The Ritual

The Ritual
Peringatan


__ADS_3

"Gimana hiks… ini Ri?" Cindy bertanya pada Arina ditengah tangisnya.


Mereka semua hanya terdiam melihati keduanya, Alvaro yang sudah lama tidak melihat tangisan Cindy hingga tersedu-sedu seperti inipun mulai khawatir.


Tapi dia tidak bisa berbuat apapun dan hanya bisa terdiam menunggu penjelasan yang pastinya akan dia dapatkan.


"Oke Cin, sekarang tenang ya… Lo harus sehat dulu, udah gitu baru kita semua cari tahu siapa hantu ini. Ya?" Arina menjawab pertanyaan Cindy dengan tangan yang mengusap-usap surai panjangnya.


Arina juga sempat melirik pada Glen, Alvaro dan Ardhan yang berdiri diujung ruangan, bersebelahan dengan jendela besar kamar Cindy.


"Nih, mending sekarang lo minum dulu… Makan terus minum obat ya!" Sinta memberikan sebuah perintah yang terasa seperti saran.


Kemudian dia berbalik untuk menatap pada Glen, dan mengadahkan tangannya, meminta nampan yang sebelumnya lelaki itu bawa kedalam kamar.


Alvaro yang melihat itupun segera mendahului Glen untuk mengambil nampan tersebut dan memberikannya dengan cepat pada Sinta.


Sinta yang menerima nampan itu tidak merasa aneh dengan sikap sigap Alvaro, tapi kecepatan pergerakan lelaki itu hampir saja membuat air yang ada digelas itu tumpah, sehingga dia sedikit memelototkan matanya ke arah Alvaro.


"Sorry!" ucap Alvaro berbisik, Sinta pun memberikan tatapan tajamnya.


Mika membantu Sinta untuk menyuapi Cindy yang duduk disamping kirinya.


Saat Cindy melepaskan pelukannya pada Arina, ketiga lelaki itu bisa melihat dengan jelas betapa merahnya muka cantik perempuan itu, dengan mata yang sembab dan bekas air mata yang masih basah dipipinya.


"Kapan kalian kesini?" Suara serak Cindy pun terdengar ditelinga ketiganya saat perempuan itu menyadari kehadiran tiga lelaki didalam kamarnya.


Perempuan itu berusaha membenarkan posisi duduknya dan mengaitkan rambut panjangnya kebelakang telinga agar tidak menghalangi wajahnya.


Masih ada sisa isakkan yang terdengar dari perempuan itu, dan ketiga lelaki disana hanya mampu terdiam.


"Makan dulu aja ya, Cin!" Ardhan menyuruhnya untuk mekan dan meminum obatnya terlebih dahulu, dan tidak perlu mengkhawatirkan keberadaan mereka semua disini.


Cindy mengangguk dan meminum air yang disodorkan oleh Sinta, dan memakan bubur yang disuapi oleh Mika.

__ADS_1


Saat Cindy makan, Alvaro mempunyai inisiatif untuk duduk diatas karpet yang ada didalam kamar Cindy seraya menunggu perempuan itu menghabiskan bubur buatan Mamanya, maka Glen dan Ardhan pun hanya bisa mengikuti.


Tidak ada perbincangan yang berarti didalam kamar yang sekarang pintunya sengaja dibuka itu, Cindy masih memakan bubur buatan Mama Alvaro sedikit demi sediki karena rasa pahit yang dia rasakan dimulutnya.


Glen, Ardhan dan Alvaro saling melemparkan tatapan dan berbincang tanpa arti, membicarakan game dan permainan sepak bola yang ketiganya senangi.


Sementara Sinta dan Arina terus melihati Cindy yang makan dalam diam.


Akhirnya saat Sinta sudah merasa bosan, dia turun dari atas ranjang dan memilih untuk bergabung dengan tiga sahabat lelakinya yang duduk diatas karpet itu.


Memiliki kesempatan yang bagus, Alvaro pun bertanya pada Sinta dengan suara yang sangat pelan.


"Ada apa sih, Ta?" tanyanya yang masih penasaran dengan penyebab menangisnya Cindy.


Sinta menatap Alvaro dengan berpikir, kemudian dia melirik pada Glen dan Ardhan yang juga terlihat penasaran.


Sehingga pada akhirnya Sinta mau menjelaskan pada ketiga sahabat lelakinya, mengenai alasan Cindy menangis.


"Cindy ngeliat hantu itu tadi malem!" Sinta menjawab dengan ucapan yang sangat pelan, agar Cindy tidak mendengarnya.


