The Ritual

The Ritual
Bukan Arina


__ADS_3

Malam ini, Glen dan Alvaro memang berniat untuk menginap dirumah Mika.


Mereka berdua berjaga-jaga, takut ada sesuatu hal yang terjadi lagi.


Glen memilih membuat kopi untuk mereka berdua, agar bisa berjaga lebih lama.


Alvaro yang masih duduk disofa, memandangi Mika yang terlelap dengan selimut tebal itu.


Alvaro bangkit dari duduknya, untuk menghampiri perempuan itu.


"Mik, pindah kekamar gih! Nanti malah sakit lagi." Alvaro membangunkan Mika dengan menepuk pelan bahu perempuan itu.


Menyuruhnya untuk pindah kekamar, agar perempuan itu tidak jatuh sakit.


Mengingat tadi siang perempuan itu pingsan akibat tidak sarapan pagi. Alvaro cukup mengkhawatirkan kesehatan teman-temannya.


"Enggg…" Mika sepertinya enggan untuk pindah dari tempat dia tidur, dan justru semakin mengeratkan selimut yang dia gunakan.


Alvaro membuang nafasnya, saat melihat penolakan dari perempuan itu.


kemudian dia melirik Glen yang datang membawakan dua cangkir kopi untuk dirinya dan Alvaro.


Kemudian, Alvaro berdiri dari tempatnya dan berkacak dikedua pinggangnya, "Dia nggak mau pindah!" Jelas Alvaro pada Glen.


Sang wakil ketua osis hanya tersenyum dan menyimpan kedua gelas ditangannya itu ke atas meja.


Kemudian dia menghampiri Mika dan berusaha membangunkannya lagi, sama seperti apa yang dilakukan oleh Alvaro.


Glen menepuk-nepuk pelan bahu Mika, dan membangunkannya dengan pelan.


"Mik! Pindah kekamar ya… Biar kita disini, pintu kamarnya ga usah ditutup." ucap Glen, Mika pun terbangun dari tidurnya dan mengangguk.


Perlahan perempuan itu bangkit dari posisi tidurnya dan berjalan kea rah kamar, tanpa berbicara lagi dengan Alvaro ataupun Glen.


"Dasar, bilang aja kalo lo pengen dibangunin sama Glen!" Alvaro bergumam kecil saat Mika berjalan melewatinya.


Tapi tidak ada satupun dari kedua sahabatnya yang mendengar apa yang dia ucapkan, karena memang dia tidak mau ucapannya itu terdengar.


Kalau tidak, dia akan mendapatkan masalah dengan keduanya.


Mika sudah masuk kedalam kamarnya, dan tidur disana tanpa menutup pintu kamar.


Persis seperti apa yang disarankan oleh Glen.


Sedangkan kedua laki-laki itu duduk diruang tamu dan saling mengobrol untuk menghilangkan kantuk mereka.


Secangkir kopi itu tidak cukup untuk mengusir rasa kantuk, sehinga keduanya kembali membuat secangkir lagi.


Waktu baru menunjukkan pukul 04:00 dini hari, dan keduanya sama-sama memutuskan untuk tidak tertidur setidaknya sampai jam 06:00.

__ADS_1


Mereka kini terdiam memainkan handphone mereka masing-masing, dan tidak banyak berbincang setelah mereka kehabisan topik untuk dibahas.


Teng… Teng… Alvaro dan Glen saling bertatapan saat mereka mendengar suara pagar rumah Mika yang terketuk.


"Ardhan?" tanya Alvaro, dia memiringkan kepalanya dan mengerenyitkan dahi ragu menatap Glen.


Pasalnya ini sudah sangat larut, dan tidak mungkin anak penakut seperti Ardhan keluar dimalam hari, hanya untuk datang kerumah Mika yang berjarak sangat jauh dari rumahnya.


Glen berdiri dari duduknya dan mengangguk.


"Mungkin aja Ardhan kesini dengan taksi." Ucap Glen dengan prasangka baiknya.


Ya… Mungkin saja anak laki-laki itu nekad datang kesana menggunakan taksi, karena dia juga cukup mengkhawatirkan sahabat perempuannya itu.


Saat Glen dan Alvaro membuka pintu masuk rumah Mika, mereka terkejut saat tidak mendapati Ardhan didepan gerbang sana, melainan seorang wanita yang mengenakan jaket hitam dengan rambut panjang yang terurai.


"Arina?" Mata Alvaro menyipit, saat dia melihat perempuan itulah yang kini berdiri disana.


Glen segera berlari ke arah pagar untuk membukakan pagar itu, Dia menatap Arina berdiri dengan kepala yang tertunduk.


Alvaro yang berjalan dibelakang Glen pun menatap pada perempuan itu.


"Ngapain lo malem-malem gini kesini, Ri?" tanyanya pada Alvaro.


Tapi perempuan dengan tubuh mungil itu hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaannya.


