
Setelah pulang sekolah, sesuai dengan apa yang mereka bicarakan tadi saat istirahat.
Mereka semua akan menengok Cindy dan membeli beberapa buah segar untuknya sebagai oleh-oleh.
Mika, Sinta, Ardhan dan Arina pergi kerumah Mika menggunakan mobil milik kakak Sinta yang hari itu menjemputnya kesekolah, sungguh kebetulan yang tidak disengaja.
"Jadi, aku kesini Cuma jadi supir?" Tanya Lelaki yang memakai jas hitam yang saat ini sedang mengendarai mobil tersebut.
Sinta yang duduk disebelah Kakaknya tersebut hanya tertawa ringan, lalu memeluk lengan sang kakak saat mobil itu berhenti karena lampu merah.
"Tapi Cindy lagi sakit Kak… Masa aku gak nengokin dia?" Sinta memberikan sebuah alasan agar sang Kakak tidak marah padanya.
Meskipun dia memang tidak benar-benar marah, dia hanya mengatakan itu sebagai candaan saja.
"Okay, Okay… Aku tungguin sampai pulang apa gimana nih?" Tanya Kakak Sinta.
Saat ini mereka sudah berada diperumahan dimana Cindy tinggal, hanya beberapa belokan lagi mobil itu sampai ditujuan.
"Boleh, tapi kalau Kakak ada perlu… Mending gak usah nungguin aku ya! Aku bisa pulang bareng yang lain kok." Jawab Sinta.
Mobil itupun berhenti tepat didepan rumah mewah milik Cindy, sang Kakak yang sedari tadi focus pada jalanpun akhirnya bisa melihat wajah sang adik yang sebenarnya duduk disampingnya.
"Okay, kamu pulang hati-hati ya. Aku ada meeting setengah jam lagi."
Sinta mengangguk mengiyakan sang Kakak. Dia tidak bisa untuk memaksa Kakaknya untuk menunggunya, sedangkan ada pekerjaan yang harus dilakukan Kakaknya.
"Kakak hati-hati ya!" Ucap Sinta, kemudian dia membuka pintu mobil dan keluar dari dalamnya.
Mika, Arina dan Ardhan pun ikut turun saat perempuan itu turun, mereka juga tidak lupa mengucapkan terimakasih saat mereka turun dari dalam mobil milik Kakaknya Sinta.
"Oke Bye!" Ucap lelaki itu pada adiknya. Sinta tersenyum dan mengangguk seraya melambaikan tangannya saat mobil itu perlahan pergi dari hadapan mereka.
Alvaro dan Glen yang menggunakan motor sudah berada disana terlebih dahulu.
Keduanya memarkirkan motor mereka dirumah Alvaro yang memang bersebelahan dengan rumah Cindy.
Mika, Sinta, Ardhan dan Arina terdiam didepan pagar rumah Cindy, menunggu Glen dan Alvaro yang sekarang berjalan menghampiri mereka.
"Orang tua Cindy ada, Al?" Tanya Sinta saat dia tidak melihat adanya tanda-tanda aktivitas didalam rumah Cindy.
Alvaro menggelengkan kepalanya dan membuka pintu pagar rumah Cindy, jawaban tersebut cukup membuat kelima sahabatnya terkejut.
__ADS_1
"Dia sakit, terus dirumah sendirian?" Tanya Ardhan yang tidak habis pikir.
Orang tua mana yang akan meninggalkan anaknya yang sakit sendirian didalam rumah? Apalagi yang mereka tahu, Cindy adalah anak tunggal.
Apa yang ada dipikiran orang tua Cindy? Itulah pertanyaan yang mungkin muncul dikepala salah satu dari kelima orang yang terkejut itu.
"Nggak kok, Dhan!" Jelas Alvaro. Dia masuk terlebih dahulu kedalam pekarangan rumah Cindy, dan diikuti oleh sahabatnya yang lain.
Alvaro kemudian menutup kembali pintu pagar rumah Cindy, sebelum akhirnya berjalan menuju rumah mewah itu.
Langkah kaki Alvaro terhenti saat dia berada disamping sebuah pohon pinus yang besar, kemudian dia berbalik untuk menatap teman-temannya.
"Disini, Cindy teriak kemare! Dan gue yakin, suara itu berasal dari balik pohon." Jelas Alvaro.
Arina yang berdiri disamping Glen pun ikut menatap ke arah pohon tersebut dan terdiam dengan cukup lama.
"Kak Alvaro!" Suara teriakan dari seorang perempuan membuat mereka semua menatap pada balkon rumah Cindy.
Seorang anak perempuan mengenakan seragam SMP pun terlihat melipat kedua tangannya kedepan dengan sebal.
Alvaro tersenyum dan melambaikan tangannya pada sang adik yang ternyata ada disini.
Alvaro mengira bahwa yang menjaga Cindy adalah Ibunya, tapi ternyata sang adiklah yang ada menemani Cindy.
Anak perempuan bernama Slavia tersebut tersenyum membalas Mika kemudian mendelik pada sang Kakak.
