
Episode 10
Billy tampak ubah kedua tangannya itu. Menjadi diselimuti api. Bentuknya menjadi tangan batu api.
Blaaaaar!
Demos dan azza serta Xavi kaget. Billy menahan kekuatan Demos yang kuat itu.
Heh!
Demos terkekeh.
Lalu, dia tampak melesat ke arah lain dari pada mereka dan blaaaaam!
Menginjak kepala dari bocah itu. Membuat Billy pun tampak kesal.
'Sialan kau!' Batinnya marah.
Lalu, Demos tampak menatapnya.
"Tak usah terlalu serius. Hal ini cepat berakhir beberapa kali aku mengalahkannya. Bukan?" ujarnya yang sepertinua sok tahu.
Namun, mata Billy tampak menatap tajam ke arahnya.
Kemudian, bangkit lah lawannya. Demos lantas menghindari sebuah tusukan dan mundur ke belakang. Dia pun bersiap.
Saat itu, Billy tampak persempit ruangan ini. Mata Billy ada banyak itu. Berbentuk miring di sebagian wajahnya itu.
Meenatap tajam ke atas.
Wuuush!
Setelah itu, jatuhlah beberapa orang di sana. Dari atas sana.
Brak brak brak brak!
Demos kaget. Ternyata itu adalah para bawahannya itu. Matanya menatap kesal pada Billy.
Terlihat, semua murirnya itu seperti terpaksa dimasukkan ke tempat itu. Lalu, mereka semua tampak kebingungan.
'Billy sialan itu. Ternyata juga mampu memggunakan sihir pemanggil budak. Dengan banyak luka ditubuhku. Syarat dia mengundang semua bawahanku menjadi terpenuhi. Sialan. Anak ini kenapa bisa secerdas ini?' Batin kesal Demos.
Melihat ada empat orang itu yang heran. Mereka bertanya-tanya. Lalu, melihat tuannya itu.
"Tuan, kami semua krenapa ada di ruangan aneh ini?"
Lalu, beberapanya melihat azza dan rekannnya. Termasuk Billy.
"Sialan, itu pasti ulah Billy!" teriak satu orang lain. Menunjuk ke arah Billy dan azza.
Lalu, Azza tampak mundur. Billy menghampirinya.
"Aku ada ide! Mereka semua yang aku undang. Membuat sihir ini juga melemah. Namun, aku juga membuat empat orang itu melemah. Lalu, dengan teknikmu yang menghisap kehidupan. Kau, bisa menggunakan semua teknik mereka untuk mengalahkan Demos yang mungkin saat ini jadi lebih kuat," jelas Billy.
Azza menatap mereka semua.
Lalu, gunakan lagi tombaknya itu.
Xavi melihat juga.
"Kita harus melakukannya dengan cepat atau lambat?" tanya Xavi.
"Itu tergantung pada urusan musuh," jawab azza.
Tampak musuh meereka sedang berunding. Demos tampak perintahkan mereka maju satu per satu. Untuk membuktikan sesuatu.
"Ayo!"
Azza lalu bersiap lagi. Dia pum tampak menghadapi salah satu bawahan Demos itu.
Bawahan Demos itu punya kekuatan api dengan merubah beberapa bagian tubuhnya menjadi tulang belulang.
Blaaaar!
Orang itu juga ternyata kuat. Dia membakar sebagian tubuh azza. Dengan ini azza harus berhati-hati.
Groaaar!
Orang itu tampak menyeringai sangat seram. Lalu, dia menyemburkan apinya itu.
Blaaaar!
Azza menahan api itu dengan tombaknya itu.
"Kekuatan orang ini adalah api. Dia bisa menjadi seperti mode setan. Mode yang membuatnya menjadi ganas dan mematikan," jelas Billy.
Wuuush!
Lalu, saat api reda. Tertembak beberapa panah api dari dalam asap itu.
Blaaar balar balar blaar!
Panah itu melesat namun tak sebesar yang biasanya. Lalu, Azza un tampak melompat dari dalam sana dan menyerang dengan suatu tusukan. Namun, orang itu tampak menahannya dengan sebuah sambaran api. Tembok yang hampir sama seperti milik pelindung api milik Billy.
Billy juga menatapnya serius. Lalu, Azza menembusnya kini dengan pukulan. Orang itu mundur.
Blaaar!
Azza hancurkan api itu. Lalu, dia pum maju ke arah musuh. Musuh tampak menghindari. Xavi tampak melihat sesuatu di dada miliknya. Semacam lubang itu.