Saat dia tidak menemukan siapapun disana, dia kembali menatap perempuan itu


"Lo kesini sama siapa, Ri?" tanya Glen, dia ingin mengetahui dengan siapa Arina datang selarut itu.


"Sendiri!" Itulah jawaban yang didapat keduanya dari Arina.


Hal yang membuat keduanya terkejut adalah jarak yang ditempuh oleh perempuan itu, karena rumah Arina berjarak paling jauh dari semua sahabat-sahabat mereka.


Bakhan dari sekolah mereka.


"Ri, Gue gak nyuruh lo kesini… Kenapa lo dateng selarut ini sih?" Glen memprotes kedatangan Arina yang menurutnya tidak perlu.


Dia memprotes perempuan itu karena dia peduli, dia takut kalau suatu hal yang buruk akan terjadi pada Arina saat dia pergi malam-malam seperti ini.


"Bener kata Glen, harusnya lo gak perlu kesini. Kalau terjadi apa-apa sama lo, gimana?" Sambung Alvaro menimpali dan membenarkan ucapan Glen.


Ketiganya masih berdiri didepan gerbang, dan tidak segera masuk karena percakapan itu.


"Tapi buktinya, gue sampai disini kan!" Arina membalas teguran itu dan mengadahkan kepalanya untuk menatap Alvaro dan Glen.


Kedua laki-laki itu terkejut, saat mendapati sebuah luka goresan yang ada dikening Arina.


Meskipun luka itu sudah tidak mengeluarkan darah, karena mungkin sudah kering beberapa puluh menit yang lalu.

__ADS_1


Tapi luka itu masih terlihat terbuka, membuat Alvaro mengerenyit ngeri, sedangkan Glen menjadi sangat khawatir.


"I-ini kenapa?" Glen bertanya dengan menunjuk luka yang ada didahi perempuan itu.


Arina sepertinya tidak menyadari adanya luka itu dan mengerenyit bingung, lalu dia hendak mengusap luka yang ada didahinya.


Tapi, Glen yang berdiri dihadapannya segera menahan tangan Arina.


"Jangan dipegang! Nanti bisa infeksi." Cegah Glen. Laki-laki itu terdiam beribu bahasa saat merasakan tangan perempuan yang saat ini dia genggam begitu dingin.


Glen memilih untuk menatap wajah Arina, dan dia pun semakin terkejut serta kebingungan saat menyadari bahwa wajah cantik perempuan itu lebih pucat dari biasanya.


Glen melirik Alvaro dan memintanya untuk mengunci kembali pagar itu, dengan memberikan kuncinya pada Alvaro.


Alvaro pun segera menutup pintu gerbang yang terbuka itu dan menguncinya.


Glen membawa Arina masuk kedalam rumah Mika, karena udara diluar begitu dingin.


Alvaro yang selesai mengunci pintu pagar itu segera menyusul Glen dan Arina masuk kedalam rumah Mika.


Saat ini, Arina terduduk disofa dekat pintu, menghadap kearah dapur rumah Mika.


Sedangkan Glen dan Alvaro duduk disofa yang ada di samping sofa Arina, yang mempunyai arah menyamping dari arah Arina.


Alvaro berinisiatif membuatkan susu hangat untuk Arina dan segera menaruhnya dihadapan perempuan itu.


Tapi saat dia duduk disamping Glen, Alvaro menyadari bahwa Arina lebih diam dari biasanya. Sehingga dia berbisik pada sahabatnya itu.


"Glen, perasaan Gue aja atau emang Arina lebih diem sekarang?" tanyanya.


Glen hanya menganggukkan kepalanya, membenarkan hal itu karena dia merasakannya juga.


Keduanya memperhatikan perempuan itu, yang terlihat menatap ke arah depan dengan tatapan yang kosong seperti melamun.


Membuat Glen dan Alvaro saling bertatapan bingung, "Arina… lo gak apa-apa kan?" tanya Glen saat dia merasakan remasan tangan Arina yang mengerat dalam genggamannya yang sedari tadi belum dia lepas.


"T-tolong!" Satu kata itu yang bisa didengar oleh Glen dan Alvaro, yang semakin membuat keduanya kebingungan.


Beberapa saat kemudian, terlihat darah mengalir dari kedua mata Arina seperti air mata yang mengalir begitu saja.


Membuat Glen dan Alvaro lagi-lagi merasa terkejut, mereka terkejut tak henti-henti.


Belum lagi saat Alvaro menyadari, bahwa kaki milik perempuan cantik itu tidak menginjak keatas tanah meski dia berada diposisi duduk.


Belum sempat Alvaro memberitahu sahabatnya, bahwa perempuan itu bukanlah Arina.


Jemari Glen yang bergetar ketakutan, terangkat untuk menghapus air mata berwarna merah itu dari pipi perempuan berwujud Arina.


Detik berikutnya, sosok itu menghilang dari hadapan keduanya, membuat mereka terdiam untuk waktu yang cukup lama.

__ADS_1


__ADS_2