Mika, Arina dan Sinta sendiripun terkejut. Sementara Glen dan Ardhan dengan cepat ikut berdiri, Ardhan berlari untuk memegang bahu Alvaro dan menyuruhnya untuk kembali duduk, begitupun yang dilakukan oleh Glen.


__ADS_2