The Ritual

The Ritual
Rumah Cindy


__ADS_3

Mika, Sinta, dan Arina mengikuti langkah Slavia ke arah kamar Cindy.


Ketiganya memang sudah mengetahui letak kamar Cindy, tapi mereka tidak mungkin begitu saja main masuk kedalam kamar orang sakit tanpa izin bukan?


Slavia membuka pintu kamar Cindy dengan perlahan dan mempersilakan ketiga perempuan itu masuk kedalam.


Mereka melihat Cindy tengah tertidur dengan lelap nya di atas kasur, perempuan cantik itu terlihat seperti seorang putri tidur dengan bedcover berwarna gold dan kasur yang besar miliknya.


Jendela kamar itu tertutup, tapi tidak dengan gordennya. Pencahayaan yang cukup dan suhu kamar yang baik, sangat cocok untuk penyembuhan seseorang yang terserang demam.


Sepertinya Ibu Alvaro yang memang berprofesi sebagai perawat itu cukup telaten dalam merawat pasien.


"Kapan dia tidur?" Tanya Mika, berbisik pada Slavia karena takut suaranya membangunkan Cindy yang memang sedang beristirahat.


Slavia kemudian menengok ke arah jam dinding yang ada didalam kamar tersebut, dan mencoba mengingat-ingat jam berapa perempuan yang sudah dianggap kakak olehnya itu tertidur.


"Cukup lama kak. Makanya sekarang aku mau bangunin Kak Cindy! Sebentar lagi kan harus minum obat." Jawab Slavia.


Dia berjalan ke arah ranjang tempat tidur Cindy, dan membangunkan perempuan itu dengan menepuk-nepuk lembut lengannya.


Mika yang memang mau membantu Slavia membangunkan Cindy pun berjalan mendekati ranjang Cindy.


Sementara Sinta dan Arina lebih memilih untuk diam, meski kini keduanya ada disamping kanan ranjang tidur Cindy.


"Cin, bangun dong… Kita semua dateng nih!" Ucap Mika pada Cindy yang perlahan terbangun dari tidurnya.


Perempuan itu terlihat kebingungan saat dia membuka matanya dan melihat keberadaan ketiga sahabatnya didalam kamar miliknya.


"Mika? Sinta? Arina?" Cindy bangkit dari posisi tidurnya dengan perlahan, dibantu oleh Slavia yang duduk disampingnya.


Cindy bersandar dan kembali menatap ketiga sahabatnya yang hanya tersenyum padanya.


"Kalian kapan kesini?" Tanya Cindy pada ketiganya.


Sinta dan Arina mendekati ranjang dan duduk diranjag besar itu seperti Mika dan Slavia.

__ADS_1


Adik dari Alvaro yang memang dewasa itu berinisiatif untuk memberikan segelas air putih pada Cindy, dan menyuruhnya untuk minum sebelum berbincang lebih lama lagi.


"Pulang sekolah, kita-kita langsung kesini. Dibawah juga ada Ardhan sama Glen!" Mika menjawab pertanyaan itu dan memijati kaki Cindy yang terselonjor kedepan.


"Loh, kalian tahu dari mana?" Tanya Cindy. Meski dirinya tahu pasti Alvaro menceritakan kejadian malam tadi pada teman-temannya, karena tidak seperti biasanya mereka datang saat da sakit dihari pertama.


Biasanya mereka akan datang menjenguk kalau salah satu di antara mereka sakit selama tiga hari atau lebih.


"Slavia! Dipanggil Mama!" Terdengar suara teriakan keras dari Alvaro memanggi sang adik yang ada disamping Cindy saat ini.


Saat mendengar panggilan itu, Slavia berguman-guman kesal dan berdiri dari tempatnya untuk kembali turun kebawah.


"Sebentar ya Kak Cindy!" Ucapnya dengan senyum pada perempuan yang sedang sakit itu.


Cindy ikut tersenyum pada gadis itu dan mengangguk mengiyakan, sampai pada akhirnya Slavia kembali menutup pintu kamar Cindy setelah dia keluar dari sana.