"Kapan? Kok Gue gak liat?" tanya Alvaro pada Sinta, dia penasaran kenapa dirinya tidak melihat penampakkan itu dan hanya Cindy yang melihatnya?


Padahal saat Cindy berteriak dan suara ketawa itu terdengar, Alvaro berusaha mencari wujud hantu itu ke segala sisi.


"Kata Cindy, dia melihat hantu itu sebelum lampunya mati. Memang Cindy sempet ngeliat dulu, Al?" Sinta berbalik bertanya pada Alvaro, saat dia tidak begitu yakin mengapa hanya Cindy yang melihat hantu itu sedangkan Alvaro tidak. Alvaro terdiam dan berpikir, mengingat bagaimana detik-detik kejadian itu terjadi.


"Ah…" Alvaro mengangguk saat dia mengingat saat sebelum lampu padam dan Cindy berteriak.


Saat itu Alvaro sempat bingung dengan Cindy yang terdiam dan berdiri disamping pohon besar didepan rumahnya itu, saat itu Alvaro melihat Cindy berbalik dan menatap kearah pohon itu sampai akhirnya lampu padam dan Cindy berteriak histeris.


"Ya… Cindy sempet ngeliat ke arah pohon sebelum lampu padam." Alvaro menjawab dan melirik pada Cindy yang masih makan dengan Mika juga Arina disana.


"Wah… Serem banget!" Ardhan yang hanya mendengar kejadian itupun terlihat ketakutan, padahal dia tidak mengalaminya. Kemudian dia kembali bertanya pada Sinta,

__ADS_1


"Emang hantu apa yang Cindy lihat, Ta? Tuyul?" tanyanya berbisik.


Sinta yang mendengar pertanyaan itu pun memberikan sebuah jitakan dikepala Ardhan, membuat lelaki itu mengaduh dan mengusap kepalanya yang terasa sakit.


"Mana ada tuyul diatas pohon Dhan!" tegur Sinta pada lelaki itu, sementara Alvaro dan Glen hanya tersenyum mendengar ucapan itu.


"Siapa tau Ta! Kita kan gak bisa liat yang gituan? Coba tanya sama Arina, sana! Pasti dia lebih tau." ujar Ardhan yang lumayan kesal karena jitakan itu.


Sinta menggelengkan kepalanya menolak usulan konyol itu, kemudian dia kembali kepertanyaan inti yang sebenarnya Ardhan tanyakan.


"Dia ngeliat cewek rambut panjang, dahi berdarah dan… kuku hitam panjang dengan wajah pucat." Sinta menjelaskan dengan berbisik, tapi dia sendiri merasa ngeri saat menjelaskannya.


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana kalau dirinya yang melihat penampakan hantu itu diatas pohon, dan melihat ke arahnya dengan sebuah senyuman lebar.


"Ahh!" Sinta menutup matanya dan telinganya kemudian meringkuk ke kedua kakinya sendiri, saat dia mencoba membayangkan dirinya menjadi Cindy malam itu.


Ketiga lelaki yang ada dihadapannya hanya memandanginya dengan heran dan saling bertatapan.


"Ta?" panggil Glen pada perempuan yang masih meringkuk ditempatnya itu.


Untung saja Cindy, Arina dan Mika tidak melihat ke arah mereka. Kalau ketiga perempuan itu mengetahui saat ini Sinta sedang meringkuk ketakutan, mungkin permasalahan akan semakin panjang.


Ardhan menepuk-nepuk lengan Sinta agar perempuan itu segera bangkit keposisi biasanya, saat Arina menengok kearah mereka.


"Ta, Ta, Ta… Jangan bikin mereka curiga deh!" Ardhan berbisik ditelinga kanan perempuan itu.


Sinta pun dengan cepat menegakkan badannya dan berakting seperti biasa, seraya melirik pada Arina disaat yang bersamaan dengan perempuan itu, saat yang sangat tepat bagi ketiga lelaki yang mengetahui situasi itu.


"Kenapa Ri?" tanya Sinta, berpura-pura tidak terjadi sesuatu.


Arina pun hanya menggelengkan kepalanya kemudian berdiri dari tempat dimana dia duduk.


Dia menghampiri keempat orang yang sedang duduk diatas karpet dan ikut duduk disamping Sinta.

__ADS_1


"Malem ini, kalian harus hati-hati ya… Gue takut hantu ini adalah hantu yang sama dengan hantu yang mendatangi Mika kemarin." Arina menatap keempat orang yang ada dihadapannya itu dengan serius.


Ardhan dan Sinta terlihat sangat ketakutan saat mendengar peringtan itu, tapi berbeda dengan Glen dan Alvaro yang hanya menghela nafas mereka dengan pelan.


__ADS_2