Dia kembali masuk kedalam rumah untuk turun dan membukakan pintu untuk mereka semua.
"Kok kamu ada disini sih, Dek?" Tanya Alvaro yang masuk kedalam rumah Cindy begitu pintu itu dibuka.
"Permisi…"
"Permisi!" Salam Ardhan, Sinta, Mika, Glen dan Atina saat mereka masuk kedalam ruang tamu rumah tersebut.
"Duduk aja Kak!" Slavia mempersilahkan seluruh teman dari Kakaknya itu untuk duduk disofa.
Sementara dia masih berdiri dihadapan Alvaro yang masih menunggu jawaban dari pertanyaan yang belum dijawab tersebut.
"Mama lagi masak dirumah, katanya mau masakin bubur buat Kak Cindy. Jadi aku yang disuruh tungguin disini!" Jawab Slavia seakan kesal kalau dia diberi tugas untuk menunggui orang sakit.
"Gak ikhlas nih?" Tanya Alvaro yang melihat kekesalan sang adik. Perempuan yang tingginya hanya setinggi dada Alvaro, bahkan kurang dari itupun menggelengkan kepalanya dengan cepat dan mengibaskan kedua tangannya.
__ADS_1
"Nggak kok! Cuma bosen aja." Sergahnya, kemudian dia berjalan ke arah dapur untuk membawakan minum yang akan dia berikan pada semua teman Alvaro.
Alvaro hanya tersenyum dan mengangkat kedua alisnya pada sahabat-sahabatnya yang duduk, melihati kedua saudara kandung itu berbincang.
"Bentar ya guy's!" Alvaro meminta sahabat-sahabatnya itu menunggu sebentar, kemudian dia berjalan kedapur untuk menghampiri sang adik seraya bertanya dengan cukup keras.
"Eh, Cindy dimana?" Tanyanya. Obrolan keduanya masih bisa terdengar ditelinga Ardhan, Sinta, Mika, Glen dan Arina.
"Tidur!" Jawab ketus sang adik yang juga tak kalah keras dari suara Alvaro.
Dan ******* kecewa dari Alvaro bisa didengar oleh kelima orang itu. Membuat mereka saling bertatapan, kecuali Glen yang terdiam memejamkan mata, bersandar pada kursi dan melipat kedua tangannya kedepan.
Ardhan melihat gerak-gerik tak biasa dari lelaki itu, kemudian dia berbisik pada Sinta, untuk menanyakan alasan kenapa Glen seperti itu.
"Ta! Kenapa Glen kaya gitu? Apa dia lagi sakit?" Tanya Ardhan.
Sinta yang tidak begitu tahupun hanya bisa menggelengkan kepalanya, tapi tidak seperti Ardhan yang tidak langsung bertanya pada orangnya.
Sinta memilih untuk langsung bertanya pada Glen. "Len? Lu baik-baik aja?" Tanya Sinta.
Glen membuka matanya saat mendengar pertanyaan itu, kemudian dia menganggukkan kepalanya.
Sementara Mika dan Arina melirik secara serempak untuk melihat lelaki bergelar murid terpintar disekolah itu.
"Cuma ngantuk aja." Jelas Glen, saat dia melihat ada raut keraguan pada semua sahabatnya akan jawabannya itu.
Alvaro datang dengan nampan berisikan gelas dan air sirup yang dibuat oleh sang adik, sementara Slavia datang dengan beberapa kue yang sudah dia tumpahkan ke atas piring untuk mereka semua.
"Duh, gak perlu repot-repot, Al!" Ardhan berujar seraya langsung mengambil gelas sirup tersebut, dan meminumnya seperti orang yang kehausan beberapa hari.
Slavia hanya tersenyum melihat tingkah Ardhan. Kemudian dia berdiri untuk kembali kedapur.
"Disini aja Slavia, ngobrol bareng kita-kita!" Ajak Sinta pada perempuan itu.
Slavia yang memang cukup dekat dengan Mika, Sunta, Arina dan Cindy itu tidak merasa canggung saat berbincang, bahkan ikut gabung dengan sahabat Alvaro.
"Aku mau lihat kak Cindy dulu, Kak." Tolak Slavia, dia memang harus menunggui Cindy yang sedang sakit itu karena sang ibu sudah menitipkannya padanya.
Slavia akan melakukan tanggung jawabnya dengan penuh, sehingga meskipun ada beberapa urusan yang lebih menyenangkan dari tugasnya itu, dia tetap tidak akan meninggalkan tugas itu.
"Nah kebetulan banget, kita mau jenguk! Kita bertiga boleh ikut gak?" Tanya Mika yang berdiri dari duduknya.
__ADS_1
Slavia sempat melirik pada Alvaro, memberikan sinyal pertanyaan 'Apakah boleh?' pada sang Kakak.
Alvaro mengangguk mengiyakannya, maka Slavia pun ikut mengangguk dan memperbolehkan Mika, Sinta juga Arina ikut kekamar Cindy yang ada dilantai dua.