"Slavia imut banget sih! Jagain kamu…" Arina yang memang tidak mempunyai saudara perempuan dan sangat ingin memiliki adik perempuan itu, sering sekali merasa gemas pada Slavia.


Sampai terkadang Arina membelikan beberapa barang dan jajanan untuk adik Alvaro itu, hingga keduanya sangat dekat.


"E-eh… Mau kemana?" Tanya Alvaro, langkah gadis itu terhenti dan dia pun berbalik untuk menatap sang Kakak.


"Kerumah lah! Kan Mamah manggil aku." Jawab Slavia, masih terlihat cukup kesal.


Alvaro pun berdiri dari duduknya dan menghampiri sang Adik. Kemudian dia memegang kedua bahu Slavia dan mendekatkan kepalanya pada sang adik.


"Apaan?!" Tanya Slavia.


"Itu… Kamu tuh disuruh anterin itu kekamar Cindy!" Alvaro menunjuk sebuah nampan berisikan bubur, segelas air putih dan beberapa obat yang ada diatas pisin kecil dengan matanya.


"Gak mau! Kakak aja sana! Aku mau ngerjain tugas!" Slavia menyingkirkan tangan Alvaro dari bahunya dan segera keluar dari rumah Cindy.


Membuat ketiga lelaki itu terdiam dan melihatinya sampai dia tidak lagi terlihat dari pintu dan jendela rumah itu.


"Yee… Dasar bocah!" Alvaro menggerutu saat sang adik tidak mau mengantarkan makanan milik Cindy ke atas.

__ADS_1


Kemudian dia menatap pada Glen dan Ardhan yang juga melihatinya saat ini.


"Udah gih anter aja!" Sekarang Glen yang justru menyuruh Alvaro untuk mengantarkan makanan dan obat itu pada Cindy, dengan sebuah senyuman yang menyeringai.


Seperti seorang kakak senior yang sedang mengerjai juniornya.


Ardhan yang ada disebelah Glen hanya tertawa dengan lepas, mengetahui nasib kurang beruntung Alvaro.


"Emang kalian gak mau ngomongin masalah tadi malem?" Tanya Alvaro yang langsung membuat keduanya terdiam.


Dia menggunakan jurus jitu nya agar bukan hanya dia yang masuk kekamar Cindy, selain itu memang tujuan mereka kesini adalah untuk membahas permasalahan malam tadi.


Ardhan berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah pintu lalu menutupnya, kemudian berbalik menghadap Alvaro.


"Ayo!" Ucapnya. Glen yang sebelumnya masih terduduk itupun mau tidak mau bangkit dari posisi nyamannya, dan mengambil nampan yang tersimpan diatas meja.


"Nah gitu dong! Ardhan bawa keranjang buahnya!" Alvaro yang sudah berjalan menaiki tangga-pun mengingatkan pada Ardhan untuk tidak lupa membawa buah yang sudah mereka beli untuk Cindy.


Ardan berbalik dan kembali berjalan ke arah ruang tamu untuk mengambil keranjang buah, sementara Alvaro dan Glen sudah terlebih dahulu naik kelantai dua.


Tok… Tok… Tok… Alvaro mengetuk pelan pintu kamar Cindy.


"Masuk aja!" Ketiga lelaki itu bisa mendengar suara Sinta yang menyuruh mereka masuk.


Alvaro pun dengan perlahan membuka pintu kamar Cindy, mendapati sahabat kecilnya itu tengah menangis memeluk Arina yang duduk disampingnya.


Sementara Sinta dan Mika mengusap-usap kaki dan lengan Cindy.


Sinta menengok untuk melihat siapa yang datang, dan matanya bertemu dengan Alvaro yang bertanya.


"Dia kenapa?" Tanpa bersuara. Dan jawaban yang diberikan Sinta hanyalah menyuruh mereka untuk masuk kedalam kamar tersebut.


Alvaro, Ardhan dan Glen pun akhirnya masuk kedalam kamar Cindy.


Glen menaruh nampan yang dia bawa ke atas meja belajar Cindy yang ada dipojok ruangan, begitu juga dengan keranjang buah yang Ardhan bawa.

__ADS_1


__ADS_2