
Episode 9
Tampak, Demos pun bertahan .....
Flasback off.
Demos menyerang azza yang tampaknya tak bisa menahan kekuatan pedang merahnya itu. Antemos.
Mata Azza terbelalak. Kepala bagian atasnya tertebas dan kini kepala itu terpisah dari tempatnya.
Azza mundur karena hal itu. Wajah milik Demos tampak puas. Dia tersenyum di tempat itu.
'Antemos, aku berhasil menemukannya bahkan pedang ini ternyata terjatuh ke neraka. Ke sebuah dasar neraka yang berisikan beberapa orang yang tak berguna' batin Demos menjelaskan Antemos.
Pada saat itu. Demos yang sudah lulus semua uji coba malaikat yang menyiksanya itu. Tampak, dia pun datang ke sebuah tempat yang di mana dirinya pernah ke tempat itu.
Tidak, sepertinya tidak. Melainkan itu apa yang dia lihat dalam ingatan pedangnya. Chikara.
Lalu, dia pun mencoba mencari pedang itu dalam kesengsaraan sebagai iblis.
Demos menatap azza yang mulai pulih bagian kepalanya yang dia lukai itu.
'Cerdik juga dia. Menggunakan tubuh abadi sebagai roh neraka' batin Demos menatap sinis anak bernama azza.
Azza wa Jall. Tampak balik menatap sembari mengangkat tombaknya itu.
"Orang ini tak main-main lagi. Kita harus melakukan sesuatu," ujar Xavi muncul di leher anak yang sudah mati itu.
Azzam menatap fokus pada lawan.
Kemudian, kedua belah pihak pun tampak melesat maju.
Wuuuush!
Tampak, mereka adu serang di sana.
Trang trang trang trang trang!
Serangan azza terus datang cepat. Namun, musuh juga sama. Dia masih menggunakan pedang Antemosnya.
Wajah milik iblis itu tampak mengeras.
Hyaaaa!
Dia lalu mencoba menebas keras sekali dengan gelombanh kuatnya juga. Kekuatan itu membuat serangan tak terelakkan.
Azza tampak menyilangkan tombaknya itu bersama tangannya.
Blaaar!
Menahan hal itu. Namun, membuatnya harus mundur paksa di tanah itu. Sihir Divine masih nyala. Billy memandang ke arah keduanya khawatir.
'Ini tak boleh berlarut-larut' batinnya sedikit takut.
Wuush!
Tampak, Demos pun maju lagi dengan berteriak.
Hyaaaa!
Trang!
Azza menahannya dengan baik. Kemudian, Demos terus menebasnya. Hal itu membuat azza pun terpental ke belakang lagi.
Azza lalu menyerang dengan sangat lincah maju.
Trang!
Serangannya dari berbagai arah itu. Berhasil ditahan oleh orang ini. Orang itu mengernyit kesal. Dia lalu mencoba menebas azza lagi.
Lalu, kemudian azza berhasil menghindarinya. Azza lalu melompat. Mengambil panahnya dan memanah beberapa anak ke arah orang itu.
Orang itu terbelalak.
Blaaar blaaar blaaar blaaar!
"Sepertinya, sihir ini menguatkan teknik panah api ini," ujar Xavi menyadarinya.
Lalu, tampak ledakan itu musnah. Lalu, sosok musuh pun tampak terlihat oleh semuanya.
Azza bersiap dengan baik. Wuuush!
Demos maju masih dengan antemosnya.
Hyaaa hyaaa hyaaa hyaaa!
Trang trang trang trang!
Azza menahan semuanya. Satu tangannya tampak putus. Lalu, menghilang dan tergantikan dengan yang baru. Kemudian, azza pun coba memukulnya.
Tap!
Namun, ditahan dengan baik oleh iblis itu. Lalu, iblis itu Demos dengan senyum jahatnya itu.
"Aku, akan segera menghancurkanmu!" ucapnya.
Azza kaget. Dia tampak dilempar olehnya lapu dibanting.
Blaaaaaaaaar!
Azza lalu bangkit. Meninggalkan lubang bekas dirinya. Lalu, orang itu maju hendak untuk menusuknya.
Azza yang sudah berdiri. Sangat ingin untuk menahannya.
Dia menggerakkan kepalanya itu ke belakang sangat penuh.
Wuuush!
Lalu, dia pun balik menyerang dengan tombak kegelapannya itu yang sangatlah keras. Lebih keras dari senjata bernama Auxilian Hell lainnya.
Trang!