__ADS_1
Lalu, dengan sengaja. Dirinya berubah menjadi lengan lagi. Karena jaraknya dekat. Lengan yang merupakan adalah nentuk lain Xavi selain wajah menyeramkan itu.
Dia tampak menusuk lubang itu.
Blaaaar!
Api tampak membludak. Musuh sepertinya lebih kuat. Azza yang merasa khawatir pun mundur. Xavi kembali seperti semula.
Billy menghampiri mereka.
"Tenang saja, jika kelemahan itu tersentuh. Apinya memang tambah besar. Tapi, itu juga membuatnya menderita. Jika kau bisa menyentuhnya lagi. Dia akan mengalami penghancuran diri secara perlahan. Itu jika kau bisa menyentuhnya berkali-kali," jelas Billy.
Azza mengangguk.
'Aku akan menusuk dan menghancurkannya saja' batinnya.
Wuuush!
Orang itu kini menyembur api. Azza pun lompat ke atas. Lalu, orang itu melihat azza yang ada di atas. Dia menembakkan beberapa api dalam bentuk kecil dan acak itu.
Trang trang trang!
Lalu, tampak dari atas. Azza tampak panahnya untuk menyerang.
Duaaaar!
Azzam napak pada tanah yang sudah gosong itu. Bersiap lagi. Lalu, orang itu maju dan menyembur lagi.
Blaaaaar!
Azza pun tampak termundur karenanya.
Lalu, orang itu tampak melompat. Azza sendiri langsung menghindari dari sambaran lagi. Berguling lalu dia pun lompat ke arah musuh.
Musuh menahan tusukan itu dengan apinya. Azza termundur karena apinya itu juga mendorongnya perlahan.
'Sialan, ini tak akan habis' batin Xavi.
Lalu, beberapa saat. Tampak ditembakkan banyak api-api berbentuk acak lagi.
Azza pun menghindari dan terus berguling-guling ke sana kemari.
Blaar balar blaar blaar!
Dalm satu saat. Dia pun menembakkan panah apinya.
Blaaaar!
Ledakan besar terjadi. Azza mundur. Lalu, tampak sang musuh pun meluhatnya dengan jelas setelah itu. Musuh tampak mengganas dan menyemburkan apinya itu. Merambat.
Azza melompat ke atas. Lalu, menggunakan panahnya itu.
Lalu, memegang tombaknya lagi menahan api lagi.
Blaaar!
Dia terseret di atap gua karena api itu. Lalu, dia pun jatuh dan bisa mendarat.
Dia lalu lari. Musuhnya lalu menahannya dengan api lagi. Namun, kali ini lebih kuat lagi.
Sring. Api itu tertembus lapu, dengan cepat Xavi bersiap menjadi tangan di bagian tubuh milik azza.
Hyaaaa!
Azza mencoba menebas. Namun, orang itu tampak menunduk. Saat itu tangan miliknya yang dikendalikan oleh Xavi.
Meninju kepalanya. Hal, itu tampak menahannya. Beberapa lawannya juga khawatir.
‘Selama ini dia menyembunyikan tangan itu?' batin Demos geram.
Blaaar!
Lalu, bangkit lagi sang musuh. Musuh pun menyemburkan apinya lagi.
Blaaaaar!
Lalu, azza tampak melompat ke atas menghindar. Kemudian, azza pun menembakkan panahnya itu.
Wung wing wing wing wing!
Jduaaar heuaar jduaaar!
Sang musuh tak apa.
Namun, tampak azza berada di belakangnya. Lalu, dia berbalik akan tetapi. Dia terpental bahkan dengan itu tertusuk dengan pukulannya.
Blaaar.
Apinya tampak semakin memerah dan besar. Dia lalu bangkit. Beberapa rekannya tampak menatapnya dengan berbagai ekspresi.
Lalu, mereka kembali bertarung. Orang itu gunakan api besarnya itu untuk menyerang ke segala arah. Azza mundur. Lalu, azza maju lagi. Dia pun berusaha menembusnya. Namun itu tak terlalu bisa.
Blaaaar!
Azza pun bertahan dengan bak di tempat. Akan maju.
Lalu, kembali Xavi bersiap dengan baik. Lalu, mereka pun maju.
Wuuuush!
__ADS_1
Blaaaaar!
Saat berhasil di depannya. Xavi ingin kembali menyentuh lubang itu. Lalu, kemudian.