Tampak Demos menahannya dengan pedang lain.
"Gawat! Dia mulai gunakan senjata birunya itu!" ujar khawatir Xavi.
Billy tampak gemas melihatnya. Dia pun tampak melakukan sesuatu. Membentuk suatu dengan jarinya itu.
__ADS_1
Ngung!
Tampak ruangan itu dipersempit. Membuat Demos pun sebal dengan hal itu.
Dia menatap tak suka pada mahkluk penjagal yang dulunya bawahannya itu.
"Sialan kau!"
Dia marah. Lalu, tampak dari arah lainnya. Melesat beberapa panah api. Dirinya tampak melompat menghindarinya. Akan tetapi ledakan itu cukup luas. Ruangan yang dipersempit itu. Kini, terpaksanya Demos terkena ledakan itu pula.
Blaaaar!
Selang beberapa detik. Demos masih bertahan. Lalu, ruangan itu tampak menjadi semula.
"Ugh!"
Billy tampak bertekuk lurut. Tampak peluh berjatuhan dari kepalanya. Azza menatapnya. Dia lalu menatap ke depan dan maju.
Demos melihat suara angin gerakan dari azza. Lalu, dia yang menggunakan Chikara itu melakukan sebuah tusukan tombak.
Lalu, kemudian dia pun tampak menahan beberapa tusukan lagi. Sebelum dia menepis satu tusukan lagi.
Trang!
Lalu, dia pun tampak menyerang dengan cepat. Silang-silang pedangnya tampak berwarna biru juga.
Blaaaaar!
Azza beraksi bertahan dia tanah Divine mereka. Lalu, azza pun maju lagi.
Hyaaaa!
Demos pun menahannya dengan cepat. Lalu, menepisnya menahannya di tanah. Kemudian ....
Wuush!
Mengeluarkan Antemos lagi dan menebas anak itu.
Blaaaaar!
Anak itu lompat namun bagian atas tubuhnya tak ada. Dia masih bisa bergerak dan terlihat menumbuhkan hal yang tertebas itu lagi.
Demos mendecih tak suka. Lalu, menunggu anak itu pulih.
Azza yang baru pulih. Langsung menggunakan panahnya itu lagi.
Membidik dengan tatapan tajamnya itu.
Azza lalu nenembakkan panahnya itu.
Wung wing wing wing.
Semua peluru itu melesat cepat.
Lalu, dengan lincah sang musuh menghindarinya juga.
Jduaaaaaaar!
Azza tampak bisa bangkit lagi. Dia memegangi tubuhnya yang sakit.
"Haaah haaah haaah haaah!" desahnya.
Tampak, Demos pun bangkit dari ledakan itu. Dia tadi berlindung dengan dua pedangnya itu. Lalu, antemosnya dia hilangkan.
Kemudian, azza melihatnya kini. Azza meluhat Demos berkutik. Dia menunggunya.
Saat ini Demos pun tampak mengubah chikaranya menjadi senjata jarak jauh. Yaitu panah juga.
Lalu, dengan panah itu.
Wuuush!
Trang!
Dia menembaki azza dengan panah itu. Blaaar blaaar blaa blaaar!
Azza terus menghindari dari semua serangan membabi buta itu.
Blaaar blaaar blaaar blaaar!
Azza menatap nyalang pada musuhnya itu.
"Dia berusaha memojokkan kita dengan hal ini," ucap Xavi.
Dibalas pojokkan azza. Sementara Billy tampak berlindung dengan kubah apinya.
Jduaar jduaar jduaaar!
Hyaaa!
Demos terus menyerang membabi buta anak itu. Azza tampak menarik panahnya lagi. Lalu, dia mengarahkan panah ke arah orang itu.
Blaaaaar!
Lesatan yang dibuatnya tampak meledak. Azza lalu menapak berhenti bergerak. Menunggu sang musuh lagi.
"Billy, beraninya kau!" ucap Demos tidak senang.
Dia tampak mengalami luka bakar di tubuh merahnya yang terlihat seperti luka. Namun, luka bakar itu malah berwarna hitam.
Azza menatapnya tak takjub. Lalu, dia kembali menembakkan panah itu.
Wuuush!
Demos terlihat menggunakan Antemosnya itu. Azza lalu paham akan lakukan itu.
Saat itu dia pun maju ke arah kepulan asap itu. Menggunakan tombaknya. Menembus api yang masih berkobar.
Wuuush!
Xavi menatapnya. Sebuah jalan dari tusukan itu. Lalu, terlihat sang musuh yang nampak kaget dan ...
Duaaaaar!
Musuh tampak menahannya dan mental tak terlalu jauh.
__ADS_1
Azza menyerangnya lagi dan dia pun tampak menarik panahnya itu.
Blaaaar!
Menyerang dengan hal yang sama lagi. Kemudian, menusuk dengan tombak kegelapan yang dia dapat dari kekuatan semua penjagal di bawah sana.
Jduaaaaaaar!
Tap!
Xavi melihat sekitar. Lapu, datanglah lawan sangat cepat dari samping.
Azza menatapnya namun dia mental dan kakinya tampak terpotong oleh musuh.
Kraaash!
Orang itu tampak makin kuat, lalu azza pun bangkit dan menahan tebasan Antemos itu. orang itu lalu gunakan Chikara dan dirinya pun imbas tercabik-cabik.
Blaaaaar!
Keduanya maju lagi. Itu artinya azza yang menggunakan panah apinya lagi.
Azza melihat lawannya menembus asap dengan Chikara dalam bentuk tombak itu..
Trang trang teanf trang!
Pertarungan dua tombak pun terjadi. Chikara tampak lebih lincah dan bisa menyerang dengan cepat pula.
Blaaaar!
Membuat orang itu tampaknya berhasil mendominasi.
Trang trang trang teang!
Tangkisan azza tampak tak terlalu tepat. Hal itu membuat azza harus ekstra hati-hati.
Azza pun mundur beberapa saat. Melihat lawannya yang mengganti senjatanya itu.
Azza menembak dengan panahnya lagi.
Duaaar!
Musuh langsung ada di atasnya bersamaan dengan itu. Mata Xavi membelalak lalu blaaaar!
Azza masih bisa menahan dengan tombaknya itu. Dia di bawah orang itu.
Orang itu menatap kaku azza. Lalu, dia pun tampaknya akan mengangkat azza ke atas.
Brak!
Azza malah menendangnya. Dia pun kesakitan. Azza pun mendorongnya. Azza lalu berdiri dan cepat akan menusuknya.
Jduaaaaar!
Tampak lawan ternyata nerada di bawah. Tusukan tadi mengenai sebuah tembok gua. Lalu, orang itu berdiri.
"Jangan anggap enteng aku!" teriaknya.
Azza tak peduli. Azza meluhay sebuah pukulan lurus. Lalu, dia pun dengan kuat bisa tahannya. Lalu, dengan sigap langsung menendang orang itu.
Jduaaagh!
Orang itu kesakitan dan termundur. Azza lalu melompat dan akan gunakan panahnya itu.
Blaaaaar!
Ledakan hebat terjadi. Tampak, Billy melihat adegan itu.
'Kita harus bisa menahannya terlebih dahulu' batin Billy.
Azza lalu ada di sana.
Tap tap tap tap tap!
Lalu, melangkahlah orang itu Demos. Dia tampak tak gunakan senjatanya itu.
"Heh!"
Krak krak!
Dia membuat bunyi dengan gerakan kepalanya.
"Ini akan lebih menyenangkan jika aku menghajarmu!" ujarnya lalu Wuuush!
Duaaagh!
Azza dan yang lainnya kaget. Tampak azza terpukul dengan gerakan yang amat cepat itu.
‘Bebannya selama ini adalah peeangnua. Kecepatan dirinya yang sebenarnya melebihi 100 knot!' Batin Billy.
Uaaaagh!
Tampak, darah terciprat di sana. Dari sang manusia. Demos tampak memegang punggung manusia itu. Azza tampak menyadarinya dan dia pun tampak meninju orang itu.
Jduaaagh!
Orang itu tampak kesakitan dan terpental. Azza pun kembali pulih. Dengan mengelap darah dan dia membidik orang itu dengan panah.
Azza melihat orang itu yang sangat cepat di depannya. Lalu, si saat tepat dia lesakan panahnya.
Blaaar blaaar blaaar blaaar!
Ledakan api di mana-mana. Billy berlindung. Xavi melihat lawan ada di belakang.
Lalu, jduagh!
Naasnya, azza menerima pukulan itu. Kepalanya membentur tanah sangat keras. Lalu, Demos pun tampak akan menendangnya.
"Terima ini!" teriak orang itu keras.
Laku, terlihat hal itu dilihat Billy. Karena dekat dengannya.
Billy pun tanpa sadar berlari ke arahnya.
"Tak akan kubiarkan!"
Bersambung.
__ADS_1