Jduaaaaar!
Api semakin besar pada tubuh musuh. Azza terpental. Kini, terlihat sangat benar-benar lain pada musuh itu.
Tap!
Setelah tergeser akhirnya azza pun bisa berhenti. Azza lalu mencoba menembakkan monster api itu yang kini seperti kesakitan di sana.
Groaaarg!,
Blar blar blaar blaaar!
Namun, karena apinya itu. Sepertinya tak cukup menembus tubuh aslinya itu.
Azza menatap penuh konsentrasi. Lalu, datang api menyambar. Dia lompat. Lalu, api beberapa kali terus menyambar dari musuh itu.
Kemudian, saat akan menyerangnya. Billy tampam menghampiri mereka.
"Jangan terlalu terburu-buru. Jika kita menyentuhnya lagi. Mungkin hasilnya akan malah tambah kuat. Lebih baik gunakan serangan kuat. Tuk hancurkan tubuhnya saja," saran Billy.
Azza pun mengangguk. Dia lalu genggam tombaknya itu lagi. Berkonsentrasi pada tubuh tulang itu. Beberapa tulang mencair lagi.
Blaaar!
Api besar menyerang azza. Azza lalu menembusnya dengan tombak.
Blaaar!
Lalu, dia pun tampak berhasil menahannya. Api lagi dan lagi terus saja menyambar.
Demos menatapnya dengan sedikit kesal.
Lalu, terlihat. Kembali lagi pertempuran.
Di mana azza yang berhasil menebas tubuh itu.
Jrasssh!
Tulang punggungnya tampak patah. Namun, dia masih bisa berdiri utuh. Musuh pun berteriak. Membuat api yang mentalkan apa pun dan menghentak ke segala arah.
Bwooosh!
Semua orang menahannya. Lalu, azza tampak kini ternyata menarik kepalanya langsung dengan sekuat tenaganya. Dibantu dengan tangan lain milik Xavi.
Hyaaaa!
Blaaaaaar!
Musuh sepertinya sudah kalah di sana. Kepalanya tampak penuh asap di tangan milik azza itu. Lalu, api lainnya kini mengecil.
Azza tampak menatap ke arah musuh-musuhnya itu. Lalu, satu orang lagi dengan wajah yang hampir sama seperti orang sebelum.
Maju ke arahnya.
Dia tampak keluarkan sebuah senjata tali dengan bola api di pucuknya. Ada dua di sana. Lalu, dia memutar-mutarnya.
Dia tampak tersenyum menikmati aksinya yang tambah spektakuler. Melakukan berbagai macam gaya memutar senjatanya itu.
Lalu, azza pun tampak maju.
Hyaaaa!
Dia akan menusuknya dengan tombaknya itu. Namun, blaaaar!
Tampak, sesuatu seperti monster api itu. Datang entah dari mana. Bentuknya tak terlalu raksasa. Azza dan Xavi menatapnya kaget.
"Tienate : Azabarjua!"
Tienate \= Teknik pengendali monster.
Groaaaarg!
Monster merah yang sepertinya terbuat dari api atau magma itu. Berteriak di tempatnya. Azza pun tampak bangkit lagi. Kemudian, dia tampak mengubah senjata miliknya menjadi bentuk tupang.
Lalu, tombak itu tampak diselubungi api. Beberapa musuhnya tak tertarik dengan hal itu. Mereka tampaknya hanya fokus nenang dan keluar dari sini. Benar! Jika mereka berhasil mengalahkan azza mereka bisa keluar. Syarat kalahnya azza adalah ....
Groaaaarg!
Aza tampak mundur.
"Monster ini bukan monster sembarangan. Aku pernah mendengarnya. Dia dulunya adalah Titan," ujar Xavi.
"Apa itu Titan?"
"Titan adalah monster masa lalu yang kuat. Namun, mereka musnah dan beberapanya dijadikan batu-batuan. Salah satu batu itu ada di neraka. Namun, aku tak pernah melihatnya," jawab Xavi.
"Oh, begitu!"
Azza tampak memutar tombak apinya itu.
Hyaaa!,
Dia lalu maju dan hendak menusuk monsteer itu.
Blaaaaar!
__ADS_1
Ledakan terjadi lagi. Monster itu pun tampak mental sedikit. Lalu, orang itu yang masih menari-nari dengan senjata atau alatnya itu. Tampak tersenyum. Lalu, saat itu dia melompat dan ...
Bersambung.